Karakteristik Rumah Tangga Islami

Yogyakarta, 26 Februari 2012

Kajian manhaj, by : Ustadz Darul Falah

  1. 1.       Memelihara aspek TAUHID

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Turmudzi dari Abu Rofi’ berkata :

“Aku melihat Rasulullah SAW adzan pada telinga Al Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkan.”

:: Hikmah suami mendampingi istri melahirkan :

-          Makin mencintai istri

-          Makin hormat pada ibu

-          Mengadzani dan mengiqamahi anak (waktu anak lahir yang didengar pertama kali adalah kalimat thoyyibah)

  1. 2.       Memperhatikan ibadah dan kepatuhannya kepada Allah

-          Tanamkan kebiasaan sejak kecil

-          Tanamkan suasana saling ingatkan dan menopang

“Perintahkan anak-anakmu menjalankan sholat jika mereka sudah berusia tujuh tahun, dan juga sudah berusia sepuluh tahun pukullah mereka jika tidak mau melaksanakannya dan pisahlah tempat tidur mereka.”

  1. 3.       Menyemai nilai akhlaq Islami : amanah, muraqabah, sidiq, dll

-          Factor yang secara operasional menyebabkan rasa samara dalam rumah tangga

“Faktor yang paling banyak menyebabkan seseorang manusia masuk surge setelah taqwa adalah akhlaq yang baik.” (HR. Turmudzi)

  1. 4.       Penuh perhatian

“Sebaik-baik kamu semua adalah orang yang paling baik perhatiannya terhadap keluarganya, dan aku (Rasul) adalah orang yang terbaik diantara kalian perhatianku terhadap keluargaku.”

  1. 5.       Penuh perhatian dan bersemangat dalam berpartisipasi memenuhi kewajiban-kewajiban dakwah, dan merasa mulia dengan dakwah.

-          Panglima rumah tangga — dakwah

  1. 6.       Memelihara ajaran islam dalam setiap urusan rumah tangga (pakaian, makanan, minuman, tidur, bangun, dzikir, dan aktivitas lainnya)

Imam Malik berkata :

“Sunah Rasul ibarat perahu Nabi Nuh (saat terjadi taufan), maka barangsiapa naik maka selamatlah ia, dan barang siapa tidak naik maka celakalah ia.”

  1. 7.       Menjaga kebersihan dan keindahan rumah

persiapan Menjadi Orangtua

Yogyakarta, 25 Februari 2012

KRPH, by: Ustadz Didik Purwodarsono

 Usia manusia : Kebangkitan  (tunas/muda) – Keemasan (puncak/dewasa) – kehancuran (tumbang/tua)

Usia 40 tahun = punjak kejayaan, kedewasaan. Harus punya cita-cita baru, jihad baru.

-          QS. Ar Rum : 54 […Allah menjadikan kita dari keadaan lemah, kemudian menjadi kuat, lalu lemah (beruban)….]

-          QS. Al Hajj : 5

-          QS. Al Ahqaf : 15

Manusia berusaha meraih :

  1. Segera mensyukuri apa yang diperoleh. Baik itu hasil prestasi maupun dari fasilitas (orangtua)

Kita adalah perintis, bukan pewaris.

  1. Beramal sholeh karena berharap hanya pada Allah. Merubah orientasi harapan. Kalau berharap pada manusia/dunia pasti akan kecewa.
  2. Berdo’a supaya diberi kebaikan/kesuksesan dengan kebaikan/kesuksesan keturunan kita. Aktivitas anak akan berpngaruh pada citra orang tua.

:: Persiapan mendidik anak :

-          Siapkan cita-cita

3 sifat tunas :

1)      Tegak dan runcing (optimis, idealis, kritis)

2)      Melampaui siapa saja (dinamis, kreatif)

3)      Punya rompi (ekslusif dalam rangka protektif, tapi tidak sombong)

QS. 25: [74]

-          Bangun obsesi untuk menjadikan anak sholih/ah. Butuh bapak dan ibu untuk merealisasikan obsesi tersebut. Persiapan tidak hanya untuk menjadi suami dan istri tetapi juga menjadi ayah dan ibu dengan segala konsekuensinya.

{QS. An Nisa :1, QS. An Nur: 26, QS. Ar Rum : 21, QS. Ali Imran : 36}

-          Anak yang sholih, berilah harapan nanti akan menemukan 3 ibu dan 1 bapak.

3 ibu ( ibu kandung, ibu susu, dan ibu guru)

-          Menyambut kelahiran anak dengan optimis. Kehadirannya menjadi harapan, bukan ancaman.

-          Member nama yang baik. Nama yang baik : unsure brand (unik), aksesoris/sebagai mahkota yang indah sehingga anak PD dengan namanya di zaman yang trendi, do’a.

MENDIDIK ANAK – pembiasaan dan pemahaman

Saat itu hanya menjadi pengamat

Tidak biasa. Dan memang tidak boleh dibiasakan. Perempuan makan di dipinggir jalan di tempat terbuka. Kurang good jika dilihat. Banyak orang berlalu lalang.

Brakkkk… terdengar suara tabrakan. Sambil makan kami tengok kanan kiri. Sepertinya tidak jauh dari tempat dimana kami makan. Pandangan saya dan kakak langsung tertuju pada trotoar. Benar saja, ada tabrakan. Terjadi sekitar pukul 14.45 WIB antara bapak penjual roti dengan abang tukang bakso. Perlu diketahui bahwa bapak penjual roti itu menggendong kotak berisi roti dan berjalan dengan menggunakan tongkat yang berfungsi untuk meraba jalan. Sedangkan abang tukang bakso mendorong gerobak yang bagian depannya penuh dengan bakso.

Sontak semua roti bapak penjual roti itu bertebaran, dan ia pun jatuh terduduk. Masih dalam keadaan gemetar. Dalam waktu yang cukup singkat sekelompok anak-anak SMA dan orang-orang di sekitar segera membantu memunguti roti. Kebetulan anak-anak SMA itu sedang menunggu dan mencari turis untuk diajak berbincang-bincang. Mungkin tugas dari sekolah karena mereka masih berseragam.

Kemudian dituntunlah bapak penjual roti itu untuk duduk dulu. Diberinya minum agar tenang dulu. Abang tukang bakso pun mendekat dan segera meminta maaf. Ia menabrak karena tidak melihat ada orang tepat di depan gerobaknya. Sedangkan pandangannya tertutup oleh tumpukan bakso. Setelah dirasa sudah tenang, bapak penjual roti melanjutkan perjalanan menjajakan roti yang sebelumnya sudah diperbaiki kembali susunannya sehingga rapi.

Meski saat itu bapak penjual roti tertabrak dan terjatuh, ia terlihat tersenyum. Ia tidak bisa melihat seperti kita. Warna-warni alam dan semua ciptaan-Nya. Yang ada hanyalah gelap. Namun tidak begitu dengan hatinya. Ia punya semangat luar biasa yang tidak mau kalah dengan kita. Ingin berusaha dan enggan meminta-minta. Padahal bisa saja ada orang yang dengan mudah menipunya. Membeli roti dan tidak membayarkan uang semestinya. Atau bahkan mengambil roti satu bungkus dari kotak gendongannya. Tapi ia yakin bahwa meskipun ia tidak bisa melihat, Allah melihat semuanya..

Ia mendapat diskon saat hari itu tiba. Hari dimana semua anggota badan kita harus mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya. Yaitu diskon untuk sepasang mata. Karena kebanyakan dosa berawal dari mata.

Yuk, keep syukur… ^^

Tarbiyatul Aulad

Mengenalkan Allah Kepada Anak

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar.’” (QS. Luqman : 13)

Landasan utama dalam pendidikan anak-anak adalah menanamkan nilai ubudiyah (peribadahan) kepada Allah dalam hati mereka, serta memelihara dan menjaganya dalam diri mereka. Diantara nikmat-nikmat Allah yang diberrikan kepada kita, adalah bahwa seorang anak dilahirkan di atas agama Islam, agama fithrah. Maka hal itu membutuhkan penjagaan dan pemeliharaan serta senantiasa membantu mereka agar tidak menyimpang dan tersesat.

Dari wasiat Luqman kepada anaknya tersebut dapat diambil pelajaran, bahwa adanya kewajiban untuk menanamkan tauhid kepada anak sejak dini. Bahwa Allah itu Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bahwa Dialah pencipta segala sesuatu, pencipta langit, bumi, manusia, hewan, pepohonan, tumbuh-tumbuhan, sungai dan lain sebagainya. Continue reading

Kisah Teladan

Wanita, Pencetak Generasi Rabbani

By : ustadz Rohmanto, Lc

Berbicara tentang wanita, Islam benar-benar serius dalam menjelaskannya. Satu contoh mudah saja dalam Al Qur’an terdapat satu surat yang bermakna wanita, yaitu surat An-Nisa’. Tak salah lagi, wanita adalah makhluk yang sebenarnya sangat urgent dalam menentukan maju dan mundurnya suatu bangsa. Di tangan merekalah para generasi umat akan mulia.

Cukuplah beliau seorang wanita sahabat, yang bernama Tumadhir binti Amru, dikenal dengan nama Al-Khansa’ menjadi contoh disini. Dialah seorang wanita yang benar-benar telah sukses mendidik para putra penghuni surga, yang luasnya langit dan bumi. Seorang ibu yang diumpamakan seperti pohon rindang yang subur dan menghasilkan buah-buahan yang ranum lagi indah dipandanhg serta enak dirasa. Continue reading

Indahnya mencintai karena Allah…

Alangkah indahnya jika kita bisa mencintai karena Allah. Seperti kisah sebuah keluarga berikut ini :

“Till Death Do Us Apart”Dilihat dari usianya, beliau sudah tidak muda lagi. Usianya sudah senja. Pak Suyatno 58 tahun. Kesehariannya  diisi dengan merawat istrinya yang sakit. Istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Continue reading

Children learn with they live

by : Dorothy Law Nolte

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar mengahrgai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan