Menolak was-was syetan dan nafsu

Menolak was-was syetan dan nafsu

Oleh : Ustadz Drs. H. Syathori Abdurrouf

“Katakanlah : aku berlindung kepada Tuhan Manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa tersembunyi, yang membisiki (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia”.

(QS. An Naas : 1-6)

Segala puji bagi Alloh yang masih memberikan perlindungan-Nya kepada kita sehingga sampai detik ini kita masih istiqomah di jalannya. Kita masih merasakan nikmat kasih sayang-Nya. Semoga kita selalu dalam perlindungan-Nya sampai saatnya nanti Alloh berkenan untuk memanggil kita. Sehingga kita berjumpa dengan Alloh dalam keadaan yang paling indah, dalam keadaan yang paling membahagiakan.

Sahabat sekalian, dalam setiap aktifitas yang kita lakukan, was-was syetan dan nafsu akan selalu mengikuti. Tidak ada aktifitas tanpa adanya was-was syetan dan nafsu. Sehingga tidak aneh bila kita sholat tapi seakan-akan tidak sholat. Sholat yang seharusnya ingat Alloh tapi malah ingat si dia. Memang demikianlah pekerjaan syetan dan nafsu, mereka akan selalu memunculkan pada diri kita perasaan gelisah, was-was, dan kita sering kali terjebak oleh tipu daya mereka. Padahal kita mempunyai pelindung yang Maha Pelindung, kita mempunyai penolong yang Maha Penolong Dialah Alloh ‘Azza wa Jalla. Namun sering kali pula kita malah melupakan-Nya. Kita tidak meminta perlindungan kepada-Nya malah sebalikkya membiarkan perasaan-perasaan itu menguasai kita, kita biarkan syetan dan nafsu memperdayai kita. Lalu apa yang mesti kita lakukan agar was-was syetan dan nafsu tidak menguasai kita?. Paling tidak ada tiga hal yang mesti kita lakukan untuk menolak atau menghilangkan perasaan was-was dari syetan dan nafsu.

Pertama, menguatkan keyakinan.

Sahabat sekalian kita semua yakin bahwa Alloh Maha mengawasi kita yang tidak akan tertutupi oleh siapapun dan oleh apapun. Kita juga yakin bahwa malaikat selalu mencacat perbuatan kita yang tidak akan keliru sedikitpun. Kita juga yakin bahwa siksa kubur itu ada. Kita juga yakin bahwa surga itu ada bahwa neraka itu ada. Kita harus meyakini semua itu seyakin-yakinnya sampai pada tingkat seperti yang dikatakan oleh Ali Radhiyallahu ‘anhu : “Kalau seandainya tirai penutup ghoib itu dibuka tidak akan menambah keyakinanku”. Kenapa Ali berkata begitu, karena keyakinan berurusan dengan yang ghoib. Dan memang begitulah adanya. Artinya bila kita dituntut keyakinan prinsipnya berhubungan dengan yang ghoib. Apa yang ghoib itu? Diantaranya adalah Alloh, malaikat, siksa kubur, surga, neraka dan yang lainnya. Kita yakini semua itu walaupun tirai penutup ghoib itu dibuka, kita tetap yakin akan keberadaan yang ghoib tersebut. Dan bahasa meyakini berbeda dengan mengetahui. Orang yang sekedar tahu Alloh Maha Melihat sangat berbeda dengan orang yang yakin bahwa Alloh Maha Melihat. Orang yang sampai pada tingkat yakin, segala sesuatu yang ada dan terjadi di alam ini selalu ia kaitkan dengan Alloh. Alam semesta dan segala kejadiannya menjadikan ia selalu ingat kepada Alloh. Orang yang yakin, begitu melihat bunga maka ia ingat Alloh. Luasnya laut tanda keBesaran Alloh. Tingginya gunung tanda keBesaran Alloh. Kejadian-kejadian di alampun, menambah keyakinan dia akan keBesaran Alloh. Ditimpa musibahpun yang ia ingat hanyalah Alloh. Begitulah orang yang sudah pada tingkat yakin segala sesuatu ia kaitkan dengan Alloh. Dan kita harus yakin bahkan menguatkan keyakinan tersebut. Lalu bagaimana cara menguatkan keyakinan pada diri kita? Diantara cara menguatkan keyakinan adalah :

1. At tafakkaru bi jalalillah (Merenungkan keAgungan Alloh).

Sahabat sekalian,  Alloh itu Maha Agung yang memiliki kesempurnaan sifat yang tidak cacat sedikitpun. Dia Maha besar yang satu-satunya yang berhak untuk disembah, dimintai bantuan dan pertolongan. Dialah yang berhak untuk dipuji dan disucikan. Dialah yang berhak untuk dijadikan harapan dan ketergantungan. Sedangkan selain-NYa itu kecil dan hina yang tidak berhak untuk disembah, yang tidak berhak untuk diagungkan , yang tidak layak untuk ditakuti dan dan dipuji, yang tidak layak untuk dijadikan harapan dan ketergantungan, yang tidak memiliki kekuatan sedikitpun kecuali karunia dari Alloh. Namun sering kali kita malah mengecilkan Alloh dan membesarkan makhluk. Kita sering takut kepada atasan, pada orang yang berpangkat, padahal mereka tidak akan sanggup mezholimi kita sekiranya Alloh tidak menghendaki. Sehingga dalam hidup ini kita tidak perlu memiliki rasa was-was dan takut dalam berhadapan dengan makhluk. Maha suci Alloh semoga kita menjadi hamba yang selalu mengAgungkan-NYa. Sahabat sekalian, keAgungan Alloh dapat kita temukan dalam al Qur’an dan hadist. Ayat-ayat dan hadist-hadist tentang keAgungan Alloh itulah yang kita tafakkuri. Hampir dua pertiga ayat berisi tentang keAgungan Alloh. Bahkan al Qur’an itu sendiri bukti keAgungan Alloh di semesta ini. Al Quran bukanlah makhluk Alloh tapi dia benar-benar firman Alloh sebagai mukjizat terbesar yang harus kita imani kandungan isinya.

2. Annazhrotu bi ’ainil i’tibar (melihat segala sesuatu dengan mata yang sanggup mengambil pelajaran)

Sahabat sekalian, Alloh menciptakan segala sesuatu tidaklah sia-sia. Dia Maha sempurna yang tidaklah mungkin Dia menciptakan segala sesuatu itu tidak ada manfaatnya. Bahkan musibah yang menimpa kita sekalipun yang kita anggap berat pada hakekatnya untuk kebaikan kita. Barangkali dosa kita sudah terlalu banyak sehingga perlu dihapus dengan musibah. Atau musibah itu untuk meningkatkan kualitas keimanan kita sehingga kita menjadi hamba yang benar-benar bertaqwa kepada-Nya. Maka tidak pantas bagi kita untuk berprasangka buruk kepada Alloh terhadap segala ciptaan-Nya termasuk sesuatu yang tidak mengenakkan bagi kita. Sehingga dalam mengarungi kehidupan ini seharusnya kita tidak perlu khawatir, tidak perlu gelisah dan was-was. Sekiranya kita beriman dan berpasrah diri kepada Alloh pastilah Alloh akan memberikan yang terbaik bagi kita.

3. Al ‘amalu bi muqtadhol iman (beramal sesuai apa yang kita imani)

Sahabat sekalian, segala amal yang kita lakukan harus berdasarkan keimanan. Tidak ada amal yang tidak berdasarkan iman. Biarpun itu amal baik semisal sholat, tanpa didasari iman ia tidak akan berarti disisi Alloh.

Itulah ketiga hal yang perlu kita lakukan untuk menguatkan keyakinan kita. Bila ketiga hal tersebut dapat kita lakukan insya Alloh keAgungan Alloh akan tersimpan di hati kita. Kalau keAgungan Alloh sudah tersimpan di hati kita, maka akan bergetarlah hati kita bila nama Alloh disebut. Akan bertambah iman kita bila dibacakan ayat-ayat-Nya. Dan terasa lain melakukan kebaikan dengan disertai keyakian dengan yang tidak disertai keyakinan. Dan keyakinan berhubungan dengan hati, berhubungan dengan yang ghoib. Semisal sholat, untuk apa kita sholat? karena sholat adalah perintah Alloh yang harus kita kerjakan, yang dengan rahmat Alloh bisa menyelamatkan kita dari siksa kubur dan siksa neraka, itulah yang dinamakan keyakinan. Ketika Harun Ibnu Hadi dijebak karena berdakwah kemudian telinganya dipotong dan diusapkan ke mukanya diapun tidak menyesal tapi malah berkata : “saya bahagia dengan Tuhannya ka’bah (Alloh)”. itulah keyakinan.

Kedua, memperbaiki niat

Sahabat sekalian, dalam aktifitas lebih-lebih aktifitas itu dalam rangka ibadah kepada Alloh, maka ada dua faktor penting yang menentukan diterima tidaknya ibadah tersebut. Dua faktor itu adalah ikhlas dan sesuai tuntunan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Betapapun baiknya suatu amal bila niatnya bukan karena Alloh maka tidak ada gunanya amalan tersebut di sisi Alloh. Dan betapapun baiknya amal dan disertai niat ikhlas karena Alloh namun tidak sesuai tuntunan Rosululloh, maka amalan itupun akan tertolak. Dan perlu diketahui bahwa niatnya seorang muslim lebih baik daripada amalnya. Seorang muslim yang berniat melakukan kebaikan kemudian tidak jadi dilakukan, maka ia tetap mendapat satu pahala kebaikan. Dan jika ia berniat untuk berbuat keburukan tapi tidak jadi dilakukan karena takut kepada Alloh, maka iapun juga mendapat satu pahala. Itulah bukti kasih sayang Alloh terhadap hamba-hamba-Nya.

Ketiga, memakmurkan waktu-waktu kita dengan amal sholeh

Sahabat sekalian orang pintar berkata : “waktu ibarat pedang”. Bahkan Alloh  banyak bersumpah dengan waktu untuk mengingatkan manusia. Maka waktu sangat penting bagi kita. Berarti dalam keseharian, kita harus mempunyai jadwal. Tanpa jadwal, akan banyak kesia-siaan yang kita lakukan. Dan kita harus komitmen dengan jadwal tersebut. Jika jam sekian harus melakukan ini berarti harus dilakukan dan kita tinggalkan keinginan yang lain. Meskipun ada tawaran yang yang menarik semisal jam sekian akan belajar kemudian ada teman yang menawari jajan bakso maka kita tolak tawaran tersebut. Komitmen itu mahal harganya. Betapa kita sering kecewa bahkan mangkel pada orang yang tidak komitmen dengan janjinya kepada kita. Apabila kita membiasakan komitmen dengan rencana kita biarpun itu masalah sepele maka akan memiliki pengaruh yang besar di kemudian hari. Kita akan memiliki kepribadian dengan integritas yang tinggi yang tidak mudah diombang ambingkan oleh orang lain.

Keempat, tidak menunda-nunda pekerjaan.

Sahabat sekalian, waktu mempunyai kewajiban terhadap kita. Apa kewajiban waktu terhadap kita? Tidak lain dan tidak bukan waktu akan selalu mengunjungi kita. semisal waktu sholat ‘asyar, waktu sholat tersebut akan selalu mengunjugi kita tiap hari. Bila waktu tidak lagi mengunjungi kita, berarti kita sudah tidak ada di dunia ini (mati). Sebagaimana waktu mempunyai kewajiban terhadap kita, maka kitapun mempunyai kewajiban terhadap waktu. Apa kewajian tersebut? Kewajiban itu adalah menggunakan waktu tersebut dalam rangka untuk beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Jika kita menunda-nunda suatu pekerjaan, maka menghadirkan masalah bagi kita. Karena pekerjaan yang lain sudah muncul sedang waktu yang tidak kita manfaatkan tidak akan pernah kembali lagi. Wallohu a’lamu bish showab was taghfirullohal azhiim.

Ya Alloh ya Tuhan kami, kami sadar kami ini lemah ya Alloh, yang tidak mempunyai daya dan kekuatan sedikitpun kecuali kurnia dari-Mu, tapi kami malah sering sombong, merasa mampu, yang tidak pernah memohon pertolongan kepada-Mu. Ya Alloh, ampunilah dosa dan kesalahan kami, berikanlah perlindungan-Mu kepada kami selalu sehingga kami tetap istiqomah di jalan-Mu sampai ajal menjemput kami. Matikanlah kami dalam keadaan huznul khotimah. Jadikanlah perjumpaan dengan-Mu kelak adalah saat-saat yang paling indah bagi kami, saat-saat yang paling membahagiakan bagi kami. Berikanlah rahmat-Mu kepada kami dengan surga firdaus-Mu. Kumpulkanlah kami kelak bersama Rosululloh tercinta, bersama para nabi-Mu, bersama para sahabat, bersama para syuhada’, bersama kedua orang tua kami, dan bersama dengan orang-orang sholeh yang sangat Engkau cinta dan Engkau sayangi. Amiin ya Rabbal ‘alamiin.

Responses

  1. Thnks bgt tas pencerahan t’sbut, ini stidaknya buat aku kuat dlm m’hdpi tan2tangan hidup, justru ini bwt aku sadar bhw Allah dalah Dzat yg Maha sgalanya, maka mudah2n, p’lahan rasa was2 n gelisah krn syetan tdk lg m’hinggap dlm benak n fikiran saya. Amin

  2. amin…

  3. Terima kasih atas penjelasan di atas. Saya terkadang suka was was setelah berwudhu. Tetapi, setelah membaca penjelasan di atas, saya jadi mengerti. Insya Allah kita semua akan diMuliakan oleh Allah di sisinya. Amiin ya Rabbal ‘alamiin.

  4. nggih…sami2..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: