Bahlul [2]

Suatu ketika, ia minta tolong kepada salah satu muridnya untuk membelikan minyak untuknya. Ia memberikan 2 dinar kepada sang murid itu. Sang murid itupun bergegas mencarinya. Di ujung sebuah jalan, seseorang mengatakan padanya,

“Disana ada seorang Nashrani yang menjual minyak. Minyaknya yang terbaik disini… Cobalah kesana!”

“Baiklah. Terima kasih…., “ujarnya sambil berlalu.

Dengan membawa uang 2 dinar itu, sang murid mendatangi kedai sang Nashrani. Tidak sulit baginya untuk menemukan kedai itu.

“Aku ingin membelikan minyak terbaik untuk guruku…”, ujarnya pada si penjual minyak.

“Gurumu?? Siapakah gerangan gurumu itu??” Tanya sang penjual.

“Bahlul ibn Rasyid…”

“Hmm, tuan Bahlul, orang shaleh itu… Nak, sungguh kami pun mencintainya. Kami bahkan mendekatkan diri pada Tuhan kami dengan mencintainya, seperti kalian…”

Sang murid itu memberikan 2 dinarnya pada si tukang minyak. Si tukang minyak pun segera menyiapkan minyak yang dimintanya…

“Ini, nak. Bawakanlah minyak ini pada gurumu. Ini adalah minyak yang sepadan dengan 4 dinar. Tapi seperti kukatakan tadi, ini karena Tuan Bahlul…, ‘ ujar si tukang minyak sambil menyodorkan tempat minyak pada pemuda itu.

Sepanjang perjalanannya, sang murid itu senang hati. Ia berpikir akan membawa kejutan untuk sang guru. Setibanya kembali, pemuda itu menceritakan semua peristiwa yang dialaminya bersama si tukang minyak itu. Bahlul menyimak. Tapi mimiknya tidak berubah sama sekali. Setelah sang murid selesai dengan kisahnya, Bahlul mengatakan,

“Terima kasih, engkau telah memenuhi hajatku. Tapi bisakah engkau membentuku untuk menuntaskan satu lagi urusanku??”

“Apa itu, guru?” Tanya pemuda itu.

“Mintakan kembali uang yang 2 dinar itu pada si tukang minyak!”

“Ha..?! Mengapa, Tuan??!”Tanya murid keheranan.

“Aku tiba-tiba saja teringat firman Allah, Engakau (Muhammad) tidak menemukan pada kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir mau mencintai orang-orang yang menyelisishi Allah dan Rasul-Nya. …Hmm, aku khawatir, wahai muridku, jika akau memasukkan minyak orang Nashrani itu dalam perutku…Aku khawatir nanti dalam hatiku tumbuh rasa cinta padanya… Aku khawatir jangan-jangan aku akan termasuk orang yang menyelisihi Allah dan Rasul-Nya hanya karena dunia yang tak bernilai…hanya karena 2 dinar….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: