Posted by: mediasholeha | November 4, 2014

[TAFSIR QUR’AN] Kebanggaan yang Sirna

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan”.

[QS. Al-Munafiqun: 9-11]

Pada ayat tersebut, cukup jelas, Allah memberikan arahan dan bimbingan-Nya pada hamba-Nya yang beriman –hamba yang selalu mendapatkan cinta-Nya, dan anugerah dari-Nya: agar tetap waspada, tidak tertipu dan terpedaya oleh kenikmatan yang ada disekitarnya, hingga anak sekalipun. Karena ini merupakan diantara hiasan hidup yang Nampak indah dan menyenangkan, yang sering melalaikannya dari ‘dzikrullah’. Allah sangat cemburu pada hamba-Nya, manakala kecintaan yang seharusnya diberikan kepada-Nya, dialihkan pada yang lain. Allah tidak menghendaki kecintaan hamba-Nya pada dunia dan anak-anak, menjadikannya lalai terhadap-Nya. Jika ini terjadi, maka mudah seklai setan untuk membawanya pada arah yang lebih jauh dari jaln-Nya.

Tenggelam, dan berbangga diri pada selain-Nya, merupakan bukan sifat mukmin yang cinta Allah. Ketika diri dan jiwanya, tertutup oleh kecintaan materi-padahal itu sangat dibenci oleh Allah- tanpa ia sadari, ia akan mendapatkan kerugian yang fatal, dalam sebuat transaksi perjalanannya menuju pada rengkuhan belaian kasih sayang-Nya.

Belaian kasih sayang Allah, adalah suatu hal yang niscaya, tanpa itu, manusia tak akan dapat berbuat atau melakukan aktifitasnya dalam meraih keteduhan dan kesejukan jiwanya. Tapi, ruhnya kering. Karena tertutup oleh kabut materi. Sehingga jalan yang lurus tak tampak baginya, kendati dekat dengan penglihatan hatinya. Maka kemudian, ia rawan dalam perjalanannya. Kanan kiri penuh dengan duri dan jurang kenistaan. Sebagaimana janjinya, setan selalu menggoda manusia dari segala arah, guna menggelincirkannya dari berbagai jalan ketaatan, dan setan pun memvariasikan kesesatan dalam berbagai bentuk dan warna bagi manusia. Sehingga, dia dapat menjerumuskan manusia ke dalam berbagai kemaksiatan.

Karena ia tak mungkin berjalan mundur. Nafas yang terhembus sebagai tanda kehidupannya, tidak dapat dikembalikan. Ia harus maju. Sementara kabut materi masih menyelimutinya. Mustahil! Ia akan dapat mencapai tujuan dalam perjalanannya menuju Allah. Oleh itu, menyingkirkan hati dari segala pengaruhnya, adalah langkah efektif menuju Allah. Sikap zuhud yang diterapkan para pengikutnya, merupakan satu gambaran jelas, bahwa mereka menjadikan dunia dan segala pengaruhnya hanyalah sebagai sarana menuju Allah. Sikap zuhud yang diterapkan para nabi dan para pengikutnya, merupakan satu gambaran jelas, bahwa mereka menjadikan dunia dan segala pengaruhnya hanyalah sebagai sarana menuju Allah.

Simak perkataan Isa a.s., “Cinta dunia adalah sumber kesalahan. Di dalam harta kekayaan itu penyakitnya banyak sekali”. Orang-orang yang ada di sekitarnya bertanya, “Apakah penyakit itu?” Beliau menjawab, “Pemiliknya tidak akan selamat dari sifat ebrbangga diri dan angkuh”. Mereka bertanya lagi, “Bagaimana jika bisa selamat?”. Nabi Isa menjawab, “Dia akan sibuk mengurusnya dan terlupakan dari dzikir kepada Allah”.

Jika kita amati dialog di atas, antara Nabi Isa dan sahabatnya, betapa cinta dunia itu dapat merusak hubungan mesra antara kekasih; Allah dan hamba-Nya yang beriman. Bgitu pula, cinta dunia itu dapat merusak hubungan harmonis antar sesama hamba. Ia merasa unggul di antara sahabatnya, merasa paling, dan seterusnya. Hingga suatu ketika hubungan ini rusak, karena merasa lebih baik dari yang lainnya. Atau plaing tidak, ia pasti akan merusak system umat manusia yang telah menjadi sunnatullah. Maka kemudian yang terjadi adalah banyaknya kedzaliman yang muncul di tengah-tengah mereka.

Imam Muslim dalam shahihnya meriwayatkan, “Seorang hamba akan mengatakan, ‘Hartaku! HArtaku!’ padahal yang menjadi hartanya itu hanyalah yang ia makan lalu habis dan yang ia pakai lalu kemudian using. Dan yang ia sedekahkan, akan terus mengalir. Selain itu akan sirna dan ditinggalkan untuk orang lain”.

Harta yang dimiliki, ternyata hanya yang dibelanjakan pada jalan Allah. Sementara yang sempat ia banggakan, bahwa seolah itu segalanya, atau yang ia pakai foya-foya serta untuk memenuhi kebutuhan yang tiada manfaat, kelak sirna. Ia tidak dapat mengambil kebanggaan itu. Semuanya akan diperhitungkan di hadapan Allah. Hakikatnya, harta adalah yang didermakan ke jalan Allah. Meringankan beban saudaranya yang sangat membutuhkan uluran tangan, para fakir dan miskin, yatim dan para janda yang miskin. Ini juga merupakan satu bentuk amal shalih yang pahalanya sam dengan jihad di jalan Allah. “Orang-orang yang berusaha (meringankan beban) wanita-wanita janda dan miskin, seperti orang-orang yang berjihad di jalan Allah”. [HR. Bukhari]

Untuk menjadi mujahid dan syahid, yang merupakan pahala tertinggi di sisi Allah, tidak dapat dimiliki oleh setiap mukmin, namun Allah telah menyediakan kantong-kantong pahala yangs ederajat dengannya bagi hamba-Nya. Di antaranya, sebagaimana penjelasan di atas. Inilah kemurahan Allah yang telah diberikan pada hamba-Nya: agar ketika kembali pada-Nya tetap membawa kebanggaan yang tidak sirna, tapi abadi. Menemaninya dalam menikmati indahnya bertemu kekasihnya, memandang wajah-nya; Allah.

Infak, merupakan transaksi jual beli yang ditawarkan oleh Allah pada hamba-Nya yang beriman: agar selamat dari siksa-Nya yang pedih. Infak, untuk memperjuangkan agama-Nya, meninggikan kalimah-Nya di muka bumi. Para pengikut Rasul, telah memulai dan melakukannya. Mereka bangga dengan amalan itu. Dan berlomba-lomba dalam meraih cinta kekasihnya: dengan infak di jalan-Nya. Mereka menjadikan hartanya ditangannya bukan dalam hatinya. Sehingga mereka mampu menyetir harta/dunia untuk kepentingan agama. Bukan sebaliknya.

Perintah infak ini telah disampaikan Allah, sebelum kesempatan hilang, dan tidak dapat lagi untuk kembali meraih kesempatan itu. Penghalang kesempatan itu adlah ajal: kematian. Sebagaimana ayat di atas, seseorang ketika ajal telah menyapanya, ia berkata, “Ya Allah! Tangguhkanlah ajalku barang sebentar saja, tentu aku akan bersedekah, dan menjadi orang yang shalih”. Mustahil! Karena ketentuan Allah telah dating. Siapa pun, tak dapat menghentikannya. Penyesalan tidak lagi bermanfaat. Kebanggaan akan banyaknya harta, sirna. Kekuatan dan kekuasaan, juga sirna.

Sebagai penutup pada kesempatan ini, kami kutipkan sabda Nabi, “Tiga yang mengiringi mayit. Yang dua kembali, sedangkan yang satu tetap tinggal bersamanya. Mayit diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Keluarganya dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap mengiringinya”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Renungkanlah saudaraku!

 

*dari majalah Swara Qur’an tahun 2003 yang lalu. Semoga bisa menjadi tadzkirah bagi kita semua. Aamiin..

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: