:: 3 Golongan manusia yang mengimani Al Qur’an ::

Jogjakarta, 05 juni 2008
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu ^_^

Kajian Manajemen Qalbu @ PP Mahasiswi Darush shalihat
Oleh : Ustad Syatori abdurrouf

:: 3 Golongan manusia yang mengimani Al Qur’an :
[ QS. Fathir :32 ]
Menganiaya Diri Sendiri , Dhalimun li nafsih
Biasa – biasa saja ,  Muqtashid

Mendahului Orang lain dalam kebaikan , Sabiqun bil khairat
Garis ke-1 :
Orang yang terus- menerus bergelut diantara keburukan dan keburukan.
Ex : malam mingguan ke diskotik A atau diskotik B ya ?
Matinya dalam keburukan [Suul Khatimah]

Garis ke-2:
Orang yang dalam kesehariannya masih bergulat diantara yang baik dan buruk.
Harus diwaspadai, kalau gagal à Dhalim, sukses à Muqtashid.
Matinya dikhawatirkan suul khatimah.

Garis ke-3 :
Orang yang dalam kesehariannya selalu dihadapkan pada pilihan baik dan lebih baik.
Ex: ada peminta –minat, kasih seribu atau lima ribu ya ?
Kalau sukses à Sabiqun, gagal à Muqtashid.
InsyaAllah kemungkinan besar husnul kahtimah.

Garis ke-4:
Orang yang dalam kesehariannya terus berpikir untuk selalu memilih yang lebih baik.
Dijamin husnul khatimah

Bagaiman agar bisa menjadi manusia di garis ke -4 ?
(menjanjikan husnul khatimah)
Caranya :
Menguatkan  cahaya yang ada di hati kita. Harus mau berperang melawan kegelapan. Karena musuh terbesar kita adalah kegelapan yang   ada di dalam diri kita. Kegelapan telah membuat manusia tenggelam dala berbagai kelenaan, kelalaian, keraguan dan akhirnya kedholiman. Dhulmun=dholim=gelap. Satu – satunya cara untuk menang melawan kegelapan adalah dengan menguatkan cahaya Rabbaniyah yang ada dalam hati kita.
Cahaya Rabbaniyyah adalah cahaya yang akan membuat kita selalu luluh dalam ta’dhim dihadapan Keagungan dan Kebesaran Allah Ta’ala.
à Ini yang membuat kita tidak berani menganggap orang lain lebih rendah, bodoh, atau bahkan sombong.
Cahaya Rabbaniyyah akan membuat hidup kita lurus menuju Allah Ta’ala.
Cahaya Rabbaniyyah akan membuat kita terus mengalir tiada henti menuju muara hakiki hidup, yaitu Allah al Qadir.
Cahaya Rabbaniyyah akan membuat kita tidak terpesona dengan segala gemerlap kesenangan dunia.
Cahaya Rabbaniyyah akan membuat kita berusaha untuk terus “terbang” meningkatkan derajat kita di sisi Allah Ta’ala.
Ex: Selalu bertaqarrub, sejauh mana kedekatan dengan Allah.
Panduan : QS. An Nuur :35
Allah adalah cahaya langit dan bumi.
Bedanya antara cahaya matahari dan cahaya Allah :
§    Cahaya matahari : kita rasakan dengan jasmani.
§    Cahaya Allah : kita rasakan dengan jiwa, ruhani, hati kita.
Perumpamaan cahayaNya seperti sebuah misykat yang di dalamnya ada lampu.
Misykat : lubang di dinding rumah tempat meletakkan lampu penerang.
Lampu itu berada di dalam sebuah kaca.
kaca itu seolah – olah bintang yang gemerlap.
Dinyalakan dengan (minyak) pohon yang penuh berkah yaitu Zaitun yang tumbuh tidak di timur tidak pula di barat.
Hampir – hampir minyaknya bercahaya walau tidak disentuh api.
(itulah) cahaya di atas cahaya.
:: Perumpamaan tentang cahaya :
Allah à misykat à lampuà di dalam kaca bening à minyak zaitun (bahan bakunya) à cahaya di atas cahaya
Insan à hatià fitrah shafiyah (bening) à ilmu syari’ah à haqul yaqin (yakin di atas yakin).

Untuk bisa istiqamah (sampai mati) menduduki wilayah di garis ke-4, membutuhkan 2 kemuliaan yaitu kemuliaan hati dan akal.
[1]. Kemuliaan Hati
Ini ada kaitannya dengan QS. An Nuur :35
Kemuliaan HATI ada pada kebeningannya yang terus memancarkan cahaya kebenaran, kebaikan, dan keindahan.
Kebeningan hati bagai kaca yang bening, bersih, jernih, hati yang mulia.
Hidup tidak sekedar benar, tapi baik, dan perbuatan itu indah.
Buah dari kebeningan hati :
“ Orang yang hatinya bening akan memiliki dorongan dan keinginan yang sangat kuat untuk bisa membingkai hidupnya dengan empat bingkai kemuliaan.”

Bingkai 1 :
Berpikir lurus à berusaha agar apapun selalu menjadi sarana untuk taqarub kepada Allah. Apapun harus menjadi jalan ke surga.
Bingkai 2 :
Berperasaan bersih à berusaha agar setiap apapun selalu menjadi jalan untuk bisa merasakan Keagungan dan Kasih Sayang Allah Ta’ala.
Hidup bagai anak panah yang melesat menuju sasaran yang pasti. Orang beriman à sasarannya Allah Ta’ala. Kasih sayang siapapun adalah wujud kasih sayang Allah.
Bingkai 3 :
Berkata benar à berusaha berkata jujur dan benar dengan diri kita sendiri.
Kalau perasaan jujur à perkataan jujur
Kalau pikiran jujur à perbuatan jujur
Bingkai 4 :
Berbuat baik à kita menjadikan hidup ini sebagai hamparan sajadah tempat kita merendah dan menundukkan diri kepada Allah ta’ala.
Ex : wujud syukur kalau di pasarà beli tomat, tidak ditawar, jangan milih – milih yang bagus ^_^.

:: Beberapa kisah :
Abu Hanifah
Seorang ulama besar yang dah dikenal dan disegani. Rajin qiyamul lail. Namun di saat malam – amlamnya sering dirisaukan oleh tetangganya yang suka mabuk – mabukkan. Biasanya tetangga – tetangganya itu pagi sampai siangnya kerja, kemudian malamnya gajian. Nah, gajiannya itu biasanya dipakai beli minum – minuman keras dan suka mabuk – mabukkan. Suatu saat beliau tak mendengar lagi tetangganya yang suka mabuk – mabukan. Saat dicari tahu ternyata ditangkap polisi dan dipenjara karena merisaukan warga. Abu hanifah ke kantor polisi, dan meminta agar tetangganya itu dilepaskan. Karena Abu Hanifah tidak ingin melihat tetangganya susah. Karena ulama terkenal dan disegani, akhirnya dikeluarkanlah tetangganya tersebut dr penjara. Dan tetangganya tersebut tidak mabuk – mabukkan lagi. Syukur dengan kemuliaan….

Hasan Al Bashri
Tinggal di rumah susun. Di rumah lantai 2 (non islam), dan Hasan Al Bashri di lantai 1. Suatu ketika kamar mandi lantai 2 (non islam ) bocor, dan tepat di atas kamar beliau (Hasan Al Bashri). Yaitu bocor bekas kotoran kamar mandi. Oleh beliau ditampung dengan ember. Tapi di sini pihak non islam tersebut tidak tahu kalau ternyata kamar mandinya bocor. Ketika Hasan Al Bashri sakit, tetangganya yang non islam tersebut menjenguk. Kaget bukan kepalang, loh! Ni ember untuk apa? Dan tetangganya tersebut tahu benar kalau itu tepat kamar mandinya. Terus dia bilang, kenapa ga bilang? EMang dah berapa lama ya?. Kemudian Hasan Al Bashri menjawab, “ sudah 10 tahun”. Kenapa kamu melakukan itu, kalau kamu bilang pasti akan saya perbaiki. Terus Hasan Al Bashri bilang, itulah keindahan islam, tidak mau menyusahkan orang lain, dan tidak akan mendholimi siapa pun. Tetangganya yang non islam tersebut kagum, dan saat itu pula langsung bersyahadat masuk islam dan disaksikan oleh Hasan Al Bashri. Subhanallah….

[2]. Kemuliaan Akal
à Keluasan ilmu kita tentang Iradatillah (keinginan Allah Ta’ala) atas kita.
Iradatillah (kehendak Allah). Menginginkan kita untuk meninggalkan yang buruk, memilih yang baik, dan melakukan yang lebih baik.

Semoga bermanfaat ya sahabat ^_^
Sabiqun bil khairat…husnul khatimah…MAU???
Yuk… Fastabiqul khairat !!!

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu ^_^

= LoveAlloh_Atik =

Responses

  1. Cukup indah,
    mari kita mengejar yg sabiqun bil khairat

  2. Yoi, mas Harwanto-yuk berfastabiqul khoirot
    Jazakillah mbak Atik

  3. Nggih..sami2..:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: