Keutamaan Taffakur

Keutamaan Taffakur

Bagian kedua

Ustadz Drs. Syathori Abdurrauf

“Siapa saja yang bertakwa kepada ALLOH niscaya Dia akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka”. (TQS. Ath-Thalaq)

Sahabat sekalian, pada edisi yang lalu telah kita uraikan salah satu cara untuk dapat memahami keajaiban-keajaiban penciptaan ALLOH yaitu dengah meningkatkan ketauhidan kepada ALLOH dengan mengambil pelajaran dan hikmah terhadap semua ciptaan‑Nya.Keyakinan akan Dzat ALLOH melalui keajaiban-keajaiban penciptaan­-Nya,sifat‑sifat‑Nya dan  asma‑Nya akan menambah kedekatan danpengenalan kita kepada ALLOH ‘Azza wa Jalla. Di sisi lain keyakinan dan ketauhidan akan melahirkan dan memberi buah dintaranya Asy Syukruna ila wa diena ‘alaihi (wa billahi) yaitu ketenangan dalam menanti janji ALLOH. Inilah cara kedua yaitu ciri orang yang yakin dengan seyakin‑yakinnya akan janii ALLOH. Saat ditimpa musibah, kesusahan atau mengalami ujian dan cobaan, maka ia yakin bahwa ALLOH akan memberinya jalan keluar dan menolongnya dari kesulitan yang sedang dihadapinya. la yakin akan firman ALLOH “Siapa saja yang bertaqwa kepada ALLOH, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar.  Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka‑sangka”. (TQS. ath‑­Thalaq) yaitu dengan memberikan jalan keluar dan solusi dari persoalan dan kesulitan yang sedang dialaminya. Baginya segala kesulitan, musibah atau cobaan yang menimpanya tidak membuatnya resah, gelisah, gundah atau bersedih karena ia menghadapi dan merasakannya sama saat mendapatkan ke senangan dan kebahagiaan, sehingga ia tetap tenang menanti turunnya janji ALLOH, yakin akan datangnya pertolongan dan pertanggungjawaban ALLOH kepadanya yang berjanji akan menyantuni hamba‑hamba‑Nya. Keyakinan akan jaminan ALLOH yang selalu menanggung dan tak akan menyia‑nyiakan hamba‑hamba‑Nya setelah ia berusaha, bekerja dan berikhtiar secara optimal sebagai syarat datangnya Janji ALLOH karena pertolongan ALLOH tidak akan turun serta merta. Bagi mereka yang beriman dan bertawakkal menyerahkan segalanya hanya kepada ALLOH adalah surga bagi mereka, itulah janji ALLOH, dan ALLOH adalah Dzat yang tak pernah menyalahi janji‑Nya. Hasbiyaullahu laa ilaha illa huwa’alaihi tawakaltu wa huwa rabbul ‘arsyil azhiim. Hasbiyaullahu ni’mal maula wa ni’mal wakiil.

Tiga, Al iqbal ‘alallahu, yaitu selalu menyesuaikan keinginannya dengan kehendak ALLOH. Semua aktivitas pekerjaannya dan persoalan yang dihadapinya akan selalu dikonsultasikan dan dihadapkan kepada ALLOH, selalu meminta ijin dan persetujuan ALLOH terhadap segala hal yang akan dilakukannya. la akan selalu memohon dan berdo’a : “Ya ALLOH, Engkau ijinkan dan Engkau ridhakan terhadap sesuatu yang telah dan akan hamba kerjakan ?” Jadi setiap akan mengerjakan sesuatu selalu berkonsultasi, meminta ijin dan ridha ALLOH , setelah mendapatkan ijin dan ridha‑Nya baru dikerjakan, dan bila tak diridhai‑Nya akan ditinggalkannya. Inilah bukti yang menunjukkan perwujudan sikap yang selalu menghadapkan diri dan hatinya hanya kepada‑Nya (Ta’zhim ilallahu).

Empat, Wa tarkuma Syurghuna wa takillah, yaitu meninggalkan apa‑apa yang dapat memisahkan, menyibukkan dan melupakan dirinya dari mengingat ALLOH. misal menonton TV atau media lain yang tidak islami, ghibah dan lainnya. la lebih senang dan suka, lebih merasakan kelezatan saat berdzikir dan mengingat ALLOH . Orang yang betul‑betul yakin kepada ALLOH tidak akan ingat selain hanya kepada ALLOH , dan apabila ada hal yang bertentangan dengan kehendak ALLOH ia dengan mudah dan ringan akan mampu dan sanggup untuk menghindari dan meninggalkannya.

Lima, Ar Roju fi kulli hayakini ilallah , yaitu selalu mengembalikan segala persoalan kehidupannya hanya kepada ALLOH dalam segenap keadaannya. Apabila ia kaya atau bahagia, kesuksesan dan kemudahan dalam hidupnya, ia yakin dan menyadari bahwa semuanya berasal dari ALLOH , begitu pula segala kesusahan, kesulitan, cobaan dan ujian semua adalah kehendak dan datang dari‑Nya. Semua itu mempunyai maksud dan ibrah (pelaiaran) yang dapat diambil untuk dijadikan hikmah dan menambah keyakinan dan keimanan baginya. Disadarinya sebagai bentuk dan perwujudan kasih sayang ALLOH kepadanya, dan dimasukkan sebagai hamba‑Nya yang bertaqwa dengan selalu mengujinya untuk semakin menambah dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya. Dalam soal jodohpun ia yakin bahwa apa yang datang kepadanya dan dihadapannya adalah yang terbaik menurut ALLOH untuk dirinya sebagai anugerah dari ALLOH . Begitu pula pekerjaan yang diterimanya adalah karunia ALLOH yang terbaik untuknya. Sehingga dalarn kehidupan, ia akan mengalami dan melaluinya dengan ringan, senang tanpa beban, karena ia menyakini bahwa semuanya adalah yang terbaik untuknya dan merupakan anugerah (karunia) yang berasal dari ALLOH untuk dirinya (bentuk kasih sayang dan jaminan ALLOH baginya).

Cara kedua, At taffakuru fi ‘alallah, yaitu berpikir tentang kebaikan-kebaikan ALLOH. Berpikir tentang rizki yang ALLOH berikan, kenikmatan-­kenikmatan yang kita rasakan, dan kita pikirkan apa saja yang la berikan kepada kita. Misal, dihadapan kita ada segelas air Aqua yang diberikan oleh seseorang, hakikatnya air itu berasal dari ALLOH, ALLOH lah yang menggerakkan hati orang itu untuk memberikannya kepada kita. Jika merenung dan berpikir lebih jauh, air Aqua itu adalah karya berpuluh (sekian banyak) orang, buktinya : air itu berasal dari mata air Pandaan Jawa Timur, dibawa ke pabrik (dengan mobil, sopir, jalan yang aspalnya dari P. Buton mungkin), diolah di pabrik (ada manajer, karyawan, dll), dibawa ke Jogya (melewati jalan‑aspal lagi, ada sopir dan mobil), dijual di toko (ada karyawan, pernilik toko), dibeli oleh yang memberikan (naik bus, atau motor atau jalan kaki). Dalam pengolahan di pabrik telah melibatkan banyak orang, mulai dari buruh sampai manajer, ada mesin‑mesin pabrik (ada yang diimpor dari luar negeri menggunakan kapal‑berpikir si pembuat kapal dan pabriknya), begitu seterusnya, maka kita dapati bahwa “hanya” untuk membuat segelas air Aqua sampai dihadapan kita membutuhkan begitu banyak peran dan keahlian orang. Sedangkan ALLOH menciptakan alam semesta ini hanya dalam satu waktu “Kun!” (jadilah), yang dalam ilmu pengetahuan kemudian dikenal adanya proses pernbentukan alam semesta yang metalui tujuh kali proses pembentukan dengan berbagai teori manusia yang mendukungnya (misal Teori Nebula). Padahal ALLOH telah menyebutkannya dalam Al Quran surat al Mulk bahwa Dia

menciptakan alam semesta ini di waktu yang bertahap lapis demi lapis kemudian menetapkan manzilah-manzilah (perhitungan) untuk setiap bagian masing-masing. Apakah ada hal yang masih meragukan akan kenikmatan dan keagungan ALLOH dari hal ini?. Maka marilah kita mulai berpikir bahwa ALLOH  sangatlah baik kepada kita, bahkan kepada yang kafir sekalipun ! Ingatlah kenikmatan-kenikmatan ALLOH bila kita ingin sukses, bila ingin senang dan bahagia. Itulah yang akan kita peroleh apabila kita selalu merenungkan, berpikir dan mengingat kebaikan (kenikmatan‑kenikmatan) dari ALLOH . Taffakur seperti

melahirkan sikap wa tawakkalau al mahabbah wa syukr, yaitu rasa berserah diri, cinta dan syukur, yang akan meningkatkan al mahabbah (rasa cinta) kepada ALLOH . Begitu pula sikap kita kepada sesama manusia, khususnya kepada  orang tua yang telah mengandung, melahirkan, menyusui dan bekerja susah payah merawat, mengasuh, membimbing, mendidik dan membesarkan kita dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang dengan tulus ikhlas. Kepada saudara dan teman/sahabat yang selalu membantu kita, ingatlah hanya kepada kebaikan dan pertolongan/bantuan yang pernah diberikannya kepada kita dan janganlah mengingat keburukan yang pernah dilakukannya (karena kekhilafannya) karena kitapun seringkali melakukan kealpaan dan kekhilafan (sama dengannya), kita

sarna punya dosa dan tak bersih/luput darinya, jangan pernah merasa lebih suci atau lebih bersih darinya, karena semuanya adalah ujian dari ALLOH bagi kita. Ujian kesabaran atas karunia dan rahmat-Nya, juga ujian kesabaran akan ujian dan musibah dari-Nya. Disinilah mental dan ketaqwaaan kita diuji, sama ujiannya, penilaian yang benar dan hakiki hanya milik‑Nya. Dengan berpikir tentang kebaikan ALLOH dan kebaikan mereka (orang tua, saudara dan sahabat), maka ada rasa syukur tiada terkira kepada ALLOH Sang Maha Pencipta yang telah menciptakan alam semesta dan mereka itu hadir di hadapan kita dan kita dapat memperoleh berkah dan kebaikan dari‑Nya. Dengan selalu berpikir seperti ini, maka kita akan selalu ta’zhim kepada-Nya, bersikap tawadhu’ akan kelebihan yang diberikan ALLOH, karena hakikatnya semuanya adalah hanya milik-Nya. Dari hal ini kita akan mendapatkan buah dari merenungkan kebaikan ALLOH akan melahirkan rasa cinta dan syukur (Mahabbatullah wa syukru ilallahu). Insya Allah bersambung pada edisi selanjutnya.

Agar ditolong Alloh

“Ada tiga golongan yang telah menjadi ketetapan Alloh untuk menolong mereka: (pertama) seorang budak yang tengah mengangsur pembayaran guna memerdekakan dirinya, (kedua) seorang yang menikah demi memelihara kehormatan dirinya, (ketiga) mujahid fi sabilillah” (HR. An Nasa’i)

Responses

  1. […] https://mediasholeha.wordpress.com/materi-buletin-qaulan-tsaqiila-qts/keutamaan-taffakur/ […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: