Ibadah tanpa Jiwa

Yogyakarta, 24 Desember 2011

KRPH, by: ustadz Syatori A.

“Ibadah tanpa Jiwa”

Ibadah : pertemuan kita dengan al Khaaliq

Jiwa : kekuatan yang membuat kita saat beribadah serasa bertemu dengan Allah

Pertemuan – ada pada keyakinan – ada pada jiwa

Ibadah yang tidak disertai jiwa : ibadah yang kering, hambar, dan tidak beratsar (pengaruh)

Ibadah sepenuh jiwa bias dilihat dari atsarnya(pengaruhnya).

Agar jiwa menjiwai ibadah kita..

…agar bias beribadah sepenuh jiwa

Yuk kita istirahat dengan shalat !!!

— yang membuat manusia jemu/bosan adalah jiwanya. Perlu direhatkan dengan ibadah, shalat.

Ibadah tidak sekedar gerak raga tetapi juga gerak jiwa.

Ketika Nabi ditanya tentang ihsan : Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah, kalau engkau tidak melihat Allah, sesungguhnya Allah Melihatmu.

Agar bisa ibadah sepenuh jiwa, ikhtiarnya dengan mengihsankan jiwa.

Jiwa yang ihsan : jiwa yang mengalirkan amal yang ahsan (paling baik/sellau baik)

Amal yang ahsan (Al Kahfi, Al Mulk)

Al Mulk :2 “Dialah Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian semua, siapakah yang paling baik amalnya di antara kalian.

–ayat ini ditujukan untuk jiwa

Raga : mengenal mati, jiwa : tidak mengenal mati (peralihan dari alam dunia kea lam akhirat)

Bagaimana untuk mencapai derajat ahsanu amala ?

–di ayat berikutnya disebutkan : wa huwal’aziizul ghafuuru

Jiwa yang ihsan : jiwa yang telah mempersandingkan 2 nama Allah (Al Aziz dan Al Ghafur) dalam mahligai hidupnya.

Al Aziz

Al Quwwatu(Maha Kuat)-at Ta’dhiimu (Ta’dhim)-Quwwatun nafs (jiwa yang kuat)-‘Adamutta’ab (tidak merasa lelah dengan ibadah)

Al Izzatu (Maha Mulia)-at Tausii’ (merasa lapang dalam segala keadaan)-‘izzatun nafs (jiwa yang mulia) )-‘Adamutta’ab (tidak merasa lelah dengan ibadah)

Al Ghafur

Ash Shofiyyu (Maha Mensucikan)-at Tazyiin (menghiasi diri dengan segala kebaikan)-ladzdzatul’ibaadatu (lezatnya beribadah)-‘adamul awaaiqi (tidak ada lagi halangan untuk beribadah)

Al Ghithoo`u (tertutup dari peluang dosa)-ar Rujuumu (menolak dari segala keburukan)-karaahatulma’shiyati (membenci kema’shiyatan)-adamul awaaiqi (tidak ada lagi halangan untuk beribadah)

Penghinaan orang tidak menghalangi kita untuk memaafkannya. Ketika kita tidak merasa letih dan lelah dalam beribadah dan tidak ada halangan untuk melakukannya – ahsanu amala—jiwa ihsan.

Jiwa ihsan : jiwa yang selalu merasakan Keagungan Allah Ta’ala pada setiap peristiwa dan kejadian.

QS. Al Mulk : 23 –sedikit sekali yang bersyukur atas nikmat penglihatan, pendengaran.

Jiwa ihsan : jiwa yang selalu merasa lapang dan luas dalam setiap peristiwa dan kejadian.

Setiap kejadian adalah pemberitaan (dari langit) agar kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Jiwa ihsan : jiwa yang bersih, yang selalu dihiasi oleh lezat nikmatnya ibadah

Obat jiwa—istighfar.

Jiwa ihsan : jiwa yang selalu menolah segala keburukan dan ma’shiyat.

Kenapa menolak??? ANA MUSLIM (saya muslim) “saya harus berbeda dengan yang lainnya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: