Demikianlah seorang ibu, semestinya…

Kota Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Madinah…

Setelah sekian bulan kepergian sang suami ke medan jihad….

Wanita itu akhirnya melahirkan bayinya. Ia gembira. Sungguh-sungguh gembira. Wajah bayi yang berseri itu hamper saja membuatnya melupakan kepergian suaminya yang entah berjihad di bumi mana… Entah hidup atau gugur sebagai syahid…

Namun saat wajah suaminya sekilas melintas dibenaknya, air matanya nyaris jatuh. “Duhai suamiku… Entah di mana engkau sekarang… Engkau tak melihat putra kita. Lihatlah, betapa bersinarnya wajah itu…, “ gumamnya sendiri menahan tangis yang hampir saja tumpah.

Tentu saja ia tidak mungkin menanti suaminya untuk member nama pada anaknya yang baru lahir itu. Maka ia pun menamai putranya itu dengan Rabi’ah. Yah, bayi mungil itupun resmilah bernama Rabi’ah. Sebuah nama yang kelak melahirkan decak kagum… kelak di kemudian hari.

Hingga detik itu, tidak satupun berita yang benar-benar menjelaskan masih hidupkah suaminya? Apakah impiannya menjadi syahidlah yang tercapai? Banyak yang meyakinkan dengan berita yang terakhir ini. Suaminya telah syahid. Betapa singkatnya perjumpaan mereka. Masih hangat, terlalu hangat bahkan semerbak malam-malam pertama pernikahan mereka… Lalu tiba-tiba saja, malam itu ia mengutarakan kerinduannya kembali ke medan jihad… Kerinduan Farrukh, suaminya itu, adalah ekrinduan yang tak mungkin dibendung..(Hmm, adakah yang sanggup membendung kerinduan seorang mujahid pada surga??). wanita itu merestuinya pergi, dengan mimpi yang sama; kelak akan berjumpa di surga Firdaus… Sebelum pergi, Farrukh “menitipkan” sang janin dalam perutnya dan uang sebanyak 30.000 dirham. “Gunakanlah uang ini hingga kelak aku kembali…. Atau syahid di jalan-Nya, “ demikian kata perpisahan sang mujahid sesaat sebelum meninggalkan sang istri bersama buah hated alam kandungannya.

Ah, tapi itu kisah lama. Kini putra mereka satu-satunya, Rabi’ah, telah semakin besar. Sebagai ibu sekaligus ayah bagi Rabi’ah, ia tidak menyia-nyiakan sedikit pun amanah Allah itu. Sejak anak itu mualai memahami, ia telah diserahkan oleh ibunya kepada guru-guru yang mengajarinya membaca dan menulis. Anak itu memang cerdas. Karena tidak lama kemudian ia telah menggenapkan hafalan Al-Qur’annya. Lalau tanpa kenal henti, ia pun menghafal sabda-sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Nafas-nafas cinta wanita itu menerangis etiap langkah putranya. Uang yang 30.000 dirham itu…ah, tidak ada artinya. Demi anaknya, demi menjalankan amanah “mujahid’nya yang enath di mana… uang 30.000 dirham itu tidak bernilai untuknya. Semuanya ia infakkan untuk putranya demi menyelami lautan ilmu….

Hingga suatu hari, ketika Shallallahu Alaihi wa Sallam semakin dewasa dan tumbuh menjadi seorang pemuda, wanita itu memanggilnya, “Putraku, kini engkau semakin dewasa, tidakkah engkau ingin menjalani pekerjaan tertentu demi menafkahi hidupmu kelak??”

Putranya tersenyum. “Ibu, dalam hatiku, akau tak punya pilihan lain lagi. Aku sudah memutuskan untuk meniti jalan ilmu ini… Inilah yang terbaik bagiku…, “ ujarnya pada sang ibu.

Wanita itu pun tersenyum. Ia bahagia mendengarkan pilihan putranya. Yah, inilah jalan terbaik untukmu, Nak… Tidak! Bukan hanya untukmu, tapi untukku, ibumu dan juga ayahmu… kelak bukakanlah untuk kami jalan indah menuju surga-Nya. Begitu suara hatinya berbisik.

Beruntunglah pemuda Rabi’ah ini. Ia hidup dis ebuah zaman di mana mata air-mata air ilmu dan pekerti masih terlalu jernih mengalir… Kehausan dan kedahagaannya yang dahsyat terpuaskan di sumber-sumber mata air itu. Ia hidup di sebuah zaman di mana para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam  seperti Anas ibn Malik radhiallahu anhu masih hidup. Para tabi’in sekaliber Sa’id ibn al-Musayyib dan Salamah ibn Dinar juga adalah diantara “mata air-mata air” yang ia reguk kejernihan ilmunya.

Lihatlah pemuda itu! Rasa haus dan dahaganya seperti tak pernah habis. Ia bagaikan meminum air laut. Hari-harinya ia lewatkan untuk mendatangi mata air-mata air ilmu itu… dan malam-malamnya juga tak jauh berbeda. Tanpa mengenal rasa lelah…sedikit pun.

Dengarkanlah apa jawabnya ketika suatu saat seseorang berkata padanya, “ Wahai anak muda, kasihanilah dirimu sendiri. Engkau tak kenal henti memburu dan mendatangi para ahli iiilmu itttu. Biarrrkaaanlllahhh tuuubuhmu sejenak melepaskan kepenatan dan kelelahannya…”

Engaku ingin mendengar apa jawabannya? Ia mengatakan, “Maaf, tuan. Guru-guruku telah berpesan bahwa sesungguhnya ilmu ini tidak akan memberikan sebagian dirinya hingga engkau memberikan seluruh dirimu padanya.” Begitu jawabnya. Jadi tak ada gunanya engkau mengingatkannya untuk rehat. Meski sejenak.

Demikianlah, dan sunnatullah kehidupan memang telah menggariskan bahwa kemuliaan bukanlah warisan turun temurun… Bukan pula sesuatu yang dapat diraih tanpa kesungguhan tak eknal henti. Dan seperti itulah sunnatullah yang berlaku pada pemuda Rabi’ah. Mimpi-mimpi ibundanya selama ini tentangnya semakin lama semakin menampakkan dirinya. Bintang pemuda ini eprlahan-lahan memancarkan cahayanya di Madinah. Datanglah ke sana dan tanyakanlah tentang pemuda Rabi’ah ini… niscaya engkau tidak butuh waktu lama untuk mengetahuinya. Hidupnya kini terbagi dua. Sebagian waktunya ia guankan bersama keluarganya dan sebagiannya lagi adalah untuk mengalirkan mata air keilmuannya… di masjid Rasululllah. Iya, kini pemuda Rabi’ah bukan lagi “pemuda” Rabi’ah… Kini ia adalah “Syekh” Rabi’ah! Ratusan orang, bahkan mungkin ribuan orang kini duduk di majlisnya. Maka, -seperti kukatakan padamu-, datanglah kesana, lalu tanyakanlah tentang Rabi’ah al Ra’yi…engkau takkan lama menunggu untuk mengetahuinya….

Kota Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Madinah yang penuh cahaya…

Malam itu, rembulan memantulkan cahayanya yang lembut. Penduduk kota baru saja menuanikan shalat isya’ ketika itu….

Seorang pria berjalan sendiri. Pria tua. Baru saja ia tiba kembali ke kota ini. Hmmm, 30 tahun sudah berlalu, bisiknya. Kini usiaku telah memasuki 60 tahun, lanjut bisik hatinya. Sepanjang jalan hatinya hanya dipenuhi berbagai pertanyaan. Ia bertanya pada dirinya sendiri,. Ia bertanya tentang rumahnya, tentang istrinya; masih hidupkah ia? Tentang anaknya; ah…laki-laki atau perempuankah ia? Tapi ia tak punya jawaban. Dan ia pun tak ingin bertanya kepada orang-orang yang ditemuinya. Ia ingin melihatnya sendiri….

Pria tua itu berenang-renang dalam gelombang pikirannya sendiri. Syukurlah, penduduk Madinah sama sekali tidak memperhatikannya… pria dengan pedang tergantung di pundaknya dan tali kekang kuda di tangannya… penampilan khas seorang mujahid. Pemandangan seperti itu biasa mereka saksikan. Lorong demi lorong kota ia lewati. Hingga tanpa ia sadari, ia tiba di depan sebuah rumah… inikah rumahku yang dulu? Nyaris tidak ada yang berubah, bisiknya. Jantungnya semakin kencang berdebar. Berdebar karena kegembiraan yang meletup-letup. Kegembiraan itu mendesaknya begitu kuat hingga ia merasa tidak perlu lagi mengetuk pintu… ia langsung saja mendorong pintu yang memang tidak terkunci itu….

Kreek!….

Suara itu didengarkan oleh si empunya rumah. Dari lantai atas rumahnya ia melihat ke bawah. Siapa dia? Samar-samar ia melihat seorang pria dengan sebilah pedang tergantung di pundaknya…dan istrinya berdiri tak jauh dari tempat pria tua itu berdiri….

“Kurang ajar!!! Siapa kau, wahai pria tua??! Malam-malam seperti ini kau berani masuk ke sisni dan mengganggu istriku??!” teriak si empunya rumah sambil meloncat turun dan menyerang pria tua itu.

Tidak ada kesempatan untuk berbicara. Bahaya jika pria tua ini kubiarkan, piker empunya rumah. Dua pria itu saling beradu. Mereka berkelahi hingga keluar rumah. Suara mereka begitu rebut dan ramai. Orang-orang yang tinggal di dekat rumah itupun berhamburan keluar untuk melihat apa yangs edang terjadi.

“Kurang ajar sekali orang tua ini!!! Ia ingin mengganggu istriku!!” teriak pria muda si empunya rumah pada tetangga-tetangganya….

Orang-orang itu pun mengelilingi pria tua itu. Tentu saja mereka tak mengenalnya. Baru kali ini mereka melihatnya.

“Demi Allah! Aku takkan melepaskanmu kecuali di depan qadhi, wahai orang tua!!” ujar si empunya rumah geram.

“Aku bukan penjahat, wahai anak muda! Aku tak melakukan kesalahan apapun. Ini adalah rumahku!! MIlikku!! Apa yang salah?! Salahkah jika aku melihat pintunya terbuka lalu aku masuk ke dalamnya?!” balas pria tua itu.

Ia lalu menoleh kepada semua orang yang mengelilinginya. “Apa tidak ada lagi di antara kalian yang mengenaliku??! Aku Farrukh!! Ini rumahku, akulah yang membelinya!! Kini aku kembali setelah 30 tahun lamanya aku di medan jihad!!” jelasnya.

Tiba-tiba seorang wanita tua menyeruak keluar dari rumah itu. “ Biarkan dia!! Anakku Rabi’ah, biarkan orang tua itu masuk, Nak! Dia ayahmu!!” teriak wanita itu. “ Duhai Farrukh!! Jangan kau sakiti dia! Dia anakmu… darah dagingmu!!” ujarnya sambil menatap pria tua itu.

Semuanya tertegun. Semua ini terjadi setelah 30 tahun lamanya. Pertemuan seorang istri dan anak dengan sang suami dan ayah… yang dianggap telah tiada dan menghadap Allah. Tiga anak manusia itu tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun untuk beberapa saat. Hati jualah yang menggerakkan sang istri dan anak itu meraih tangan Farrukh lalu menciumnya… dan Farrukh merangkul memeluk mereka… Namun tiada kata-kata….

Bahagia. Sangat bahagia bahkan. Itulah kata-kata yang dapat menggambarkan perjumpaan yang mengejutkan itu. Antara seorang ayah yang pulang kembali ke pangkuan keluarganya setelah 30 tahun lamanya., seorang ibu yang telah merelakan kepergian sang suami untuk selama-lamanya dan seorang anak yang lahir tumbuh menjadi dewasa tanpa sekalipun memandang wajah sang ayah. Dan malam itu, semuanya larut dalam arus kebahagiaan itu…

Namun sang ibu tiba-tiba teringat akan suatu hal. Ini membuatnya menjadis edikit gelisah. Ia gelisah karena entah harus menjawab apa jika suaminya bertanay tentang itu. “Akankah ia akan percaya apdaku jika kukatakan padanya bahwa titipannya telah habis?”, bisiknya sendiri dalam hati. Iya, wanita ini bingung memikirkan 30.000 dinar yang 30 tahun lalu “dititipkan” Farrukh padanya. Ingatan ini menyeretnya kelaur sejenak dari arus kebahagiaan perjumpaan itu…

“Ummi Rabi’ah…, “tiba-tiba sang suami mengejutkan dan membuyarkan lamunannya. “ Ini aku bawakan untukmu 4000 dinar. Aku ingin kita menggabungkannya dengan 30.000 dinar yang dulu kutitipkan padamu,” lanjut Farrukh sambil mengeluarkan sebuah kantong.

Wanita itu terhenyak. Nafasnya serasa berhenti. Apa yang hendak ia khawatirkan kini terjadilah… Untuk sesaat lamanya ia hanay diam.

“Ayolah istriku… tunjukkan padaku uang yang dulu kutitipkan padamu itu!”

Baiklah, aku toh tetap harus menjawab dan menjelaskannya, bisik Ummu Rabi’ah untuk dirinya sendiri.

“Engkau tak usah khawatir, suamiku. Uang itu telah kuletakkan di tempat yang semestinya. Insya Allah, dalam beberapa hari ini akau memperlihatkannya padamu… Bersabarlah!’ Jawabnya sembari berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Suara adzan subuh tiba-tiba memutuskan pembicaraan mereka berdua. Farrukh pun bergegas mengambil air wudhu. Dan ternyata Rabi’ah, putranya telah lebih dahulu berangkat ke masjid Rasulullah…

Ah, ia rindu pada masjid itu. 30 tahun lamanya ia tidak bersujud di dalamnya. Dan ia benar-benar rindu…

Sang imam telah menuntaskan shalatnya subuh itu ketika ia melangkahkan kakinya masuk ek dalam masjid sang Rasul itu. Ia pun menegrjakannya sendiri. Ia menumpahkan semua penghambaannya pada Allah di sana.

Setelah ia puas menumpahkan kerinduannya pada amsjid itu, Farrukh pun melangkah keluar dari masjid itu. Tapi abru saja ia hendak melangkah keluar, sebuah halaqah ilmu telah terpampang di hadapannya… Belum pernah ia melihat sebuah majlis ilmu seramai ini, hingga nyaris tak ada tempat untuk kaki melangkah. Semua yang duduk di situ menyimak sang “Syekh” yang menyampaikan mutiara-mutiara ilmunya.. Farrukh tidak terlalu jelas melihat wajah sang syekh. Tempatnya berdiri terlalu jauh untuk dapat melihatnya. Tapi, ah… tidak mengapa, bisiknya. Aku sudah cukup puas dapat menyimak petuah-petuahnya dari sisni, bisiknya lagi.

Setelah sang “syekh” selesai menyampaikan wejangannya dan menutup majlisnya, murid-muridnya mendekatinya seraya berdesak-desakan. Ketika itu, Farrukh menoleh pada seorang pria yang dduduk di sampingnya,

“Demi Allah, bisakah engakau katakana padaku siapa gerangan syekh luar biasa itu?” tanyanya.

“Anda bukan penduduk kota ini??!” Tanya pria itu keheranan.

“Aku penduduk kota ini…”

“ Apa mungkin ada penduduk kota ini yang tidak mengenal syekh itu??!” semakin heranlah pria itu.

“ Maaf, aku memang tidak mengenalnya. Aku memang penduduk kota ini, tapis etelah 30 tahun lamanya baru tadi malam aku kembali ke sini… “ ujar Farrukh mencoba menjelaskan kondisinya.

“ Baiklah, aku dapat memahami keadaan Anda…,” kata pria yang ditanya itu. “ Syekh yang Anda tanyakan itu adalah muhaddits (ahli hadits) kota ini. Meskipun usianya masih muda, tapi cobalah Anda lihat siapa yang hadir di majlisnya. Anda akan menemukan Malik ibn Anas, Abu Hanifah, Sufyan al-Tsauri dan banyak lagi nama-nama terkenal lainnya yang duduk di majlis ini…, “ jelas orang itu panjang lebar.

“ Tapi…,” potong farrukh.

“ Dan lebih dari itu, syekh muda ini juga masyhur sebagai orang yang dermawan dan sangat zuhud terhadap dunia…,” lanjut pria itu seolah tak member kesempatan pada Farrukh untuk berbicara atau bertanya.

“ Tapi Anda belum memberitahukan padaku siapa namanya…” kejar Farrukh.

“ Oh, maaf, Tuan. Namanya Rabi’ah,… ya, Rabi’ah al Ra’y” jawab pria itu.

“ Rabi’ah al Ra’y??!”

“ Iya, Rabi’ah al Ra’y. sebenarnya namanya adalah Rabi’ah, tapi orang-orang lebih sering menyebutnya Rabi’ah al Ra’y, karena ia sering membantu mereka memecahkan persoalan jika mereka tidak menemukan penjelasan dalam Al Qur’qn atau al Sunnah…” jelas pria itu.

[Al Al Ra’y artinya pemikiran dan logika. Biasanya istilah ini digunakan untuk pandangan pribadi seseorang terhadap suatu masalah. Dalam fiqh Islam, istilah ini identik dengan ijtihad yang dilakukan oleh para ulama mujtahid untuk menyimpulkan hokum suatu masalah]

Farrukh semakin penasaran. Ia memegang pundak pria itu.

“ Tapi Anda belum menyebutkan nasab keturunannya padaku…, “ kejar Farrukh.

“ Oh, ya. Namanya yang sebenarnya adalah Rabi’ah bin Farrukh. Hmm, Tuan, jika saja Anda tahu betapa hebatnya ibunda syekh muda itu… Syekh itu dilahirkan oleh sang ibu ketika ayahnya pergi ke medan jihad. Tapi ia benar-benar menunaikan amanahnya sebagai ibu. Cinta dan kasihnya pada sang anaklah yang kemudian –dengan izin Allah- melahirkan seorang Rabi’ah al Ra’y yang Anda lihat itu, Tuan, “ kata pria itu. “ Dan…” lanjutnya “ Kemarin malam kudengar ayahnya telah kembali…

Farrukh terdiam. Matanya sembab. Air matanya perlahan jatuh menetes  membasahi pipinya. Sang mujahid yang melewati 30 tahun usianya di medan jihad itu menangis. Ia pergi berllau meninggalkan pria itu yang terjebak dalam kebingungan menyaksikan air matanya…

“ Ada apa denganmu wahai suamiku??!” Tanya Ummu Rabi’ah pada suaminya. Ia terkejut melihat suaminya pulang dalam keadaan menangis.

“ Ah, tidak, istriku… Aku baik-baik saja. Sangat baik bahkan. Aku sungguh-sungguh bahagia. Pagi ini kulihat putra kita… Aku tak pernah menyangka kini ia telah menjadi seorang ‘alim besar di kota ini…, “ ujar Farrukh.

Ummu Rabi’ah tersenyum. Didekatinya sang suami. Ia meraih tangan suaminya, lalu bertanya,

“ Suamiku, masih ingatkah engaku akan 30.000 dinarmu itu?” tanyanya.

“ Iya, tentu saja, istriku…”

“ Manakah yang akan engkau pilih, suamiku; 30.000 dinar itu atau kemuliaan yang telah diraih putramu itu?”

“ Tidak, demi Allah. Bahkan seluruh isi dunia ini takkan sanggup membayar kemuliaan putraku itu.. Ah, apalagi hanya 30.000 dinar itu, sungguh tak bernilai sama sekali, “ jawabnya.

Istrinya semakin tersenyum. Di dekatkannya wajahnya ke wajah sang suami.

“ Suamiku yang kucintai, hari ini kukatakan padamu, semua harta yang engkau tinggalkan padaku telah kugunakan untuk semua yang engkau saksikan pagi ini di masjid Rasulullah.. Iya, aku telah menggunakannya di jalan yang semestinya..” ujar Ummu Rabi’ah. “ Apakah engaku masih akan menanyai dan menuntutku tentang 30.000 dinar itu, wahai suamiku??” tanyanya lagi.

Farrukh menatap wajah istrinya. Ia tersenyum.

“ Tidak, istriku. Aku hanya mendoakan semoga Allah membalas semua kebaikanmu… Sungguh, kebaikanmu ini bukan hanya untuk putramus eorang, tapi untuk seluruh kaum muslimin… Engkau telah mempersembahkan untuk mereka seorang ‘alim penuntun jalan mereka. Terima kasih, istriku. Jazaakillahu khairan…”  ujar Farrukh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: