JALAN UNTUK MENDAPATKAN KETINGGIAN RUHIYAH

JALAN UNTUK MENDAPATKAN KETINGGIAN RUHIYAH

Oleh Ustadz Drs. Syathori Abdurrouf

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya “ (Asy Ayams : 9 -10)

Maha suci Alloh yang  masih memperkenankan kita untuk kembali melihat matahari di pagi hari, masih mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita, masih memperkenankan hidayah-Nya bersemayam dalam diri kita hingga sampai saat ini kita masih beriman dan ber-Islam. Beruntunglah orang-orang yang senantiasa mempersiapkan diri, seandainya suatu ketika kita dipanggil oleh-Nya dan bersiap mempertanggungjawabkan setiap amanah dan titipan Alloh yang kita gunakan saat ini, lebih beruntung lagi adalah mereka yang senantiasa berusaha dan berupaya untuk berada dan duduk dalam maqam (tempat/kedudukan) yang terdekat dengan-Nya yakni pada ketinggian ruhiyah, sehingga tidak ada sesuatu apapun yang dia lihat dan dia rasakan selain menambah kesyukuran kepada-Nya, dan senantiasa mengembalikan segalanya pada-Nya.

Sahabat sekalian, jalan untuk mendapatkan ketinggian ruhiyah seperti yang kita inginkan sebetulnya ada dua, pertama adalah adanya kesadaran untuk berubah atau mengubah diri kearah yang lebih baik dan yang kedua adalah kemauan untuk berubah atau mengubah diri. Jadi kuncinya terletak pada sadar dan mau berubah. Ketinggian ruhiyah yang dicapai dengan kesadaran dan kemauan itu hanya akan bisa kita nikmati manakala kita memiliki kejujuran terhadap diri sendiri/hati nurani. Orang yang jujur terhadap hati nuraninya tidak akan pernah merasa tidak bahagia atau bersusah hati, atau merasakan ketidaktenangan dalam mengarungi kehidupan ini. Karena dengan kejujurannya itu, ia meyakini benar bahwa manusia dalam perjalanan hidupnya akan mengalami susah-senang, kesempitan-kelapangan, yang semuanya adalah merupakan ujian dan cobaan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala sebagai sarana untuk men-tarbiyah (mendidik) kita demi terwujudnya peningkatan keimanan hamba-hamba-Nya. Dengan demikian sesungguhnya dalam hidup dan kehidupan seorang muslim kejujuran terhadap diri sendiri merupakan prosedur paling awal yang harus dilewati atau dijalankan.

Kejujuran terhadap hati nurani sebetulnya dapat kita gunakan untuk

mengetahui dan mengukur sejauh mana kapasitas dan kemampuan diri kita dalam menangkal dan menghindari berbagai penyakit dan pengotor hati. Misalnya orang sombong, ia akan mudah tersinggung jika dikritik apalagi bila dihina atau dicaci maki, maka tentu ia akan semakin marah. Padahal kalau mau jujur dengan menengok dan bertanya pada hati nuraninya, maka akan muncul pertanyaan-pertanyaan mengapa orang itu mengkritik? Apakah yang dikatakannya benar atau tidak. Apakah hal itu memang ada pada dirinya?. Dengan melakukan dialog bersama hati nurani yang selalu jujur, maka kita akan temukan jawabannya. Seorang ulama salaf berkata bahwa “Adakah alasan untuk marah atau tersinggung apabila yang dikatakan orang terhadap diri kita memang benar adanya (bersikap jujurlah!) dan apabila hal itu tidak benar dan tidak ada pada diri kita mengapa kita mesti marah akan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataannya”. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa menanggapi segala perkataan, hinaan, cacian, celaan orang lain terhadap kita atau mengenai diri kita hanya ada satu cara, yaitu jujur terhadap hati nurani kita. Hal ini akan membawa kepada kesadaran pada kondisi atau keadaan yang sesungguhnya kita miliki dan apa yang ada pada diri kita. Seperti yang dilakukan khalifah Umar bin Abdul Aziz saat datang ke dalam masjid dalam keadaan gelap dan tanpa sengaja menyenggol orang yang sedang tidur, lalu orang tersebut marah dan berkata : “Apakah kamu gila !” Umar menjawab : “Tidak, saya tidak gila” padahal pada saat itu para pengawalnya sangat marah karena ada orang yang berani menghina seorang khalifah. Tetapi dengan kesabaran dan kesadaran ia menasehati para pengawalnya: “Janganlah kalian marah, karena apa yang dikatakannya tidaklah benar”. Dia bertanya apakah kamu gila? dan saya menjawab, tidak, saya tidak gila, benarkan jawaban saya?” khalifah Umar bin Abdul Aziz mampu meredakan kemarahan para pengawalnya. Itulah salah satu bukti bahwa kesadaran dan kejujuran terhadap diri sendiri dapat menentramkan hati, meredakan marah dan menuai pahala kesabaran. Semoga kita digolongkon Alloh ke dalam orang‑orang ahli sabar dan jujur. Amin.

Untuk dapat jujur terhadap diri sendiri tentu harus melalui suatu proses tarbiyah (pembelajaran) dan latihan yang terus‑menerus. Ada dua cara pokok untuk membangun kejujuran terhadap diri sendiri, yaitu : Pertama, mendekatkan diri dengan hati nurani, yang pada dasarnya adalah mendekatkan antara dua potensi dasar karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu jasad dan ruhiyah. lbarat berkomunikasi dengan orang lain, untuk dapat mengenal lebih dekat orang tersebut maka kita akan melakukan bincang‑bincang, memberi salam atau menyapa, mengunjungi, dan lain lain. Tampaknya jangan berharap orang yang baru kita kenal itu dapat dekat dengan kita manakala kita acuh tak acuh saja pada orang tersebut. Dari perbincangan dan sekedar menyapa itu kita akan dapat menuju ke arah/tujuan yang sama sehingga, bisa saling bantu, saling tolong, saling mengingatkan karena kita punya tujuan yang sama tersebut. Demikian juga antara jasad dengan hati nurani kita, untuk lebih mendekatkan dan mengakrabkan keduanya harus ada cara dan upaya. Hal ini dapat dimulai dari hal yang biasa kita lakukan, misalnya akfivitas ibadah ritual seperti sholat, sudah khusyu’kah sholat saya hari ini?, tilawah kita, sudah kita pahami maknanya ataukah hanya sekedar dibaca saja?. Maka hati nurani akan segera menjawab semua pertanyaan tadi dengan jujur. Itulah kenyataan yang ada dalam diri kita. Jadi sebetulnya apapun yang jasad  lakukan, maka kita akan senantiasa mencoba melibatkan hati nurani sebagai penilai dari semua itu, sehingga keakraban diantara keduanya akan terjalin. Apabila sudah sangat akrab dengan hati nurani, maka akan selalu terdengar nyaring di telinga kita nilai‑nilai kebenaran dan kejujuran yang akan melibas semua suara‑suara nafsu dan syahwat yang selalu berlawanan dengan suara hati nurani. Orang yang tidak jujur dengan dirinya sendiri, akan mengawali dengan keengganan dan tidak mempunyai keberanian untuk berdialog dengan hati nurani terhadap semua hal yang telah dan akan dilakukannya. Apabila melakukan maksiyat, maka berarti ia telah mengesampingkan/menggilas suara hati nuraninya yang tentu akan selalu mencegahnya.

Jika hati nurani selalu dilangkahi maka akan selalu ada ketidak tentraman, kegelisahan dan ketidaktenangan, karena ia akan selalu menggugat akan tindakannya yang telah menyimpang dari kehendak Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Jika mengerjakan sesuatu yang hanya akan membuat gelisah, susah, was‑was, cemas, seharusnya sudah barang tentu tidak akan mengulanginya lagi, karena ibarat terjatuh dan merasakan sakit tentu di lain waktu akan lebih berhati-hati agar tidak jatuh kembali.

Sahabat sekalian, seandainya kita mau merenung sejenak dan menghadirkan kesadaran diri yang sesungguhnya, maka kita tidak akan pernah merasakan kesepian karena akan selalu ditemani oleh hati nurani sebagai teman yang paling setia yang tidak pernah berbohong dan dapat kita bohongi. Karena. sesungguhnya suara hati nurani adalah suara Alloh Subahanu wa Ta’ala, maka semakin sering berdialog dengan hati nurani sebenamya kita ini semakin sering berdialog dengan Alloh Subahanu wa Ta’ala sehingga akan selalu merasa dekat dengan‑Nya dan terbangun kedekatan dengan‑Nya. Dengan demikian, maka apa yang kita lakukan senantiasa adalah kebenaran, karena suara Alloh adalah suara yang selalu menuntun kepada jalan kebenaran, sehingga kita akan selalu merasakan kehadiran-Nya dan kita akan takut serta malu kepada‑Nya apabila telah menyimpang, berbuat dosa atau maksiyat. Bukankah ini adalah sikap dari hamba yang mukhsin yang senantiasa berbuat Ihsan.

Kedua, menciptakan momentum kesadaran dan kemauan untuk berubah. Allah Subahanu wa Ta’ala menciptakan momentum kesadaran untuk berubah sebagai hadiah terbaik bagi kita untuk melakukan perubahan. Momentum itu antara lain adalah sholat, yang merupakan momentum harian, kita melakukannya tanpa paksaan atau mengharapkan pujian, penuh keikhlasan, tetapi karena kesadaran diri untuk bertemu Alloh Subhanahu wa ta’ala. Sebelumnya didahului wudhu sebagai sarana untuk mensucikan fisik dan hati. Buktinya, rona muka kita akan lebih bersih, penuh kerinduan dan kecemasan akan bertemu Yang Maha Segalanya. Bila disadari sesungguhnya semua itu adalah perubahan yang bersumber dari hati nurani. Contohnya, orang yang akan sholat apabila merasa berpenampilan kurang baik tentu akan segera merubah penampilannya. Dengan pakaian/penampilan terbaik yang disukai Alloh. Semisal muslimah yang belum menutup auratnya dalam kesehariannya maka apabila ia akan melakukan sholat, ia akan mengubah penampilannya penuh keikhlasan, karena dirinya akan menuju kebaikan. Sehingga mempersiapkannya dengan segala hal yang terbaik. Saat sholat mata selalu tertunduk, kata terjaga, gerakan teratur penuh kesopanan, setiap perubahan sikap dan gerak yang ia lakukan senantiasa meng-Agungkan Alloh “Alloh Akbar”, kalaupun diantara jama’ah disampingnya ada yang tidak ia sukai atau imammya salah semisal, tentu tidak mencaci‑maki tetapi mengingatkannya cara yang terbaik, “subhanalloh” ini yang diucapkan jama’ah pria, tidak lantas mengatakan : “Hai imam, salah itu!”.

Hal ini merupakan bukti bahwa sholat adalah suatu kesadaran yang penuh  akan ke-tawadhu-an, menjaga pandangan, kesopan‑santunan, menjaga perkataan/lidah. Shalat mengandung hikmah (harapan kepada Allah swt) bahwa antara shalat yang satu dengan shalat yang berikutnya harus selalu diisi dengan segala sesuatu yang terjaga baik pandangan, kata-kata, sikap/perilaku. Subhanalloh,  seandainya ini bisa kita realisasikan dalam kehidupan sehari-hari, alangkah indahnya hidup dan kehidupan ini. Sedangkan momentum tahunan, sebagai saat untuk menumbuhkan kesadaran ini yaitu saat bulan Ramadhan. Perubahan dan perkembangan pada momen ini Alloh tayangkan dan gambarkan lewat alam pada proses berubahnya ulat menjadi kupu-kupu melalui fase kepompongnya. Jadi tidaknya ulat ini menjadi kupu-kupu sangat ditentukan fase ini (seperti telah kita urai pada dua edisi terdahulu).

Setelah kita bertemu dengan momen yang tepat untuk menciptakan kesadaran dan kemauan untuk berubah, kemudian kita mampu membangun kesadaran dan kemauaun tersebut ke arah yang lebih baik, akan tetapi temyata dalam perjalanannya masih terjadi kekhilafan kealpaan, dan kelalaian, betapa hal ini menunjukkan kepada kita akan lemahnya diri kita untuk selalu ber-istiqomah di jalan kebenaran dan kebaikan. Hal ini juga merupakan bukti bahwa diri kita amat hina dihadapan-Nya Yang memiliki segala kelebihan dan keagungan (jadi kenapa kita masih suka sombong?). Akan tetapi sahabat sekalian, ternyata setiap saat kita senantiasa diikuti oleh rahmat dan  kasih sayang-Nya, kita selalu dibukakan pintu kemaafan, ampunan dan ditunjuki jalan untuk bertobat dalam melakukan perubahan ini, hingga sakaratul maut menjemput kita sebagai batasannya. Itulah jalan yang disediakan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, bahkan kepada yang kufur dan kafir sekalipun.

Semoga Alloh Yang Maha Rahman dan Rahiim menggolongkan kita ke dalam hamba-hamba-Nya yang senantiasa mau dan mampu untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, dan lebih dekat lagi dengan-Nya, sehingga pada saatnya nanti di yaumil akhir kita termasuk orang-orang yang menghadap Alloh dengan wajah berseri, merasa senang atas usaha yang dilakukannya didunia, bukan termasuk golongan yang pada hari itu wajah-wajah tunduk terhina, bekerja keras keras lagi kepayahan menuju api yang sangat panas yaitu neraka, yang diberi minum dari mata air yang sangat panas, dan tidak ada makanan kecuali dari pohon yang berduri yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. Untuk itu jangan biarkan waktu yang kita miliki, kesempatan yang kita dapat berlalu begitu saja tanpa adanya perubahan dan perbaikan dalam diri ini, Wallohu’alam bishshawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: