Bahagia (as Sa’adah)

Bahagia (as Sa’adah)

Oleh : Syatori Abdul Rauf

Di dalam Al Iman wal Hayat Dr Yusuf Qardhawi mengungkapkan kisah suami yang  marah kepada istrinya. Dan karena tidak bisa mengendalikan emosinya, sang suami sampai berkata : “Akan kurenggut seluruh kebahagiaanmu…!!”

Dengan tenang sang istri menjawab : “Kau tidak akan mungkin merenggut kebahagiaanku, sebagaimana engkau pun tidak akan mungkin memberikannya kepadaku.”

Sang suami bertanya : “Kenapa demikian ?”

Sang istri menjawab dengan penuh keyakinan : “Andaikata kebahagiaanku terletak dalam nafkah, tentu engkau mampu menghilangkannya. Begitu pula jika kebahagiaan itu terletak pada busana dan perhiasan. Namun kebahagiaanku tidaklah berada dalam apa yang kau miliki, dan tidak bisa dikuasai oleh siapapun, termasuk dirimu.

Sang suami terheran-heran dengan jawaban istrinya ini. Dia pun bertanya : “Lalu dimana letak kebahagiaanmu itu ?”

Dengan mantap sang istri menjawab : Sesungguhnya kebahagiaan itu hanya kuperoleh dalam keimananku. Dan keimananku berada dalam hatiku. Tak akan pernah ada yang bisa menguasai hatiku kecuali Rabb-ku, Allohu Jalla wa ‘Ala.”

Senada dengan kisah Yusuf Qardhawi di atas Ibnu Taimiyah, semoga Allah merahmati beliau, pernah berkata :

من لا يدخل جنة الدنيا لا يدخل جنة الاخرة. وما هي ؟ هي الايمان

“Barang siapa yang tidak memasuki surga dunia maka ia tidak akan memasuki akhirat !” Sahabat-sahabat beliau bertanya : “Apakah surga dunia itu ?” Beliau menjawabnya : “Iman.”

Ya, siapapun tak akan masuk surga tanpa iman. Namun ada satu hal yang sangat menyentuh  dari analogi Ibnu Taimiyah di atas. Iman, bagi beliau, adalah surga dunia, berarti orang yang beriman di dunia ini, sesungguhnya ia telah berada di dalam surga sebelum memasukinya. Dan tiada yang dirasakan oleh siapa pun yang berada di dalam surga kecuali bahagia, tiada susah, tiada derita apalagi sengsara.

Ibnu Taimiyah sendiri pernah membuktikan nikmatnya surga dunia bernama iman ini ketika beliau, karena komitmennya terhadap kebenaran, diseret ke meja hijau oleh penguasa yang lalim waktu itu. Kepada beliau, Majlis Hakim menyampaikan tiga ancaman hukuman atas kesalahan yang tidak jelas yang dituduhkan kepada beliau, yaitu : dipenjara, dibuang atau dibunuh. Dengan tegar, tenang penuh ‘izzah beliau menjawab : “Tuan-tuan hakim, Tuan bisa saja memenjara, membuang atau membunuh saya. Tapi ketahuilah, ketika tuan-tuan memenjarakan saya, itu artinya tuan-tuan telah memberi kesempatan kepada saya untuk hanya berdua dengan Kekasih saya, Alloh al Mahbub. Dan kalau tuan-tuan membuang saya, itu artinya tuan-tuan telah memberi kesempatan yang lebih luas kepada saya untuk terus berasyik ma’syuk dengan-Nya. Dan kalau tuan-tuan membunuh saya, itu berarti tuan-tuan telah mempercepat saya untuk segera bertemu dengan Kekasih saya Alloh Dzul Jalali wal Jamal.

Begitulah seorang hamba yang hidup dalam “surga dunia” iman, ia tidak pernah merasakan kecemasan, kekhawatiran apalagi ketakutan; kapan pun, di mana pun dan dalam keadaan apa pun, yang ada pada dirinya hanyalah kebahagiaan semata.

Islam dan Kebahagiaan.

Secara umum, masyarakat kita masih memandang kebahagiaan itu dari sisi jasmaniyah atau dunia material semata, yang nota benenya sangat lekat dengan suara nafsu.

Mereka menganggap kebahagiaan itu ada  ketika mereka memperoleh apa yang dinginkan oleh nafsunya (bukan hatinya), seperti kebahagiaan karena memperoleh kekayaan, kedudukan, pujian, kehormatan dan lain sebagainya.

Makna kebahagiaan seperti ini, kalau kita amati, hanyalah bersifat fisik jasmaniyah dan memihak kepada nilai-nilai keduniaan yang fana. Kebahagiaan seperti ini adalah kebahagiaan duniawi.

Dan kita semua merasakan kalau kebahagiaan duniawi  adalah kebahagiaan semu lagi nisbi. Kebahagiaan yang hanya akan menggiring pemiliknya menuju lembah kesemuan dan kenisbian. Bahkan tidak jarang kebahagiaan duniawi ini berujung pada penderitaan dan kesengsaraan.

Sementara Islam mengajarkan kepada kita  bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya itu ada pada terpenuhinya seluruh kebutuhan-kebutuhan ruhaniyah, jauh di atas kebutuhan-kebutuhan jasmaniyah, yakni kebahagiaan yang keni’matannya hanya bisa dirasakan oleh tubuh ruhani, bukan tubuh jasmani, seperti kebahagiaan karena iman, ibadah, amal shalih atau menolong dan berkorban untuk sesama, ikhlas di dalam semua amal dan lain sebagainya. Inilah kebahagiaan hakiki.

Kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang akan melabuhkan diri setiap orang  yang merasa memilikinya kepada ketenangan, ketenteraman dan kedamaian, tanpa ada setitikpun perasaan was-was, cemas dan takut.

Kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan ruhani. Kebahagiaan yang mengalir dari kebeningan nurani yang bersenyawa dengan kesucian iman. Manakala kebeningan dan kesucian ini berpadu, apalagi  menyatu, tentu tidak akan terlahir darinya kecuali kehakikian belaka.

Kalau begitu kebahagiaan hakiki itu hanya bisa dimiliki oleh hamba-hamba Alloh berhati bening dan beriman suci ? Benar ! Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sendiri yang telah menggariskan kemestian ini lewat sabda beliau :

اِن سرتك حسناتك و ساء تك سيئاتك فانت مؤمن

“Jika amal kebaikanmu membuatmu bahagia, dan amal jelakmu membuatmu susah, maka kamu adalah seorang mukmin.” (HR. Turmudzi)

“Sungguh mengherankan urusan seorang mukmin itu. Seluruh urusannya itu selalu baik baginya. Dan yang demikian ini tidak akan mungkin terjadi kecuali  pada diri seorang mukmin. Jika ditimpa mushibah ia akan bersabar, dan shabar itu baik baginya. Dan jika dianugerahi kesenangan, maka ia akan bersyukur, dan syukur itu baik baginya.” (HR. Muslim )

Ada satu lagi yang menyebabkan seorang mukmin sangat bahagia dalam hidup ini, yaitu manakala orang lain bahagia oleh karena dirinya.

Ya Allah, berilah kesempatan kepada hamba untuk bisa merasakan nikmatnya kebahagiaan karena iman dan amal shalih hamba, jauh di atas kebahagiaan hamba karena harta, pangkat ataupun jabatan. Jadikan hamba menjadi jalan kebahagiaan bagi hamba-hamba-Mu yang lain.

Kisah Bermakna

Buah Kebaikan

Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkisah tentang seorang laki-laki shalih yang pencaharian sehari-harinya menenun benang yang kemudian ia jual ke pasar dengan harga satu dirham.

Suatu hari, selepas ia menjual hasil tenunannya, pulanglah ia dengan penuh rasa syukur. Ia membayangkan hari ini bisa membeli makanan untuk keluarganya. Namun di tengah jalan ia bertemu dengan seorang pengemis yang kelihatan sangat menderita. Tanpa pikir panjang ia pun merogoh sakunya dan memberikan uang 1 dirham (satu-satunya uang yang ia miliki) kepada pengemis tadi.

Sesampainya di rumah, ia pun bercerita kepada istrinya tentang uang 1 dirham hasil jerih payah tenunan mereka. Dan, subhaanallaah…, sang istri menyambutnya dengan senyum, tanda ia ridha dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.

Namun karena di rumah tidak ada makanan (juga uang), maka sang istri mengumpulkan beberapa alat dapur bekas, yang kemudian ia serahkan kepada suaminya untuk dijual.

Saat itu juga sang suami berangkat kembali ke pasar, namun sampai pasar sepi, tidak ada satu orang pun yang membeli barang (bekas) dagangannya.

Hampir ia memutuskan pulang, namun ia melihat seorang pedagang ikan yang sepertinya bernasib sama dengan dirinya, tidak laku.

Akhirnya terbetiklah pikiran untuk menukar alat-alat dapur dagangannya dengan ikan yang dijual temannya.

Gayung bersambut, pedagang ikan setuju. Jadilah ia pulang dengan membawa ikan yang cukup. Sesampainya di rumah ia serahkan ikan-ikan tadi kepada istrinya.

Beberapa saat kemudian, ia mendengar jeritan istrinya. Saat ia mendatangi istrinya, ia menemukan istrinya sedang menimang sebuah batu mulia yang ia dapatkan dari salah satu perut ikan yang ia belah.

Ketika batu tadi ditawarkan kepada beberapa pedagang batu mulia yang dikenal, ternyata ada yang berani membelinya dengan harga 120 ribu dirham.

Ia pun segera pulang dengan membawa 12 karung uang, yang masing-masing berisi 10 ribu dirham.

Sesampainya dirumah, ternyata ia sudah ditunggu oleh seorang pengemis. Dengan mantap, laki-laki shalih tadi mempersilakan pengemis untuk mengambil uang tersebut. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan baik ini, si pengemis pun mengambil 6 karung kemudian membawanya pergi.

Namun tak lama kemudian ia kembali ke rumah laki-laki shalih.

“Ada apa saudaraku ?” Sapa sang laki-laki shalih.

“Saya datang untuk mengembalikan kembali uang-uang ini.” Jawab pengemis.

“Kenapa ?”

“Karena saya datang hanya sekedar diutus untuk mengujimu dan memberi-tahukan kepadamu kalau Alloh sangat senang dengan sadaqah 1 dirhammu, Dia telah menyiapkan 20 qirath balasan untukmu. Dan uang yang kau terima adalah balasan 1 qirath dari 20 qirath yang ada. Masih ada 19 qirath lagi yang disimpan Allah

Subhanallah…

“Tiadalah seorang manusia berbuat baik, kecuali kebaikan tersebut akan kembali kepada pelakunya.” (Kalam Hikmah)

“Ilaj (Solusi)

Ustadz, dulu saya pernah punya pacar, tapi sekarang kita putus karena sadar itu haram. Saya tobat, menyesal. Bagaimana agar kami bisa yakin ini jalan yang terbaik, bisa sabar ?

+628122702xxx

Cukup dengan menyadari bahwa yang sedang Saudara lakukan adalah  menyelematkan diri dari penderitaan yang berkepanjangan, meski untuk itu Saudara harus “melupakan” sejenak kenikmatan sesaat, yang sempat Saudara rasakan selama ini.

Kesungguhan dalam bersabar akan membuat Saudara merasakan nikmatnya “melupakan” kenangan indah masa lalu yang semu.

Ustadz, doa apa yang harus saya ucapkan untuk mempercepat datangnya jodoh?

+6081354xxx

Doa adalah kesadaran diri untuk berobah. Manakala kita sungguh-sungguh merobah diri kita ke arah yang lebih baik, lebih dicintai Alloh. Ketika kita sudah dekat dengan Alloh, maka Dia akan memberikan apa saja yang harapkan. Dan apa saja yang Dia berikan selalu yang terbaik untuk kita.

Ustadz, apakah sikap pasrah kepada Alloh berarti kita menyerahkan segalanya kepada-Nya dengan kita bersikap pasif dan apatis menunggu “jatuhnya” karunia dari atas ?

+62812156xxx

Pasrah kepada Alloh bermakna kita siap melakukan apa saja yang  Alloh kehendaki atas kita. Kalau Alloh menghendaki kita meningkatkan ibadah, amal shalih atau ikhtiyar kita, maka pasrah kita kepada-Nya adalah melakukannya.

Saat kita ditimpa musibah maka pasrah kita adalah menambah kwalitas kesabaran kita, sedang saat dikaruniai nikmat maka pasrah kita adalah meningkatkan syukur kita kepada-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: