Posted by: mediasholeha | September 13, 2014

Bagaimana Mendidik Anak Kita ?

mendidik anak

Bagaimana Mendidik Anak Kita ?

Oleh : Cahyadi Takariawan

Al Qur’an berkisah tentang seorang alim, bukan nabi bukan pula rasul. Beliau adalah Luqman Al Hakim, seorang ayah yang mencintai anaknya, dunia akhirat. Nasehatnya sangat monumental:

Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar “ ( QS. 31:13)

Ungkapan Luqman di atas adalah bagian mendasar dari upaya mendidik anak. Ada beberapa dasar lainnya yang tidak boleh diabaikan dalam rangka mendidik anak.

1. Sayangi Anak Sepenuh Hati Anda

Nabi Muhammad saw memberikan teladan luar biasa dalam kasih sayang pada anak-anak. Beliau suka mencium anak dan cucunya, hingga heranlah sahabat Aqra’, lantaran ia punya 10 orang anak dan tak pernah menciumnya sekalipun.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw mencium Al Hasan bin Ali ra, lalu Al Aqra’ berkomentar, “Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak; tidak pernah aku mencium seorangpun di antara mereka”. Maka Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi, maka tidak tidak disayangi.”

Rasulullah pernah mempercepat shalat, sebagaimana sabdanya, “Sesungguhnya, ketika aku sedang melakukan shalat (menjadi imam) dan aku bermaksud untuk memanjangkan bacaanya, tiba-tiba aku mendengar tangisan anak kecil. Maka aku segera memperpendek (bacaan) shalatku. karena aku memahami perasaan ibunya (yang menjadi makmum) yang tentu terganggu oleh tangisannya.”

Nabi sangat menyayangi anak-anak, dan sangat merawat jiwa anak-anak.

2. Terima Anak Anda dengan Segala Potensinya

Terimalah anak dengan sepenuh hati anda. Mereka adalah buah hati anda, bagaimanapun kondisi fisiknya ! Penerimaan anda kepada mereka, akan menjadi kunci keberhasilannya !
Adalah Hirotada Ototake. Terlahir tanpa tangan dan kaki yang normal. Kaki hanya sampai lutut dan tangannya hanya sampai siku. Tanpa jari-jari. Ibunya menggambarkan Hirotada-can seperti boneka panda yang lucu dan menggemaskan. Orangtuanya selalu memerkenalkan Hirotada kepada tetangga, kenalan, kerabat sebagai anak normal. Dia juga diperlakukan sebagai anak yang normal. Diajari berbagai ketrampilan motorik.

Akhirnya tumbuhlah rasa percaya diri yang sangat besar, bahkan menurut pengakuan Hirotada sendiri, rasa percaya dirinya ’terlalu besar’. Dia selalu belajar di sekolah anak-anak normal. menjalani hobi jurnalistik, fotografi, naik gunung dan memasuki klub basket ! Hirotada selalu lulus dengan nilai yang memuaskan sampai ke perguruan tinggi. Kini, ia menjadi motivator kelas dunia dengan kadaan fisiknya yang terbatas !

3. Pembiasaan Kebaikan bagi Anak Anda

Dalam hal apakah anak dibiasakan ? Inilah yang akan sangat menentukan kehidupannya di masa depan. Iman Al Ghazali menceritakan dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin tentang dialog antara Sahal bin Abullah At Tustari dan pamannya Muhammad Ibnu Siwar.

Ketika aku berusia tiga tahun, aku selalu bangun malam. Aku melihat shalat pamanku, Muhammad Ibnu Siwar. Pada suatu hari ia berkata kepadaku, apakah engkau tidak ingat kepada Allah yang telah menciptakan kamu ?”

Bagaimana aku mengingatnya ?”

Pamanku berkata, “Katakan di dalam hatimu ketika kamu berbolak-balik di atas tempat tidurmu, tiga kali, tanpa menggerakkan lidahmu: Allah bersamaku, Allah mengawasiku, Allah menyaksikan aku”.

Dan aku kerjakan itu lalu aku laporkan kepadanya. ”Ucapkan setiap malam tujuh kali “, kata paman.

Aku kerjakan kemudian aku laporkan kepadanya. ”Ucapkan itu setiap malam sebelas kali”. Akupun laksanakan pesan tersebut, maka aku merasakan rasa nyaman dalam kalbuku.

Setelah satu tahun berlalu, pamanku berkata, “Peliharalah apa yang telah aku ajarkan kepadamu, dan tetapkan mengerjakannya hingga kamu masuk kubur. Karena sesungguhnya yang demikian itu bermanfaat untuk kamu di dunia dan di akhirat”. Dalam beberapa tahun, aku terus mengerjakannya, maka aku dapatkan rasa nyaman dalam kesunyianku.

Kemudian pamanku berkata padaku pada suatu hari, ”Wahai Sahal, barangsiapa merasa Allah bersamanya, melihat dan menyaksikannya, apakah ia akan mendurhakai-Nya. Janganlah sekali-kali kamu durhaka.”

4. Temani Anak Anda untuk Tumbuh dan Berkembang

Seorang teman mengisahkan tentang seorang anak yang selalu menantikan ayahnya pulang dari kerja, hingga larut malam. Sang ayah adalah guru SMA yang sangat sibuk. Karena sang ayah tak kunjung datang, tertidurlah si anak.

Suatu saat ayahnya telah berjanji untuk mengajari main catur. Ketika pulang jam sepuluh malam, sang ayah menemukan anaknya tertidur di atas papan catur. Di sebelahnya ada uang 40 ribu dari celengan yang dipecah sang anak.

Begitu sang ayah pulang, mendadak dia terbangun dan bertanya, “Ayah, bolehkah aku pinjam uang sepuluh ribu ? Aku membutuhkan limapuluh ribu dan celenganku baru empat puluh ribu”. Ketika ditanya untuk apa, betapa teriris hati sang ayah. Karena anak itu hendak membeli waktunya barang setengah jam agar bisa mengajarinya bermain catur.

Rupanya ia telah bertanya pada ibunya, berapa ayahnya digaji per-jam !

Jangan biarkan anak anda menjadi “yatim” di saat ia memiliki orang tua lengkap.

5. Berikan Hanya Kata-kata Terbaik

Betapa ajaibnya kata-kata. Dari kata-kata, banyak hal bermula. Kata-kata membentuk persepsi dan paradigma. Kata-kata dapat memotivasi atau melemahkan semangat. Kata-kata membentuk atau merusak suasana. Kata-kata dapat menjadi inspirasi. Kata-kata juga tabungan akhirat anda. Maka, berhati-hatilah dengan kata-kata.
Abu Rafi’ meriwayatkan, “ Ketika Fatimah melahirkan putranya, Hasan bin Ali, aku melihat Rasulullah SAW mengumandangkan adzan pada telinga Hasan bin Ali“ (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi.)

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan, ”Rahasia kenapa ketika seorang bayi baru lahir harus dikumandangkan adzan pada telinganya adalah –wallahu a’lam- agar suara yang pertama kali masuk ke telinga si anak adalah kalimat-kalimat yang mengandung makna akan kebesaran dan keagungan Allah swt”.

Bagaimana kalau anak secara konsisten mendapatkan kalimat berikut ?

Bapak bangga kepadamu …. Vs Kamu memang pemalas !
Ibu selalu sayang kepadamu ….. Vs Kamu memang anak nakal !
Alhamdulillah, kamu anak pintar… Vs Dasar anak bodoh !
Subhanallah, betapa baiknya kamu, anakku…. Vs Bapak sangat malu punya anak seperti kamu !

#RePost dari blognya ustadz Cahyadi. Semoga bisa menjadi pengingat untuk kita ya.. Semangaaat!! ^__^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: