FUTUR DAN TERAPINYA

FUTUR DAN TERAPINYA

Oleh Ust. Drs. Syathori Abdurrauf

Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya. Dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (QS 2 : 286).

Sahabat sekalian, marilah kita panjatkan segala puji dan syukur kita kehadirat Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengkaruniakan segala rahmat-Nya kepada kita, baik yang berupa hidayah keimanan yang masih melekat dalam sanubari kita, rizki-kesehatan, makanan dan minuman yang sedang kita nikmati dan kita rasakan, serta berbagai nikmat lain yang kita tak dapat menghitungnya. Wujud syukur kita dapat kita lakukan dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk semakin mentaati-Nya dan selalu berusaha untuk hanya mengingat, tunduk, patuh dan berserah diri pada-Nya.

Sahabat sekalian, pada zaman modern yang membuat lingkungan sekitar kita semakin tak menentu arahnya ini cepat atau lambat akan mempengaruhi kondisi ruhiyah dan kemantapan hati kita. Mengancam kebersihan fitrah kita. Yang pada akhirnya dapat menurunkan dan memporak-porandakan bangunan aqidah kita. Pada masa dimana sebagian besar orang menganut faham hedonisme (serba boleh), materialisme, kapitalisme, dan isme-isme lain yang menjunjung tinggi keduniaan dan mengumbar hawa nafsu. Semua ini adalah fenomena dan realitas disekitar kita. Segala bentuk informasi, tayangan/tontonan, bacaan, sangat mudah untuk diakses dan dinikmati melalui berbagai fasilitas teknologi dan media informasi. Hal-hal tersebut juga semakin mudah, murah, canggih dan dengan pilihan yang sangat beragam. Bersyukurlah  kita yang masih dalam penjagaan dan lindungan Alloh. Dimana itu semua tak melunturkan keyakinan dan kemantapan ruhiyah kita. Dimana itu semua tak mampu menggoyahkan benteng pertahanan iman kita, sekecil dan sesamar apapun. Dimana hati kita tetap terjaga kebersihan dan kesuciannya, dan jiwa kita tetap teguh dengan pendirian kita. Dimana akal pikiran kita tetap jernih dalam segala argumentasinya dan nurani kita masih senantiasa menyuarakan dan membisikkan kebenaran.

Namun sahabat sekalian,  dapatkah kita membayangkan apabila benteng pertahanan iman kita telah luluh lantak dan jebol? Tak mampu lagi mempertahankan derasnya arus perubahan zaman ini. Dimana hati kita telah terkotori nafsu duniawi dan hanya memperturutkan hawa nafsu. Dimana akal pikiran tak lagi jernih karena terkotori oleh berbagai pemikiran yang menyesatkan. Dimana suara hati nurani tak lagi terdengar nyaring membisikkan kebenaran dalam diri kita. Apakah yang akan terjadi? Dalam sekejab saja dapat kita lihat bagaimana ruh-ruh berjalan tanpa nyawa, jazad berjalan sempyongan, jiwa terkulai lemas tak berdaya, akal tak lagi dapat memikirkan sesuatu. Apakah yang akan kita  rasakan? Sungguh sangat memilukan!

Sahabat sekalian, betapa nilai-nilai ajaran Islam yanga selama ini kita geluti, kita cari, kita berupaya keras mengerahkan segala daya, tenaga, biaya untuk dapat meraih dan memahaminya seakan sia-sia. Apalagi untuk mengamalkannya. Sungguh sangat ironis ! Lantas, apabila kondisi di sekitar kita, bahkan diri kita sendiri telah hanyut terbawa arus, apa yang dapat kita lakukan? Jangankan untuk sekedar bangkit dan bergerak, lari meninggalkan itu semua, untuk sekedar bertahan tetap “hidup” di tengah orang-orang hidup namun “tak bernyawa” itu saja apakah kita sanggup?  Tatkala badai ujian, terpaan musibah dan ujian silih berganti menemani hari-hari kita. Dimana rintangan, tantangan, hambatan tak segera lenyap dari hadapan kita. Dimana kekecewaan, kegundahan, kesedihan telah melenyapkan kebahagiaan, ketentraman dan ketenangan. Dimana hati seakan begitu rapuh dan tak sanggup menatap hari depan atau hanya sekedar berharap. Bisa jadi kita yang diberi amanah mengemban misi mulia tuk menjadi rahmatan lil ‘alamiin juga terpuruk dalam ketidakpastian tujuan hidup, atau lemah dalam segala bentuknya (iman, akal, kehendak), atau bahkan diterpa keputusasaan ! Namun, itulah realita sekitar kita yang benar-benar terjadi di hadapan kita. Janganlah sampai penyakit kelemahan dan kejahiliyahan yang hanya akan melemahkan iman kita, merusakkan bangunan aqidah kita dan meracuni jiwa kita itu hadir dalam diri kita, ataupun hanya sekedar mampir ! Ketahuilah sesungguhnya semua itu adalah tipu daya syaithon yang bertujuan untuk melemahkan  iman kita (membuat diri kita futur). Lantas apa yang dapat kita perbuat?

Sahabat sekalian, kita yang diciptakan Alloh sebagai sebaik-baik makhluk, yang diberi-Nya kedudukan paling mulia diantara ciptaan-Nya yang lain, kita adalah Abdullah (hamba-Nya) sekaligus khalifatullah (penguasa dan pengelola alam semesta) adalah yang paling bertanggungjawab atas itu semua. Kita harus bangun dan bangkit dari tidur panjang kita yang terbuai oleh gemerlapnya dunia, memberantas dan menghilangkan semua kezhaliman dan kejahiliyahan itu. Ingatlah kembali segala kelebihan atas penciptaan kita, atas kemuliaan diri kita, atas segala karunia dan nikmat-Nya. Sehingga jiwa kita, hati kita, dapat kembali merasakan belaian angin kesegaran yang menghantarkan pada kebahagiaan dan ketentraman hidup.

Sahabats sekalian, hal yang harus kita lakukan dalam kondisi seperti ini adalah hanya kembali kepada-Nya, Sang Pemilik Kehidupan yang Hakiki ! Apa yang kita lakukan? Mari kita kembalikan ingatan kita, mengembalikan kejernihan akal kita, mengembalikan kesucian dan kebersihan hati kita, mendengarkan kembali bisikan nurani kita, tak dapat tidak, karena tanpanya kita akan terus larut dalam ketidak pastian! yang ada akhirnya semakin menjauhkan kita dari-Nya. Jika tidak maka kita akan benar-benar tersesat dan terjatuh ke dalam jurang yang teramat dalam ! Inilah yang dikehendaki oleh syetan! Jiwa kita resah tak menentu! Naudzubillahi tsumma naudzubillah. Inilah tandanya kita telah terjangkit penyakit futur !

Sahabat sekalian, untuk kembali kepada-Nya, untuk kembali menggapai keridhoan-Nya, tak lain tak bukan kita harus belajar ! Kita mulai lagi meniti tahapan tarbiyah kita, mengoptimalkan proses belajar kita, karena dengan belajarlah kita menjadi tahu dan mengerti akan sesuatu.  Hanya dengan belajarlah kita dapat bangkit kembali dari keterpurukan! Lalu proses tarbiyah yang seperti apakah yang kita masuki untuk kita tempuh dalam belajar ? Medan itu adalah :

Pertama, Tholabul ‘ilmi, dengan menuntut ilmu akan mampu membimbing kita untuk selalu di jalan yang benar.  Yaitu belajar ilmu tauhid, syar’i dan syir’i/qolbi (minimal). Dengan ilmu tauhid, kita akan mempunyai pemahaman yang benar terhadap Alloh hingga dapat mengingatkan diri kita akan keberadaan Alloh dan segala Kebesaran dan keAgungan-Nya, atas segala ciptaan-Nya, yang akan membawa kita untuk selalu mensyukuri segala nikmat dan karunia-Nya, hingga akan semakin mendekatkan diri dan hati kita kepada-Nya, hingga kita akan semakin taat, tunduk, patuh dan yakin akan Kebenaran Firman-Nya. Dengan ilmu syar’i, kita akan tahu hukum-hukum terhadap segala aktivitas yang akan kita lakukan, hingga dapat membedakan mana yang diharamkan dan mana yang dihalalkan oleh-Nya, mana yang maksiat/dosa, mana yang membawa kepada kebaikan dan keadilan/kemashlahatan, hingga kita mampu menjalankan fungsi kita sebaga Khalifatullah untuk menebarkan rahmat ke segala penjuru alam semesta. Dengan ilmu syir’i/qolbi, kita akan mengetahui persoalan/keadaan hati, kondisi kesehatan hati, dan bagaimana cara memeliharanya, hingga kita mampu merasakan /berempati atas apa yang dirasakan oleh orang lain,  kita akan mampu menyaring apakah sesuatu itu haq atau bathil. Hingga hati kita senantiasa bersih dan suci, hingga nurani kita akan selalu terdengar nyaring ditelinga hati kita dalam menjaga diri kita dari segala yang diharamkan oleh-Nya. Karena sesungguhnya perjalanan hidup seseorang adalah perjalanan nurani/perjalanan hati, melawan hati nurani berarti perjuangan berat karena ia selalu mengajak kepada kebaikan dan menjauhi segala bentuk kesia-siaan, ia yang membuat perasaan sedih, susah, senang dan bahagia, ia pula yang selalu memilih aktivitas yang paling bermanfaat untuk kita dan selalu mencari sesuatu yang lebih baik dari semula. Maka dibutuhkan perjuangan untuk menggapainya. Dengan menguasai dan mengamalkan ketiganya Insya Alloh hidup kita akan bahagia, tenteram, damai dunia dan akherat.

Kedua, At taubah, yaitu selalu berusaha beristighfar, memohon maaf dan ampunan-Nya, serta memperbaiki diri setelah berbuat dosa atau maksiyat. Hingga kita akan selalu berusaha untuk membuat jarak dengan dosa/maksiyat itu, hingga kita akan sangat enggan, sungkan, malas untuk berbuat dosa/maksiyat, sekecil dan sesamar apapun! Ini adalah perjuangan yang sangat berat karena dibutuhkan kesabaran, keistiqomahan dan tekad yang kuat untuk meniti proses perjalanan yang akan sangat panjang ini. Tetapi apabila kita sangat yakin dan mantap dalam menitinya, maka pastilah Alloh akan selalu membersamai, menyertai, menolong dan meridhoi kita. Adakah yang kita harapkan selain kebersamaan dan ridho-Nya ?

Ketiga, Al Mawakid al mawakil al mahabatullah, yaitu menyingkirkan seluruh penghalang, perintang jalan menuju Alloh. Perintang itu adalah kemaksiatan, hubuddunnya (cinta dunia), maka berbuatlah seperti tukang parkir yang mempunyai kekayaan (mobil, motor) banyak tetapi tidak sombong dan jika berkurang tidak merasa kehilangan/sedih, karena memahami bahwa itu bukanlah miliknya tetapi sekedar titipan dari orang lain. Demikian pula segala yang kita miliki. Semua itu bukanlah milik kita tetapi milik Alloh yang dititipkan kepada kita. Sehingga tidaklah ada hak bagi kita untuk bersedih jika sewaktu-waktu Alloh mengambilnya kembali. Dan hendaklah kita bersyukur sekiranya Alloh memberikan kepercayaan kepada kita untuk menjaga milik-Nya. Ingatlah firman Alloh dalam surat adh Dhuha ayat 11 : “Wa ammaa bi ni’mati rabbika fa hadits”. Dan  terhadap nikmat dari Tuhanmu maka (hendaklah) kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) . Janganlah tersiksa terhadap seluruh yang kita miliki. Ingatlah bahwa dalam diri setiap manusia ada tiga musuh, yaitu makhluk/manusia berupa ajakan untuk berpaling dari Alloh, syaithon, yang selalu mendampingi dan menggoda manusia untuk bermaksiyat/mengerjakan dosa, dan nafsu diri yang lebih banyak meninggalkan ajakan hati nurani!

Keempat, Maqobatul al bawa’id, yaitu penyegaran, penyemangat kembali dari kefuturan. Dengan mempunyai perasaan khauf dan roja’ terhadap Alloh, sehingga perjalanan ruh akan senantiasa konstan, seluruh kekurangan fisik, kelemahan, tidak menghalangi untuk berjalan menuju Alloh Subhanahua wa Ta’ala, dan obatnya adalah kesehatan qolbu! Karena hati yang sehat akan memberikan energi ruhiyah untuk selalu sehat dan tetap istiqomah berjalan menuju dan menggapai keridhaan Alloh. Selalu berharap untuk mendapatkan keselamatan dunia dan akherat, karunia dan nikmat-Nya, sehingga semua kelemahan diri tak menjadi penghalang hingga jiwa selalu bersemangat dan selalu segera bangkit dari keterpurukan.

Kelima, Al Qowatir, kesiapan untuk menerima celaan, hinaan dari siapapun dan tidak terpengaruh olehnya. Karena yakin ia berjalan di jalan-Nya. Hal itu dijadikannya sebagai ujian dan menaburkan benih tanaman kesabaran, kemaafan dan keistiqomahan, sehingga disikapinya dengan selalu syukur akan semua kehendak-Nya. Semua musibah dan ujian/cobaan disikapinya sebagai sarana untuk mendapatkan pahala yang besar dari Alloh tanpa hisab. Dirasakannya sebagai nikmat akan kasih sayang, cinta dan perhatian Alloh kepadanya, sebagai media penebus dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya, yaitu dengan sikap ridha dan selalu berserah diri/pasrah akan kehendak-Nya. Karena ia yakin bahwa segala ujian, cobaan dan musibah hanya kan diberikan-Nya kepada mereka yang sabar. Untuk menguji kualitas keimanan dan untuk semakin meningkatkan ketaqwaannya kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Ia yakin bahwa segala kehendak Alloh tak mungkin menyusahkan hamba-Nya dan pasti demi kebaikan baginya.. firman Alloh : “Hai orang-orang yang beriman Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.  Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar” (QS al Baqarah (2) : 153)

Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya. Dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (QS al Baqarah (2) : 286).

Pada akhirnya semoga kita selalu berada di jalan-Nya. Selalu bersemangat menegakkan kalimat-Nya. Menebarkan keindahan islam kepada semua makhluk. Tak luluh oleh derasnya hujan, teriknya matahari, derasnya cucuran keringat abhkan simbahan darah sekalipun. Demi tegaknya agama Alloh di muka bumi. Wallahu a’lamu bish showab was taghfirullahal azhim.

Ya Alloh lapangkanlah bagiku dadaku, mudahkanlah bagiku urusanku dan lepaskanlah ikatan dari lisanku, agar mereka mengerti perkataanmu. Ya Alloh, hamba-Mu memohon petunjuk kepada-Mu  agar hamba dapat membenahi urusanku, dan tambahkanlah padaku  ilmu yang dapat memberi manfaat kepadaku dan dapat diberikan kepada orang lain. Ya Alloh lantangkanlah suara (hatiku) hingga dapat didengar oleh mereka yang menjauhi-Mu, jauhkanlah segala malapetaka dan musibah dari kami dengan cinta dan kasih sayang-Mu, tunjukkanlah dan bimbinglah kami jalan untuk kembali kepada-Mu saat kami tersesat dan hiburlah kami saat sedih atau kecewa, dan temanilah kami saat “kesepian”

Ya Alloh berkahilah kami lewat rizki bagi kami dan suguhilah kami kebaikan darinya dan tambahkanlah rizki itu bagi kami. Ya Alloh dengan ridha-Mu aku berlindung dari kemarahan-Mu dengan afi’at-Mu, aku berlindung dari siksa-Mu dan berlindung kepada-Mu dengan tidak mebnghitung pemberian-Mu, sebagaimana Engkau tetapkan pujian atas-Mu. (HR. AT Tirmidzi, Malik dan Abu Daud).

Responses

  1. pengin nambahi…ada yang tau lagu “Tamba Ati” (obat hati) ? nah, itu bisa jadi “resep” yang manjur…setidaknya bagi saya (pengalaman pribadi)

  2. Semoga kita tidak termasuk hamba2 yang jatuh berguguran di jalan Dakwah. Aamiin

  3. aamiin..^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: