Children learn with they live

by : Dorothy Law Nolte

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar mengahrgai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Masa kecilku dulu…

Masa lalu tidak selalu kelabu. Begitulah sekiranya jika mengingat masa kecilku dulu. Ada semangat mengharu biru. Semangat untuk menuntut ilmu. Penuh asa menggapai cita. Di desa yang jauh dari keramaian massa.

Ada rasa rindu untuk bisa hadir ke rumah guru (ngaji). Di lingkungan yang masih kental dengan nuansa NU. Tapi tak mengapa karena toh dulu saya belum mengerti masalah itu. Yang saya tahu adalah berangkat mengaji dan belajar. Belajar tentang sholat, akhlak, fiqh, Al-Qur’an, dll. Masih teringat jelas siapa guru yang mengajari sholat, siapa yang menghadiahi mukena saat pertama kali bisa sholat, siapa teman-teman ngaji, dan semua kenangan bersamanya… Continue reading

Terimakasih, ibu…

Ibu      : “Atik., piye kabare tik…?”

Sy        : “ Alhamdulillah sae bu…”

Ibu      : “Atik sing sabar yo tik… Rizki iku ono sing ngatur yoiku gusti Alloh”

Sy        : “Nggih bu… Insya Alloh, mugi-mugi kulo termasuk orang-orang yang sabar…”

Alhamdulillah…  sore itu kembali diingatkan oleh ibu tentang sabar. Padahal malam sebelumnya telpon dari ibu tidak saya angkat hingga miscall 11x. Baru yang ke-12x nya saya angkat. Awalnya dengan nada agak marah ibu menanyakan kenapa telponnya tidak segera diangkat. Saya memang benar-benar tidak tahu kalau ada telpon dari ibu karena sedang mengajar iqro’ ibu-ibu di sebuah masjid. Baru setelah selesai mengajar saya sadar kalau hp bergetar. Akhirnya ibu memahami kalau saya sedang ada acara… dan yang pasti, tidak jadi marah. Hehe… Continue reading

Berkah kajian atas ujian

Dalam menjalani hidup seringkali kita menemui beraneka ujian. Ujian kenikmatan dan juga kesulitan. Datang silih berganti menghiasi hari. Kuncinya adalah iman di hati. Iman akan memberi warna dalam kehidupan sehingga lebih berarti.

Seperti kisah saya dan kakak sekitar 4 tahun yang lalu ketika sedang ditimpa ujian seperti yang difirmankan Allah dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 155-156 :

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar [155]. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”(sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).[156]” Continue reading

Menata HATI dengan CINTA jauh dari KEGALAUAN

Yogyakarta, 05 November 2011

09 Dzulhijjah 1432 H

KRPH Masjid Mardliyyah UGM, by : Ustadz Syatori A.

Menata HATI dengan CINTA jauh dari KEGALAUAN

Cinta VS Galau

Kenapa ada orang yang galau?. Karena ia lupa akan prinsip-prinsip hidupnya. Prinsip hidup yang harus dibangun:

maa fii qalbii ghairullah (Tidak ada di hatiku selain Allah)

Jika prinsip hidupnya maa fii qalbii ghairullah, maka akan tenang apapun kondisinya.

Orang yang hatinya kosong dari harta bukan berarti ia miskin. Dan apakah orang yang di hatinya hanya ada Allah tidak bisa mencintai?. Tidak juga, tapi itu adalah sebenarnya cinta. Kalau cinta yang sebenarnya itu relatif.

Sebenarnya cinta adalah cinta yang tumbuh dari hati yang di dalamnya hanya ada Allah. Sebenarnya cinta akan terasa kesejukannya pada saat kebeningan hati bertemu dengan kelezatan nafsu. Continue reading

Demikianlah seorang ibu, semestinya…

Kota Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Madinah…

Setelah sekian bulan kepergian sang suami ke medan jihad….

Wanita itu akhirnya melahirkan bayinya. Ia gembira. Sungguh-sungguh gembira. Wajah bayi yang berseri itu hamper saja membuatnya melupakan kepergian suaminya yang entah berjihad di bumi mana… Entah hidup atau gugur sebagai syahid…

Namun saat wajah suaminya sekilas melintas dibenaknya, air matanya nyaris jatuh. “Duhai suamiku… Entah di mana engkau sekarang… Engkau tak melihat putra kita. Lihatlah, betapa bersinarnya wajah itu…, “ gumamnya sendiri menahan tangis yang hampir saja tumpah.

Tentu saja ia tidak mungkin menanti suaminya untuk member nama pada anaknya yang baru lahir itu. Maka ia pun menamai putranya itu dengan Rabi’ah. Yah, bayi mungil itupun resmilah bernama Rabi’ah. Sebuah nama yang kelak melahirkan decak kagum… kelak di kemudian hari. Continue reading

Jangan Mengeluh

Seorang pria datang menemui Yunus ibn Ubaid. Ia mengeluh di depannya.

“Hidupku susah sekali…,”ujarnya. “Entah aku harus berbuat apa. Hidupku benar-benar susah. Dunia ini begitu sempit untukku. Ah, aku tak tahu harus berbuat apa… Duhai, mengapa ini semua terjadi padaku…,” begitulah ia seperti tidak akan berhenti menyampaikan semua keluhannya.

Yunus ibn Ubaid menarik nafas. Sangat dalam.

“Maafkan aku, saudaraku… Bolehkah aku bertanya padamu??” ujarnya.

“Silahkan, Tuan…”

“Bagaimana jika kedua matamu diganti dengan 1000 dinar? Maukah engkau??” Tanya Yunus ibn Ubaid.

“Apa?? Tidak mungkin, Tuan. Bagaimana mungkin aku mengganti kedua mataku hanya dengan 1000 dinar???!”

“Bagaimana dengan kedua telingamu??”

“Ah, mustahil, Tuan. Bagaiamna aku akan mendengar nanti??”

“Kalau begitu, lidahmu sajalah…”

“Tidak, Tuan. Apakah Anda ingin saya jadi bisu hanya karena 1000 dinar??!”

Begitulah Yunus ibn Ubaid terus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Hingga akhirnya, Yunus ibn Ubaid mengatakan, “Lihatlah, saudaraku. Kulihat betapa banyaknya nikmat Allah padamu. Lalu mengapa engkau harus mengeluh hingga seolah-olah tidak lagi ada harapan untuk hidup??”

Pria itu tersipu. Lalu pamit meninggalkan Yunus ibn Ubaid.