Buah kebaikan

Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkisah tentang seorang laki-laki shalih yang pencaharian sehari-harinya menenun benang yang kemudian ia jual ke pasar dengan harga satu dirham.

Suatu hari, selepas ia menjual hasil tenunannya, pulanglah ia dengan penuh rasa syukur. Ia membayangkan hari ini bisa membeli makanan untuk keluarganya. Namun di tengah jalan ia bertemu dengan seorang pengemis yang kelihatan sangat menderita. Tanpa pikir panjang ia pun merogoh sakunya dan memberikan uang 1 dirham (satu-satunya uang yang ia miliki) kepada pengemis tadi.

Sesampainya di rumah, ia pun bercerita kepada istrinya tentang uang 1 dirham hasil jerih payah tenunan mereka. Dan, subhaanallaah…,  sang istri menyambutnya dengan senyum, tanda ia ridha dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.

Namun karena di rumah tidak ada makanan (juga uang), maka sang istri mengumpulkan beberapa alat dapur bekas, yang kemudian ia serahkan kepada suaminya untuk dijual.

Saat itu juga sang suami berangkat kembali ke pasar, namun sampai pasar sepi, tidak ada satu orang pun yang membeli barang (bekas) dagangannya.

Hampir ia memutuskan pulang, namun ia melihat seorang pedagang ikan yang sepertinya bernasib sama dengan dirinya, tidak laku.

Akhirnya terbetiklah pikiran untuk menukar alat-alat dapur dagangannya dengan ikan yang dijual temannya.

Gayung bersambut, pedagang ikan setuju. Jadilah ia pulang dengan membawa ikan yang cukup. Sesampainya di rumah ia serahkan ikan-ikan tadi kepada istrinya.

Beberapa saat kemudian, ia mendengar jeritan istrinya. Saat ia mendatangi istrinya, ia menemukan istrinya sedang menimang sebuah batu mulia yang ia dapatkan dari salah satu perut ikan yang ia belah.

Ketika batu tadi ditawarkan kepada beberapa pedagang batu mulia yang dikenal, ternyata ada yang berani membelinya dengan harga 120 ribu dirham.

Ia pun segera pulang dengan membawa 12 karung uang, yang masing-masing berisi 10 ribu dirham.

Sesampainya dirumah, ternyata ia sudah ditunggu oleh seorang pengemis. Dengan mantap, laki-laki shalih tadi mempersilakan pengemis untuk mengambil uang tersebut. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan baik ini, si pengemis pun mengambil 6 karung kemudian membawanya pergi.

Namun tak lama kemudian ia kembali ke rumah laki-laki shalih.

“Ada apa saudaraku ?” Sapa sang laki-laki shalih.

“Saya datang untuk mengembalikan kembali uang-uang ini.” Jawab pengemis.

“Kenapa ?”

“Karena saya datang hanya sekedar diutus untuk mengujimu dan memberi-tahukan kepadamu kalau Alloh sangat senang dengan sadaqah 1 dirhammu, Dia telah menyiapkan 20 qirath balasan untukmu. Dan uang yang kau terima adalah balasan 1 qirath dari 20 qirath yang ada. Masih ada 19 qirath lagi yang disimpan Allah

Subhanallah…

            “Tiadalah seorang manusia berbuat baik, kecuali kebaikan tersebut akan kembali kepada pelakunya.” (Kalam Hikmah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: