Posted by: mediasholeha | May 10, 2014

Meng-upgrade sabar

flower

Setelah membaca buku karya Asma Nadia dengan judul Sakinah Bersamamu cukup membuka wacana dan wawasan tentang rumah tangga. Ternyata banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil . Terima kasih ya mb Sulvi atas pinjaman bukunya. Bermanfaat banget buatku yang baru belajar ..hehe..

Kembali ke pembahasan tentang mengupgrade sabar. Sebenarnya judul ini mengena banget buatku. Selama kurang lebih dua pekan lumayan crowded banget di paud karena salah satu pengajar mengajukan resign. Stok sabarku terasa mulai menipis. Astaghfirullah… Ya Allah, kuatkan kami. Berikan kepada kami kesabaran yang terus dan terus bertambah. Aamiin..

Semua bermula ketika kita hanya berdua mengajar di paud dengan jumlah anak berkisar antara 15-16 anak dengan rentang usia yang berbeda. Kok ya seringnya mereka kurang sholih. Tangan kakinya adaa aja yang memukul, menendang, habis mandi + ganti baju ternyata kecolongan lagi mainan air di kran depan mushola padahal baju gantinya sudah habis, mainan kotoran angsa, membawa pasir ke dalam rumah, dst. Bagi kami, ujian terbesar seorang pengajar adalah ujian kesabaran akan tingkah polah anak. Lebih berat lagi jika ia adalah anak sendiri. Sementara kita bisa sabar terhadap anak-anak di sekolah, teman yang berlaku kasar ke kita. Betapapun kita merasa kesal, kita masih bisa tersenyum kepada mereka.

Namun, kadangkala kepada anak kita (anak sendiri), seringkali aku mendengar, merasakan,  dan menyaksikan seorang ibu dengan mudahnya mencubit anaknya, menjewernya, bahkan yang tidak jarang ditemui mereka lakukan sambil mengomel-ngomel. Yang lebih parah lagi, mereka banyak yang melakukannya di depan umum.

Suatu ketika, seorang ustadz bercerita tentang anaknya. Ustadz diundang hadir di pesta pernikahan untuk memimpin do’a. Beliau mengajak anak putranya yang masih kecil. Usia anaknya berkisar 3 tahunan. Di tengah khidmatnya do’a, ternyata sang anak diam-diam berjalan menuju kue pernikahan mencoleknya. Sambil berbalik badan menatap ayahnya mengisyaratkan bahwa kuenya enak..^^. Bagaimana kalau kita sebagai orangtua mendapati anak kita melakukan hal tersebut???

Jika kita berharap anak-anak akan tumbuh dengan kepercayaan diri, perasaan nyaman terhadap diri mereka, menjadi orang yang tenag, stabil secara emosi dan bahkan bisa empati terhadap orang lain, sudah saatnya kita mengkaji ulang perilaku sebagai orangtua. Bagiku ini juga penting buat para guru paud.

Alhamdulillah jika selama ini kita sudah menghiasi diri dengan kesabaran. Jika belum, inilah saatnya berbenah, meng-upgrade  kesabaran kita dan bersikap lebih penuh kasih.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: