Keutamaan Taffakur (2)

Keutamaan Taffakur

Bagian ketiga  habis

Ustadz Drs. Syathori Abdurrauf

“Siapa saia yang bertaqwa kepada ALLOH, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka‑sangka”. (QS. ath‑Thafaq)

Cara ketiga dalam bertaffakur, yaitu At taffakuru fi wa’dillahi, yaitu berfikir tentang janji-janji ALLOH. Sangat baik apabila kita memperbanyak membaca ayat‑ayat ALLOH yang berisi tentang janji-­janji ALLOH untuk difahami dan direnungkan, baik janji‑Nya di dunia maupun diakhirat nanti. Berfikir tentang ayat‑ayat dan janji ALLOH ini adalah merupakan upaya wa tawaladu minhu bi magholubbahu, yang maknanya sama dengan Ar Rohmah, Ar Roghbah dan Al Mahabbah, yaitu cinta dan kasih sayang ALLOH. Cinta dan kasih sayang ALLOH yang tiada bertepi dan hanya ALLOH lah yang dapat memberikannya. Cinta manusia akan bertepi pada kejenuhan karena masa, pada suatu saat tertentu, ada kebosanan terhadap yang dicintai karena suatu sebab. Sedangkan cinta ALLOH adalah Ar rahmah, karena la Ar Rohman dan Ar Rohiim tiada bertepi atau tiada berbatas, tak mengenal bosan atau kejenuhan terhadap orang kafir sekalipun. Manusia sangat sulit mencintai dan menyayangi orang apalagi terhadap orang yang membencinya, yang menyakiti hati atau dirinya, tetapi cinta ALLOH adalah Ar Raghbah yaitu cinta yang tiada bertepi atau tiada berbatas. Cinta manusia ada yang tiada bertepi tetapi ada batasannya, yaitu cinta orang tua kepada anaknya, tanpa pamrih, sayang orang tua kepada anak tentu tanpa pamrih karena rasa ini merupakan panggilan atau dorongan hati nurani (ilham dari ALLOH ) yang merupakan naluri kemanusiaan yang bersumberkan dari ALLOH . Al Mahabbah yaitu rasa cinta tanpa pamrih, cinta ALLOH kepada hamba-Nya, yang seharusnya kita lakukan pula dalam menghadapkan diri (beribadah) dan mentaati‑Nya adalah dalam rangka mencintai‑Nya. Namun, boleh jadi cinta kita kepada ALLOH pun masih memiliki pamrih karena kita masih mempunyai roja’ (harapan) agar ALLOH memberikan sesuatu kepada kita, sehingga cinta pun akan hilang bila apa yang diharapkan tak didapati atau diperolehnya. Apalagi cinta yang terjadi antar manusia, termasuk pasangan suami‑istri sekalipun, karena masing‑masing menyimpan suatu harapan kepada pasangannya. Jika berpikir akan janji‑janji ALLOH diakhirat (utamanya) Ar Roghbah (ini cinta tanpa tepi) dan apabila berfikir tentang kebaikan‑kebaikan ALLOH adalah Al Mahabbah.

Cara keempat, At taffakaru fi’adzabillah, yaitu berfikir tentang adzab, siksaan, dan ancaman ALLOH. Dengan banyak membaca ayat‑ayat ALLOH yang menyebutkan siksaan, adzab, dan ancaman ALLOH, maka kita akan sangat ringan dalam menjauhi segala larangan‑Nya dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya atau hanya sekedar mendekatinya. Hal ini

bukan hanya karena kita takut akan adzab, murka, dan siksanya, tetapi karena rasa cinta kita kepada‑Nya. Apakah ada orang yang mencintai sesuatu lantas melaksanakan sesuatu yang tidak disukai oleh yang dicintaiya itu ? Inilah bukti akan rasa Khauf dan roja’ yang telah mendarah daging dalam diri dan hati sanubari kita. Rasa ini akan selalu hadir dalam setiap aktivitas kita, harapan akan ridha dan karunia‑Nya yang seiring dengan ketakutan akan adzab dan siksa‑Nya apabila la tidak ridha. Maka, apabila kita telah memiliki rasa ini, kita akan makin waspada dan hati‑hati dalam bertindak, selalu mengingati akan adzab-N­ya akan menjauhkan diri kita dari bermaksiat dan melanggar larangan‑Nya, sehingga ketenangan hidup akan kita dapatkan.

Cara kelima, adalah At taffakaru fi taksirinnafsi aththo’ah, yaitu berfikir akan kekurangan diri dalam melakukan ketaatan kepada ALLOH. Inilah yang terpenting ! Apabila kita tiap hari merenungkan betapa kurangnya ketaatan kita kepada‑Nya dibandingkan karunia dan kenikmatan yang telah diberikan‑Nya dalam sehari. Misal, mari kita renungkan seharian ini kita. Kemana saja sepanjang hari?, shalat kita khusyu’kah ? tepat/awal waktukah?, sudah jama’ahkah ? adakah dosa yang kita lakukan ? seberapa banyakkah dibandingkan ketaatan kita ? dan sebagainya, sehingga kita akan selalu berfikir

akan kurangnya ketaatan kita kepada‑Nya. Apabila ingin menampakkan ketaatan kepada ALLOH, maka kebaikan‑kebaikan kepada sesama lupakan saja! Hanya ingatlah kebaikan ALLOH dan kekurangtaatan kita kepada­Nya! Ingatlah bahwa hakikatnya yang berbuat baik adalah ALLOH dan kita adalah orang yang dipilih‑Nya untuk melakukannya. Melalui kita itulah ALLOH menolong dan membantu hamba-­Nya yang membutuhkan-Nya dan kita hanyalah jembatan bagi turunnya kebaikan ALLOH bagi orang yang diberi‑Nya rizki, kita diberi‑Nya kemarnpuan untuk membantu dan memberikan kebaikan kepada orang lain. Apabila kita mengingat : Ya ALLOH, semalam saya tidak sholat tahajjud, sholat subuh kesiangan, tidak berjama’ah dan pada saat berjama’ah kita berfikir imamnya kita benci sehingga kurang khusyu’. Padahal seharusnya pada setiap saat kita berfikir kebaikan‑kebaikan ALLOH terhadap segala sesuatu yang ada pada diri kita setiap hari selalu begitu, termasuk kebaikan yang pernah diberikan orang yang kita benci itu. Ingatlah berapa waktu yang kita sediakan untuk mengingat ALLOH ? kebaikan-­kebaikan‑Nya ? berapa jam sehari ? maka darinya kita akan menemukan betapa kurangnya ketaatan yang kita lakukan kepada ALLOH , sehingga akan melahirkan rasa malu yang luar biasa tiada terkira. Seperti malu jika mempunyai kawan, tetangga yang sangat baik dan sayang kepada kita, selalu mau dan siap membantu dan menolong kita, dan pada suatu saat ia minta tolong atau menyuruh kita tetapi kita tidak melaksanakannya. Malu jika kebaikan yang telah diberikannya tidak kita balas dengan sepantas dan sepadan dengannya. Hal ini akan selalu mengusik mereka yang masih mempunyai hati nurani, untuk selalu melaksanakan ketaatan kepada‑Nya, selalu tunduk dan patuh kepada‑Nya. Apabila selalu mengingat bahwa kebaikan ALLOH tidak dapat dihitung, karena banyaknya tiada terkira, dan siapakah yang dapat dan sanggup untuk menghitungnya ? berapakah dibandingkan kebaikan kita kepada sesama ? sangatlah sedikit! apalagi bila dibandingkan dengan ketaatan yang kita lakukan untuk ALLOH ! Apabila kita akan mengitung‑hitung kebaikan ALLOH niscaya kita tidak akan dapat menghitungnya, karena begitu banyaknya, sedangkan ALLOH tidak pernah mengharapkan balasan, tidak membutuhkan kebaikan dari kita, tetapi kitalah yang sangat membutuhkan kebaikan dari ALLOH ! ALLOH tidak membutuhkan kemuliaan dari manusia, dan ketaatan manusia pun tidak akan pernah menambah kemuliaan‑Nya dan keingkaran manusia pun tidak akan mengurangi kemuliaan (harga diri)-­Nya. Manusia sudah diciptakan dengan sebaik­-baik bentuk, tetapi tidak mentaati‑Nya, maka ALLOH pun tidak rugi (kecewa) bila sernua makhluk ciptaan‑Nya mengingkari‑Nya, dan tidak akan lebih mulia bila sernuanya mentaati­Nya. ALLOH Maha Mulia dan Maha Agung yang tidak akan berkurang oleh kemaksiatan makhluk‑Nya dan tidak akan bertambah oleh ketaatan (ibadah) makhluk‑Nya, semuanya tidak akan mengubah kemuliaan‑Nya. Kemuliaan  dan keagungan ALLOH tidak dapat dikait‑kaitkan dengan ketaatan dan kemaksiatan (kemungkaran) makhluk‑Nya. Manusialah vang rugi dunia akhirat bila tidak mentaati‑Nya.

Lima taffakur diatas yang harus selalu kita ingat, senantiasa kita lakukan, kita pikirkan dan kita renungkan setiap hari, setiap saat, yaitu  tentang penciptaan dan keajaiban-keajaiban ciptaan‑Nya, tentang kebaikan‑kebaikan-Nya, tentang janji‑janji dan ancaman-Nya, dan ­kekurangtaatan kita kepada‑Nya. Dalam keadaan sepert ini kita akan selalu mengingati-Nya, selalu mengingati kebaikan­Nya yang sangat banyak. ALLOH akan membuat taffakur yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh itu betul‑betul bernilai di hadapan-Nya, dan memberikan kita kesempatan untuk melakukan ibadah yang lebih baik dibandingkan sebelumnya, sehingga ALLOH akan menurunkan rahmat dan pertolongan-Nya setiap saat juga diYaumil Hisab dan  akhirat kelak. Semoga ALLOH menjadikan taffakur yang kita lakukan sebagai wasilah diterimanya sernua amal ibadah kita, memberikan kemudahan bagi kita untuk dapat mengamalkan ilmu dan pengetahuan kita tentang taffakur kita pada masa yang akan datang dan dapat mengajak saudara-saudara kita untuk turut mengamalkannya pula, sehingga diterima‑Nya sebagai amalan ibadah yang bernilai disisi‑Nya.

Ya ALLOH, anugerahkanlah kepada kami kemudahan untuk memahami ilmu-Mu, mentaffakuri ciptaan‑Mu, dan mengamalkannya bagi kehidupan dunia dan akhirat kami. Ya ALLOH, jauhkanlah dari diri kami segala penyakit (jazad dan hati/jiwa) yang dapat menjauhkan kami dari rasa syukur atas segala karunia dan nikmat-Mu. Ya ALLOH, karuniakanlah kepada kami jiwa yang tenang dan tentram, sehingga membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ya ALLOH , berilah kami pertolongan terhadap kesulitan‑kesulitan yang kami alami dan berikanlah kernudahan terhadap persoalan‑persoalan yang kami hadapi. Ya Rabb, hanya kepada‑Mulah kami memohon dan berserah diri.

Apa yang bisa kita simpulkan?

“Sesungguhnya taffakur dapat menghidupkan jiwa yang mati, dapat menyembuhkan kalbu yang sakit dan dapat menyegarkan kembali pikiran yang terkotori oleh kemaksiatan dan hawa nafsu. Maka lakukanlah sekalipun hanya beberapa saat di setiap waktu. Karena ia ibaratnya air penyejuk dahaga, ilmu yang sangat berguna dan murah harganya, mudah cara mendapatkannya serta mudah melakukannya, hanya bermodalkan kemauan dan keyakinan akan kebenaran firman‑Nya dan dipenuhinya janji‑janji‑Nya, akan dibayarkan‑Nya jaminan dari‑Nya, dan dipenuhinya pertanggungjawaban‑Nya.”

Responses

  1. sungguh menggugaha hati


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: