Harap & Cemas Kunci Mengenal Alloh (2)

Harap & Cemas

Kunci Mengenal Alloh

Bagian II

“…Janganlah kamu berputus asa dari mengharap Rahmat Alloh. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari mengharap Rahmat Alloh melainkan kaum yang kafir”. (Al Quran surat Yusuf  : 87)

Sandaran dasar jawaban pertanyaan diatas, sebetulnya telah Alloh firmankan dalam surat Al Fatihah Arrahmaani ar rahiim, yang bisa mengandung pengertian atau makna janganlah kalian merasa cernas, kalian sernua bisa mengenal Alloh karena Alloh itu Maha Pengasih dan Penyayang. Kasih sayang inilah yang seandainya sampai kepada hati atau diri kita maka mengenal-Nya bukanlah sesuatu yang sulit. Hal ini memberikan sebuah pengharapan kepada kita untuk marnpu mengenal Alloh dengan kasih dan sayang nya itu. Kalau seandainya ada orang yang sudah tidak berharap akan kasih sayang Alloh maka sesungguhnya ia atau orang tersebut tidak ada bedanya dengan orang kafir sebagaimana Alloh firmankan dalam Al Quran Surat Yusuf ayat 87, “…Janganlah kalian berputus asa dari mengharap rahmat Alloh. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari mengharap rahmat Alloh melainkan kaum yang kafir.” . Jadi, mengharap rahmat Alloh untuk marnpu mengenalnya merupakan sebuah kebutuhan dan keharusan bagi kita. Kalaupun kita berkata “Ah mana bisa saya mengenal Alloh”, atau “ah saya sih tidak mungkin mampu mengenal Alloh”, maka sesungguhnya ini adalah sebuah kesombongan, karena telah menafikan atau menyangkal ke-Maha Kuasa-an Alloh untuk memberikan Rahman dan Rahirn-Nya ke dalam diri kita. Jadi harapan yang harus kita miliki adalah bahwa kita akan mendapat kasih sayang Alloh dan harapan inilah yang mendorong untuk bermunajat kepada Allah. Jadi yang pertama harus kita hadirkan untuk mampu lebih mengenal Alloh adalah sebuah harapan dan keyakinan akan sampainya rahman dan rahim-Nya ke dalam diri kita. Sedangkan yang kedua, ber-taqarrub atau mendekatkan diri kepada Alloh. Harapan untuk lebih mengenal Alloh tidak akan menjadi kenyataan manakala harapan itu hanya sebuah harapan belaka tanpa jalan. Sebagaimana halnya harapan panen dari seorang petani, maka ia harus menanam dengan baik atau berusaha dengan baik untuk memperoleh panen yang diharapkan. Demikian pula dengan harapan untuk mendapat kasih sayang Alloh, maka yang harus kita lakukan adalah berusaha ber-taqarrub kepada-Nya dengan berbagai amal kebaikan dan amal ibadah lainnya. Tidak ada rumusnya bagi orang beriman akan perkataan “saya sih sudah kepalang basah dengan dosa, tidak mungkin lagi Alloh akan mengampuni saya.”, karena sahabat sekalian, sekelam apapun masa lalu kita, sebanyak apapun dosa-dosa kita, kita harus punya keyakinan bahwa rahmat Alloh itu jauh lebih luas dari adzab-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam surat Az Zumar : 53, “Katakanlah wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari mengharap rahmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”. Dengan demikian, rahmat dan kasih sayang Alloh sesungguhnya adalah hak semua manusia, tidak hanya bagi anak seorang kyai semisal yang dari kecil memang hidupnya sudah terjaga dari perbuatan buruk, akan tetapi sahabat sekalian, juga bisa dimiliki oleh  orang yang memiliki masa lalu yang kelam sekalipun. Subhanallah.

Kaitannya dengan proses mengenal Alloh, ada yang cepat ada pula yang lambat, seperti misalnya yang dialami oleh para tukang sihir Fir’aun yang kalah oleh nabi Musa tatkala adu kekuatan antara sihir dengan mukjizatnya nabi. Mereka dengan serta merta tunduk dan takluk kepada nabi Musa, a.s. Kemampuan para tukang sihir tersebut untuk mengenal Alloh terbukti dengan tidak takutnya mereka terhadap ancaman Fir’aun atas hukuman mati sekalipun, padahal mereka baru pada saat itu mengenal-Nya. Kesanggupan dan kemampuan itu sesungguhnya dari Alloh, semoga kita tergolong kepada hamba-Nya yang punya kemampuan dan kemauan untuk mengenal-Nya lebih baik, amin.

Sahabat sekalian, banyak cara yang Alloh lakukan terhadap kita sebagai wujud kasih sayang-Nya. Salah satunya adalah dalam bentuk musibah atau cobaan yang berat pada diri kita. Banyak di antara kita yang mampu mengenal Alloh karena musibah yang dialaminya. Tidak sedikit diantara kita yang tadinya jauh dari Alloh kemudian mendapat musibah hingga tumbuh kesadaran untuk lebih dekat dengan-Nya. Namun demikian, kemampuan untuk memandang musibah ini sangat tergnatung dari sisi mana ia memandang.

Sahabat sekalian, dengan demikian sesungguhnya Alloh memberikan atau memerintahkan kepada kita untuk menumbuhkan harapan atau Roja’ kepada-Nya, namun  Alloh juga memberikan dan memerintahkan kepada kita untuk membangun dan menghidupkan Khauf atau rasa cemas, khawatir. Karena Roja’ tanpa Khauf akan melahirkan sikap meremehkan, semisal kita bertanya pada yang berbuat dosa, maka bagi mereka yang tidak memiliki rasa Khauf akan menjawab, “Ah biar saja, dengan istighfar kan sudah beres, kan setiap orang beriman akan masuk surga kalaupun harus mampir ke neraka dulu.”.

Perasaan Khauf (cemas) yang harus kita bangun sebetulnya merupakan manifestasi atau pengejawantahan atas pemahaman kita terhadap ayat “maaliki yaumiddiin” dalam surat Al Fatihah, yang memiliki pengertian “yang menguasai hari pembalasan”. Kalau kita berpikir tentang balasan Alloh, kemudian kita melihat diri kita, maka dengan keadaan kita seperti sekarang ini yang serba ala kadarnya pada setiap ibadah yang kita lakukan, maka kita patut bertanya kira-kira balasan apa yang akan dan layak kita terima dari Alloh, apakah surga atau neraka ?. Ini semua sangat bergantung pada bagaimana kita memilih dan mengarahkan hidup ini. Pada dua pilihan yang harus kita pilih, sepertinya kita akan malu mendapat balasan surga dari Alloh, karena kalaupun kita shalat kita tidak pernah khusyuk, masalah waktu jarang sekali di awal waktu, masalah keutamaan jama’ah sepertinya kita jarang melakukannya.  Kalaupun membaca Al Qur’an, tidak pernah yang kita baca itu menyentuh hati, dzikir pun hanya sampai di ujung lidah. Jadi kalau kita mau jujur pada diri kita, maka kita akan menemukan dalam ibadah-ibadah kita itu ternyata banyak sekali kekurangannya, sehingga Sayyidina Ali karamallahu wajhah pernah mengatakan “Ibadah yang kita lakukan kalau kita evaluasi sesungguhnya lebih membutuhkan ampunan dari Alloh daripada mendapatkan pahala dari-Nya.”. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa banyak sekali kekurangan atas ibadah yang kita lakukan. Dengan demikian, kalau kita berbicara tentang balasan, maka yang timbul dalam diri kita adalah kecemasan. Kecemasan yang muncul dalam diri ini akan semakin besar manakala kita berbicara tentang bagaimana azab kubur. Ada seorang ibu peserta pengajian bercerita, pada saat musim kemarau panjang ada seorang warga meninggal, lantas ketika akan dikubur dan digali kuburnya, ternyata setelah kedalaman dua meter muncul rembesan air yang makin lama makin besar, menyebabkan dalam kubur tersebut banyak airnya, yang semestinya karena musim kemarau kubur tersebut kering. Kemudian dilakukan upaya mengeringkan air tersebut dengan menyedotnya, ternyata setelah disedot air tersebut tidak kunjung kering, akhirnya apa boleh buat si mayat dikubur dalam genangan air. Kalau kita melihat dan mencermati kejadian-kejadian seperti ini, maka ayat keempat dari surat Al Fatihah ini mengarahkan kita untuk memiliki rasa takut dan cemas. Inilah ciri orang yang mengenal Alloh, dimana dalam hatinya berpadu Khauf (cemas) dan Roja’ (harap), yang keduanya akan menimbulkan dalam diri kita untuk melakukan sesuatu yang akan semakin mendekatkan diri kita dengan Alloh. Sesuatu itu tidak lain adalah ibadah yang dilakukan dengan penuh penghayatan dan kesungguhan, sehingga dalam ayat berikutnya Alloh berfirman : “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” (hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan). Jika ungkapan ini diucapkan oleh orang yang memiliki Khauf dan Roja’, maka akan diungkapkan dengan mantap dan penuh penjiwaan.

Khauf dan Roja’ menurut Ibnu Qoyyim diibaratkan sepasang sayap pada seekor burung yang dengannya menyebabkan ia bisa terbang bebas kemanapun ia suka. Demikian juga dengan orang yang memilki Khauf dan Roja’, dengannya ia bisa terbang bebas mendekatkan diri kepada Alloh dengan amal-amal ubudiyah. Wallahu ‘alam bisshawab.

Responses

  1. Mohon Penjelasan Lebih detail gan tentang “Khouf & Roja’.”
    Trims.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: