Tak Kenal Maka Ta’aruf

Yogyakarta, 17 Januari 2012

KRPH, by: ustadzah Asri Widiarti

*penulis buku “Tak Kenal maka Ta’aruf”

“TAK KENAL MAKA TA’ARUF”

 

Ta’aruf = perkenalan

Nikah vs maut (nikah– tdk pasti, maut –pasti)

:: Urgensi ta’aruf

Pernikahan tidak boleh dengan paksaan. Didasari dengan keyakinan bahwa calon agamanya baik. Prinsip: fikrah, cara pandang terhadap agama, perlakuan terhadap perempuan, dll.

:: Persiapan ta’aruf

Tidak ada persiapan khusus. Diperbanyak ibadah dan do’anya. Ruhiyahnya maksimal. Jika hubungan dengan Allah baik, maka akan dimudahkan urusan kita. Persiapan ruhiyah, ikhlas dengan proses ta’aruf.

Kekurangan bukan untuk dihindari, tapi dimanajemen bagaimana supaya bisa diimbangi dengan kelebihannya. Persiapan fikriyah, ilmu terkait pernikahan, visi misi pernikahan, dll. Persiapan jasadiyah, mengenali penyakit fisik.

Inti ta’aruf : agar tidak ada penyesalan di kemudian hari

:: Adab dan tata cara ta’aruf

–          Niatkan karena Allah. Mempercayai pilihan Allah adalah upaya kita. Ikhlas, husnudzon billah sebagai upaya menebak “takdir-Nya”. Perbaiki niat karena urusannya ibadah. Menghapus penyakit hati. Lapang dada – ketenangan.

–          Berupaya menjaga keseriusan ta’aruf. QS. Al Ahzab : 32

–          Jujur dalam pembicaraan saat ta’aruf. Tidak ada berkah pada orang yang berbohong. Jujur dalam mengungkapkan kelemahan diri. Jujur membuat kita tetap pd prinsip. Lebih tenang dan PD. Pembicaraan : apapun asal dalam kaidah syari’ah. Keadaan diri, laatr belakang keuangan, minat yang sedang/akan ditekuni, karakter/kepribadian, keuangan, dll.

Jangan sampai menolak seseorang karena finansial, karena itu tidak adil.

–          Nadhor (melihat). Untuk kebaikan, kesejahteraan. Pada hal yang memang boleh dilihat. Ketika laki-laki tidak cocok ketika nadhor hendaknya ia diam. Karena bisa jadi ada laki-laki lain yang menyenanginya. Ukuran pernikahan itu bukan angka (berapa persen kecantikan/ketampanan fisiknya), tapi adalah hati. Sedangkan hati, hanya Allah yang Mengetahui.

–          Menjaga rambu syari’ah

–          Berpendamping

–          Menjauhi tempat-tempat yang mencurigakan

–          Jaga rahasia ta’aruf.

Istikharah – dalam proses apapun.

Ta’aruf bukan pacaran. Tapi serius menikah secara Islami.

:: Bila ta’aruf gagal

–          Wajar karena itu sebagai sebuah ikhtiar. “kemantapan hati”. Lobi ortu dengan kata-kata yang baik. Kadang gagalnya itu karena tidak mantapnya si pelaku.

–          Yakinilah bahwa “dia” bukan yang terbaik untuk kita

–          Selalu perbaiki diri. “laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik, dan sebaliknya.”

–          Tidak perlu malu dan trauma

–          Melakukan muhasabah dan evaluasi diri. Entah itu sedang berhasil ataupun ketika gagal.

—untuk lebih lengkapnya, teman-teman bisa membaca buku beliau yang berjudul “ Tak Kenal maka Ta’aruf “

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: