Kupu-kupu Ramadhan (2)

Kupu‑Kupu Ramadhan

(Upaya Sungguh-sungguh Menggapai  Derajat Taqwa)

Dalam menebarkan keindahan yang kita miliki kita juga tidak pandang bulu atau milih‑milih. Siapapun yang kita temui maka akan kita beri keindahan itu, tidak lantas ketika berjumpa dengan orang yang kita sukai, teman akrab semisal, maka kasih sayang itu kita tumpahkan sebanyak‑banyaknya pada dia, lain halnya pada orang yang tidak kita kenal dengan baik, maka rasa itu seperti terkurangi. Sahabat sekalian, kasih sayang yang kita berikan pada seseorang itu bukan dalam rangka pamrih, agar dia (orang yang kita sayangi) balik menyayangi kita, jadi sama sekali bukan itu yang kita harapkan, kita menyayangi orang lain karena itulah kekayaan yang kita miliki, kita merasa bahwa dalam diri kita ada kekayaan yang bernama kasih sayang, dan kekayan ini, hanya akan kita miliki ketika kita pada bulan Ramadhan kemarin sungguh‑sungguh melakukan puasa, dalam bentuk pengekangan terhadap nafsu‑nafsu yang jelek yang ada dalam diri kita. Kekayaan ini akan kita berikan pada siapa saja yang kita jumpai dan terlebih‑lebih pada mereka yang miskin kasih sayang.

Lantas siapa orang yang miskin kasih sayang itu?. Sahabat sekalian, orang yang miskin kasih sayang tidak lain adalah mereka yang pada saat ini sedang dilanda kebencian, dendam, marah, mangkel. Terlebih bila kebencian, dendam, marah, mangkel itu sedang ia tumpahkan pada diri kita, maka yang seharusnya menjadi prioritas saat kita menebarkan kasih sayang itu tidak lain adalah dia.

Apabila kita sanggup memberikan kasih sayang kepadanya, berarti kita membantunya agar ia tidak terus membenci kita (menghilangkan penyakit hatinya). Hal ini dilakukan oleh kesadaran bahwa sesungguhnya cinta dan kasih sayang akan dapat melenyapkan dan menyirnakan kebencian dari diri seseorang meski harus memerlukan proses dan waktu yang lama. Di sinilah sesungguhnya keikhlasan dan keistiqomahan meniti jalan kebaikan diuji oleh ALLOH. Dengannya, kita insya Alloh akan mendapatkan pahala yang besar dari Alloh Yang Maha Adil. Kepada yang membenci saja kita sanggup untuk menyayanginya, apalagi kepada orang jelas menyayangi kita, tentu akan sangat mudah untuk dilakukan. Tetapi sebaliknya apabila kebencian dibalas dengan kebencian, tentu hanya akan menyisakan kebencian dan melanggengkan kebencian itu. Ibaratnya, saling melemparkan kotoran kepada orang yang melemparkan kotoran, begitu seterusnya maka semakin lama kotoran keduanya semakin menumpuk dan bertambah banyak (semakin kotor) dan tentu akan semakin sulit untuk dihilangkan. Berbeda jika begitu dilempar kotoran segera kita bersihkan, bahkan kalau bisa kita membantu membersihkan kotoran yang melekat pada orang lain, tentu pada keduanya tidak ada lagi kotoran yang melekat. Itulah  hikmah yang sesungguhnya wahai sahabat.

Sebagaimana kupu‑kupu yang selalu senang ditempat yang baik, maka demikian pula seharusnya dengan kita. Ba’da Ramadhan seharusnya semangat kita untuk mendatangi dan berada dalam majelis ilmu dan dzikir akan semakin bertambah, kita akan betah berlama‑lama berkumpul dalam majelis tersebut, betah berlama-lama di masjid untuk i’tikaf, tilawah dan ibadah‑ibadah lainnya. Kalaupun kita secara tidak sengaja berada dalam majelis sia‑sia yang isinya hanya melakukan hal‑hal yang tidak berguna seperti nongkrong dipinggir jalan sambil menggoda orang yang lewat, main gitar sambil nyanyi lagu‑lagu yang melalaikan bahkan mungkin menjurus ke arah maksiyat, maka kita akan segera sadar tidak lantas menikmatinya dan berlama­-lama disana, tetapi kita harus segera meningalkan tempat tersebut. Semoga Alloh mengaruniakan rasa seperti ini pada kita, Amin.

Hasil ketiga dari proses metamorfosis yang lakukan di bulan Ramadhan kemarin adalah kita akan semakin aktif  sebagaimana kupu‑kupu yang terbang  ketempat yang baik yang ia sukai  dengan kedua sayapnya. Kita akan aktif mengembangkan diri dan mencari serta mendatangi majelis ilmu yang bisa mengantarkan kita untuk dapat memahami islam secara utuh, dengan tekad bahwa itu semua bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari‑hari. Kalaupun tidak bisa, paling tidak setelah tahu maka kita melakukannya sedikit demi sedikit sehingga kita bisa menjadi rahmatan lil’alamin, dan dalam melakukan ini semua seolah‑olah terasa ringan tanpa beban sebagaimana kupu‑kupu yang bisa terbang kemanapun dia suka dengan sayapnya.

Kupu‑kupu memiliki dua sayap, yang sesungguhnya suatu pelajaran bagi kita lewat alam ini akan sebuah keseimbangan diri kita agar selalu hidup bahagia dunia dan akhirat yaitu keseimbangan antara khauf dan raja’ (takut dan harap kepada ALLOH). Kecemasan antara diterima dan tidaknya amalan, taubat, istighfar, dan segala permohonan doa. Roja’ (harapan penuh) untuk diberikan pahala dari segala amalan yang kita lakukan, selalu membimbing dan menuntun kita untuk senantiasa dalam kebaikan dan selalu berada dalam proses perubahan diri menuju kebaikan sejati seperti yang diinginkan‑Nya. Tidak ada yang membuat kita takut, rindu, kecuali karena ALLOH Subhanahu wa Ta’ala, sehingga dengannya maka ruh ini akan terbang tinggi menggapai puncak ma’rifah yang mulia disisi ALLOH Subhanahu wa Ta’ala. Kerugian besar jika setiap momen yang kita alami dan lalui tanpa hikmah dan perenungan yang mendorong kita untuk melakukan suatu proses perubahan pada diri untuk persiapan dan bekal bertemu dengan ALLOH ‘Azza wa Jalla. Wallohu ‘alam bish shawab.

Ya Alloh terimalah shaum kami, tilawah kami, zakat, infaq, dan shadaqah kami di bulan Ramadhan kemarin walau kami sadari bahwa semua itu jauh dari sempurna seperti yang Engkau harapkan, karena terkadang shaum yang kami lakukan hanya sebatas menahan haus dan lapar saja sementara nafsu kami yang lain belum mampu kami kendalikan.

Orang yang melangkah

Orang-orang yang baru melangkah menuju Alloh, menerima petunjuk melalui cahaya tawajjuh (cahaya dari hasil ibadah dan memerangi nafsu). Sedangkan orang‑orang yang telah sampai kepada Alloh memiliki cahaya berkat menghadap kepada‑Nya. Jadi yang pertama berusaha mendapatkan cahaya, sedangkan yang kedua telah memiliki cahaya, karena pandangannya hanya tertuju kepada Alloh, bukan kepada yang lain. Firman Alloh “Katakanlah: Alloh! kemudian biarkan mereka bermain‑main dalam kesesatan mereka.”( TQS. Al An’am : 91).

Lima hal terkait dengan dosa

Terdapat lima hal berkaitan dengan dosa. Kelima hal itu lebih besar daripada dosanya itu sendiri, yaitu:

  1. Menganggap besar kepada dosa sehingga menyebabkan putus asa.
  2. Meremehkan dosa.
  3. Terus‑menerus melakukan dosa.
  4. Terang‑terangan dalam melakukan dosa.
  5. Berani melakukan dosa.

Pemberian makhluk membuat anda terhalang untuk menghadap Alloh Ta’ala. karena:

1. Anda memikul beban membalas budi.

2. Hati anda terpancang kepada makhluk dan lebih senang berkumpul dengan makhluk. Bahkan terkadang kalau membutuhkan sesuatu, anda lebih mengandalkan pemberian makhluk, sehingga menyebabkan anda jauh dari sang Khalik (pencipta mahluk).

3. Disibukkan dengan usaha balas budi.

Sumber: Al Hikam, Syekh Ibnu Athailah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: