Menata Perasaan

Menata Perasaan

Perasaan Adalah Sumber Tenaga Jiwa.

Cara seseorang merasa, secara kumulatif, akan membentuk keadaan emosi dirinya. Dari emosi ini pula seseorang akan menemukan sumber tenaga jiwa berupa kemauan dan tekad, dimana keduanya sangat dibutuhkan untuk bertindak/berbuat.

Jika pikiran adalah akar karakter, maka perasaan adalah batangnya; dan  di sinilah kekuatan dan kelemahan karakter seseorang ditentukan. Orang yang bisa merasa secara kuat cenderung akan memiliki karakter yang kuat, demikian pula sebaliknya.  Dari perasaan ini pula akan lahir satu dari dua kepribadian; berkepribadian kuat atau berkepribadian lemah.

Awalnya cara kita merasakan sesuatu akan menentukan kuat-lemahnya dorongan jiwa untuk berbuat atau tidak berbuat. Warna perasaan kita sesungguhnya adalah cermin bagi jenis perbuatan kita. Dalam kata lain perbuatan kita akan sangat dipengaruhi oleh perasaan kita. Senyum kita saat jengkel tentu berbeda dengan senyum saat bahagia, demikian pula dengan sorot mata, kata-kata dan gerakan tubuh lainnya Demikian pula dengan tindakan yang harmonis hanya akan mungkin lahir dari warna-warna perasaan yang juga harmonis.

Dari perasaan ini pula lahir kemauan yang kemudian berkembang menjadi tekad. Karena itu sebagian orang mengatakan kalau perasaan adalah jembatan, yang di atasnya pikiran kita berjalan menuju tindakan. Ketika jembatan itu lemah, maka seluruh pikiran kita, sejenial dan serasional apapun, hanya akan menjadi mimpi bahkan hayalan belaka. Kalau pun pikiran tersebut dipaksakan berjalan di atas jembatan perasaan kita yang lemah maka ia hanya akan menghancurkan perasaan kita belaka dan menjerumuskannya dalam jurang kekecewaan dan kecemasan. Akibatnya kitapun terkadang harus membayar mahal dengan kehilangan efesiensi dan efektifitas dalam hidup ini.

Delapan Langkah Menata Perasaan.

Langkah-langkah aplikatif untuk memperbaiki cara kita merasa dapat dirumuskan secara sederhana dalam rumus berikut :

Taujih + Taqwiyah + Muraqabah + Doa = Terapi Perasaan

Taujih bermakna  seluruh perasaan kita harus diberi arah yang jelas, yaitu arah yang akan menentukan motifnya. Misalnya mengapa saya harus gembira atau sedih, mengapa saya benci atau cinta, mengapa saya takut atau berani, dan seterusnya  ? Setiap perasaan kita tersebut haruslah punya alasan yang jujur dan lurus. Jujurnya perasaan kita ada pada ketergantungannya yang tiada terbatas kepada Sang Pencipta perasaan, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Sementara lurusnya perasaan kita ada pada tujuannya, yaitu Ridha Alloh semata.

Karena itu apapun perasaan yang ada pada diri kita, ia harus mengalir dari mata air yang bening, yaitu mata hati yang tajam lagi bersih dari segala macam kotoran, setelah itu kita jaga agar ia terus mengalir bening menuju muara hakikinya yaitu Samudera Rahman Rahim dan Ridha-Nya.

Taqwiyah berarti kita harus menemukan sejumlah sumber tertentu yang akan menguatkan perasaan tersebut, sehingga dia berubah bagaikan air bah yang sulit dibendung oleh bisikan syetan dan godaan nafsu serta rintangan atau bahkan ancaman manusia. Derasnya aliran perasaan inipun akan mempercepat sampainya perasaan tersebut ke muara hakikinya, yaitu Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Sumber penguat perasaan tersebut tiada lain adalah ma’rifah dan keyakinan kita kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

Muraqabah berarti mewaspadai seluruh perasaan yang mengalir dari diri kita; dari mana dia mengalir dan kemana tujuannya. Kontrol ini bisa dilakukan dengan terus menerus kita mengevaluasi sumber perasaan tersebut, yaitu hati; apakah ia dalam keadaan bersih atau kotor. Dari hati yang bersih pasti akan mengalir perasaan yang bersih, sebaliknya dari hati yang kotor pasti akan mengalir pula perasaan yang kotor. Bersihnya perasaan ini kita kendalikan terus sampai ia melabuhkan dirinya di ujung akhir perasaan yaitu Ridha Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

Doa bermakna mengharapkan adanya dorongan Ilahiyah yang bermanfaat membantu semua proses pengarahan penguatan dan pengendalian perasaan kita.

Selanjutnya rumusan di atas kita jabarkan lebih jauh dalam delapan langkah berikut :

Langkah I :

Berusaha menghadirkan Alloh dalam seluruh kesadaran kita (lihat. Surat Al Mujadalah ayat 7) , dan kita merasakan serta meyakini bahwa kitalah yang paling bertanggung jawab di hadapan Alloh Ta’ala atas diri kita sendiri (lihat surat Al Isra ayat 36 dan surat Al An’am ayat 164). Perasaan dan keyakinan akan adanya kontrol Alloh secara langsung atas diri kita akan membuat  kita mampu menemukan satu kekuatan”tertentu” yang membuat kita mampu mengendalikan diri dalam melawan dan menundukkan dorongan-dorongan berperasaan rendah lagi hina, seperti cinta dunia, benci kepada saudara sendiri, malas beribadah, malu beramal baik dan lain sebagainya, diganti perasaan-perasaan mulia lagi terpuji.

Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman :

قل إني أخاف إن عصيت ربي عذاب يوم عظيم

Katakanlah : “Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang agung (hari kiamat), jika aku mendurhakai Rabb-ku.” (Surat Al An’am : 15)

Langkah II :

Menguatkan kerinduan untuk bertemu Alloh di tempat tertinggi dalam surga. Kerinduan yang kuat kepada Alloh  akan memudahkan kita mengarahkan perasaan kita mengalir secara konsisten menuju Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Kerinduan kepada Alloh ini pun bisa kita pupuk dengan mengenali (ma’rifah) Alloh lebih utuh dan mendalam, serta mengenyahkan segala perintang rindu kepada-Nya, yaitu dunia dengan segala gemerlap uthopianya.

Langkah III :

Mempertajam mata hati kita, agar kita dapat menangkap/merasakan setiap gejala dosa sejak dini. Jika kita sensitive dengan dosa, maka kita akan menemukan sifat rasional dari seluruh perasaan kita. Tajamnya mata hati bisa diraih dengan menetesi  hati secara terus menerus dengan kebeningan dzikir dan kelembutan tilawah Al Qur’an, juga qiyamullail di keheningan sepertiga malam yang terakhir. Juga menjaga hati dari segala yang mengotori dan “menyakiti” hati.

Langkah IV :

Tenang ! Itulah yang harus kita usahakan melekat dalam diri kita dalam segala situasi kejiwaan dan peristiwa kehidupan, selalu diam (tidak berbicara kecuali sangat penting), mampu menahan marah dan tidak mengharap atau terpengaruh oleh komentar dan perhatian orang lain. Sebab orientasi kita adalah kebenaran, bukan pengakuan.

Langkah V :

Kuatkan daya tahan kita terhadap berbagai bentuk tekanan hidup dan perubahan lingkungan social, ekonomi, politik, juga kehidupan secara umum. Untuk itu kita harus belajar menunda kebutuhan sesaat kita, khususnya yang bersifat biologis. Lakukanlah puasa dan jangan pernah berhenti bertawakal kepada Alloh juga berpasrah diri (tafwidh) kepada-Nya.

Langkah VI :

Belajar mencintai orang lain dengan cara yang kuat, lurus dan jujur. Karena perasaan cinta adalah perasaan asasi dan inti yang dimiliki manusia. Dia adalah lokomotif yang menarik seluruh gerbong perasaan manusia. Kemana manusia akan membawa perasaannya, sangat tergantung kemana ia membawa perasaan cintanya. Cinta yang kuat, lurus dan benar  adalah modal untuk menguatkan, meluruskan dan “membenarkan” seluruh perasaan manusia Untuk semua ini kita harus belajar memperhatikan, memberi dan berkehendak baik kepada siapapun, semata-mata karena Alloh.

Langkah VII :

Berusaha mempertahankan kegembiraan dan kelapangan jiwa  kita setiap saat, juga keceriaan wajah kita. Kita gunakan bahasa yang terbaik dalam komunikasi kita dengan siapapun sembari berusaha memahami orang lain lebih banyak lagi.

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kau meremehkan kebaikan, walaupun itu dalam bentuk kau bertemu saudaramu dengan wajah yang cerah ceria.”

Langkah VIII :

Menghindari diri dari kekosongan dan kehampaan. Jangan sampai akal kita kosong dari aktifitas ilmiyah, jiwa kita kosong dari aktivitas ubudiyah (penghambaan) dan fisik kita kosong dari perilaku baik (tidak sia-sia). Membiarkan diri dalam keadaan hampa sama dengan membuka pintu bagi syetan untuk masuk secara bebas.

Ya Alloh, karuniakanlah kepada kami indahnya memiliki perasaan. Tuntun dan bimbinglah perasaan kami ya Alloh menuju ketenangan dan kebahagiaan abadi di surga-Mu. Jagalah diri kami dari perasaan-perasaan yang rendah lagi hina, yang membuat kami letih dan lelah untuk berjalan mendekatkan diri kepada-Mu.

Responses

  1. ikhtiar menjadi lebih baik…..

  2. 🙂
    yup..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: