Membangun Kecerdasan Hati (2)

>> Taujih

Seri Membangun Kecerdasan Hati (2)

JANTUNG HATI (1)

Oleh : Syatori Abdul Rauf

“Ingatlah pada setiap diri ada segumpal daging.

Bilamana segumpal daging tersebut baik maka baiklah diri,

namun bilamana jelek maka jeleklah diri.

Ingatlah segumpal daging tersebut adalah “qalbun”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Saudaraku, “qalbun” dalam bahasa kita lebih sering dipahami sebagai hati, namun, tahukah kita, bahwa “qalbun”pun bisa berarti jantung. Hal yang sama kita temukan juga dalam bahasa Inggris, yakni “heart”, yang maknanya bisa hati, bisa pula jantung. Bahasa kita pun sering mempertemukan keduanya “secara mesra”, lewat ungkapan kata majemuk “jantung hati”.

Kalau begitu apa sebenarnya yang terjadi antara jantung dan hati? Adakah keduanya sosok sama yang berbeda atau sosok berbeda yang sama?

Jawaban pertanyaan di atas sangatlah sederhana, tidak rumit, yakni dengan kita menengok sejenak ke belakang, melihat awal penciptaan kita.

Saudaraku, dengan Keagungan dan Keadilan-Nya, Alloh menciptakan kita, bangsa manusia, dengan dua unsur, yaitu jasmani dan ruhani. Tidak akan mungkin ada manusia yang bisa hidup sebagai manusia hanya dengan jasmaninya saja, demikian pula manusia tidak akan mungkin ada dalam hidup ini kalau ia hanyalah seonggok tubuh ruhani.

Jasmani dan ruhani manusia adalah satu senyawa hidup yang tidak mungkin dipisahkan. Manifestasi kesenyawaan seperti ini bisa kita temukan di dalam jantung dan hati kita.

Jantung adalah hati dan hati adalah jantung. Jantung mewakili tubuh jasmani manusia, sementara hati adalah manifestasi tubuh ruhaninya, karena itu jantung bersifat konkrit, nyata dan indrawi, sementara hati sifatnya abstrak, halus dan non-indrawi.

Hubungan yang nyata tak bisa dipisahkan antar jantung dan hati ini, bisa kita rasakan saat hati kita marah. Apa yang terjadi dengan jantung? Bukankah berdegup kencang? Sebaliknya kala hati kita diliputi ketenangan, maka jantungpun akan berdetak tenang.

Sebuah ilustrasi.

Saudaraku, seorang kawan pernah menggambarkan keterkaitan antara jantung dan hati ini seperti sebuah kotak kayu yang berlobang, di dalamnya pasti ada udara.

Nah, kotak kayu tadi, kata beliau,  adalah gambaran jantung kita, sementara udara yang ada di dalamnya adalah hati kita.

Kotak kayu, sebagaimana jantung, ujudnya konkrit, nyata. Sementara udara, sama seperti hati, bersifat abstrak, halus. Sedemikian halusnya udara, hingga kita tidak bisa memeganginya. Begitulah hati, “sulit  dipegangi !”.

Saudaraku, bilamana udara yang ada di dalam kotak ini kita getarkan, maka pastilah kotak itupun ikut bergetar. Demikian pula saat hati manusia bergetar, maka akan bergetarlah jantung. Saat jantung bergetar, maka darah akan membawa getaran tersebut ke sekujur tubuh manusia, hingga akhirnya kita melihat tubuh manusia tadi ikut bergetar.

Begitulah yang kita jumpai saat hati manusia didominasi oleh perasaan tertentu, seperti marah, takut,  benci, juga cinta, rindu, kasih sayang. Semua bahasa perasaan tersebut akan terekspresikan, secara alami, dalam bahasa tubuh yang sulit untuk disembunyikan.

Akal vs Nafsu.

Saudaraku, kalau jantung adalah kotak dan hati adalah udara yang ada didalamnya, maka dimanakah posisi akal dan nafsu ?

Akal dan nafsu digambarkan seperti dua buah senar yang dibentangkan di atas lobang kotak tadi, bilamana sang senar dipetik maka pastilah terdengar bunyi atau suara. Suara yang dihasilkan oleh petikan senar tersebut ada dua macam  yaitu suara senar dan suara resonansi.

Suara resonansi sesungguhnya timbul akibat suara senar menggetarkan udara yang ada di dalam kotak. Artinya suara resonansi adalah suara senar juga, yang jarak antar keduanya sangatlah tidak nyata,  hingga kita menyimpulkannya sebagai bersamaan. Disisi lain kita punya pengalaman bahwa suara resonansi akan selalu  lebih nyaring (kuat) ketimbang suara aslinya.

Demikian pulalah yang terjadi saat salah satu diantara dua senar yang “melintang” di atas jantung hati, yaitu akal dan nafsu, kita dipetik, akan terdengarlah dua suara, suara asli dan suara resonansi.

Petikan Senar Akal.

Saudaraku, saat yang kita memetik senar akal, lewat aktifitas kita berfikir, bertadabbur atau merenung, maka  akan terdengar  sebuah suara, namanya “ilmu”. Manakala suara ilmu ini menggetarkan “udara” hati, maka akan terdengar suara resonansi, namanya “hikmah” yang akan mendorong kita untuk sesegera mungkin melakukan “amal shalih”.  Jarak antara ilmu, hikmah dan amal shalih ini hanyalah sepersekian detik, nyaris tak berjarak. Dan suara (resonansi) “amal shalih” selalu akan lebih kuat bila dibanding dengan suara  akal yang sesungguhnya yaitu ilmu.

Fenomena seperti ini memberikan kesimpulan kepada kita, bahwa bilamana akal “terbentang” kuat di atas jantung hati, dan hatipun bersih tiada bertutup maka suara ilmu dan amal shalih ini akan menjadi suara merdu lagi syahdu yang membuat hidup ini semakin penuh warna dan makna; langkah kaki inipun tidak lagi mengenal letih apalagi henti, terus berlari menuju “maqam” tertinggi, hidup mulia di Sisi Alloh Rabbul ‘Izati.

Petikan Senar Nafsu.

Saudaraku, bila ada orang yang kelewat berani memetik senar nafsunya, maka sebagaimana memetik senar akal, akan terdengarlah dua suara. Suara yang pertama namanya “syahwat”. Ketika syahwat ini teresonansi masuk ke dalam hati akan lahir suara kedua yaitu “amal thalih” (jelek). Jarak antara syahwat dan amal thalih inipun hanyalah sepersekian detik.

Jarang kita jumpai ada orang yang bisa mengontrol dirinya, saat sang syahwat ini sudah menguasai hati.

Saudaraku, di atas kita katakan bahwa orang yang memetik senar nafsunya adalah orang yang kelewat berani. Mengapa? Sebab yang sesungguhnya berhak memetik senar nafsu pada diri setiap manusia adalah “Dia” Sang Pencipta, Penguasa dan Pemelihara nafsu, Alloh Rabbul ‘alamin.

Kapan seseorang dianggap telah memetik senar nafsunya? Saat manusia “memaksakan” diri menyertakan nafsu dalam aktifitas hidupnya, seperti memandang dengan nafsu, berkata dengan nafsu dan seterusnya.

(Bersambung)

Ya Alloh, ampuni kami jikalau selama ini kami kurang sungguh-sungguh menjaga hati ini, membiarkannya dikuasai nafsu dan syahwat. Kuatkan diri ini ya Alloh, agar agar kami selalu berkawan akrab dengan ilmu, hikmah dan amal shalih…

>>Kisah Berhikmah.

Syahdan, suatu hari Ibrahim bin Adham bin Manshur, anak seorang penguasa wilayah Balkh Khurasan pergi berburu. Saat dia berhasil memangsa seekor musang, tiba-tiba ia mendengar sebuah bisikan : “Wahai Ibrahim, untuk inikah kamu diciptakan ?! Untuk inikah kamu diperintahkan ?! Bukan untuk ini kamu diciptakan ! Bukan untuk ini kamu diperintahkan !!”

Bisikan ini begitu menusuk telinganya hingga menembus jantung hatinya. Dadanya sesak. Nafasnya memburu. Penglihatannya nanar. Dia pun sadar bahwa ini adalah teguran.

Ibrahim kemudian turun dari kendaraannya, menuju salah seorang penggembala domba milik ayahnya. Ia mengambil jubah wol milik penggembala dan memakainya. Sementara kuda dan semua yang dimilikinya diberikan kepada penggembala.

Dengan langkah mantap, kakinya bergerak mengarungi padang sahara, menyusuri bebukitan pasir, lembah-lembah terjal, hutan-hutan liar hingga akhirnya sampai di Makkah. Disana beliau hidup bersama Sufyan ats Tsauri dan Fudhail bin ‘Iyadh, menimba ilmu dan hikmah dari kedua beliau dan menghabiskan sisa umurnya dengan ibadah dan amal shalih hingga Alloh berkenan memanggil beliau ditahun 161 H/778 M.

>>SMS Berjawab

Ass, ‘afwan ustadz, saya kadang sedih kenapa setiap dekat dengan keluarga saya merasa jauh dari Alloh, apa karena masih amah? tapi saya juga sering jenuh… 08154077xxx

Kalau begitu jadikan kesempatan bertemu keluarga sebagai sarana mendekatkan diri kepada Alloh, semisal dengan berkhidmah kepada mereka, bersabar atas kekuarangan mereka dan perlahan-lahan mengajak mereka kepada kebaikan. Kalaulah kemudian jenuh, maka maknailah kejenuhan itu  sebagai bukti bahwa kita lemah, sangat lemah, berhadapan dengan perasaan kita sendiri. Mudah-mudahan akan  lahir kesadaran pada diri kita untuk menggantungkan harapan tidak semata-mata pada ikhtiar diri, tapi juga pada Kekuatan dan Kekuasaan Alloh.

Ustadz, bolehkah seorang ikhwan dan akhwat yang belum menikah saling mencintai karena Alloh ? konsekuensinya apa ustadz? mohon penjelasanya. Wasalam. 08122927xxx

Boleh saja saling mencintai dengan syarat bukan karena nafsu melainkan dorongan hati nurani. Konsekuensinya ada dua, yaitu (pertama) saling lindung melindungi  dan bantu membantu dalam beramar ma’ruf nahi munkar dan tunduk patuh kepada Alloh  (lih. QS. At Taubah :  71), (kedua) yakin akan mampu menjaga diri dari berbagai zina, seperti zina mata, telinga, tangan, kaki, hati dan seterusnya.

Responses

  1. kecerdasan pikiran (IQ, EQ dan SQ) perlu disinergikan dengan kecerdasan hati (dzauq, aql, qalb, shadr, fuad, bashirah dan lubb}. Uraian ini saya peroleh dari buku “Laduni Quotient; Model Kecerdasan Masa Depan”.

  2. Ok, siip!
    Syukron..

  3. pembahasan yang menarik.
    makasih ilmunya🙂

  4. Inggih..
    Sami2..:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: