Posted by: mediasholeha | April 25, 2013

Kisah Nabi Nuh

muqadimah

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih“, (QS Nuh [71] : 1)

Teman-teman, pernahkah kalian mendengar atau membaca kisah Nabi Nuh alaihis salam? Beliau adalah Nabi yang diutus kepada umat manusia yang terdahulu dan juga Rasul yang pertama.Menurut beberapa riwayat, Allah mengutus Nabi Nuh alaihis salam sepuluh abad setelah Nabi Adam alaihis salam. Beliau juga merupakan manusia pertama di muka bumi yang membuat kapal untuk berlayar, dengan petunjuk dari Allah. Banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang mengisahkan tentang Nabi Nuh alaihis salam.

Yuk, kita simak bersama-sama kisah perjuangan dakwah beliau kepada umat manusia….!

Nabi Nuh diutus Allah Ta’ala ketika manusia menyembah berhala dan tenggelam dalam kesesaan dan kekafiran. Kemudian Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi umat manusia. Di dalam Al-Qur’an, Allah telah menceritakan kisah Nabi Nuh dan kaumnya serta azab berupa taufan yang membawa banjir yang besar, yang diturunkan-Nya kepada mereka yang kafir, dan juga kisah penyelamatan yang Dia lakukan kepada orang-orang yang berada di dalam perahu.

Allah mengisahkan ketika Nabi Nuh menyeru kepada kaumnya dan berkata:

“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan”. (QS Hud [11] : 25-26)

Maka para pemimpin yang kafir dari kaumnya berkata:

“Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. (QS Hud [11] : 27)

Demikianlah, orang-orang kafir mendustakan Nabi Nuh. Dan para pemuka kaumnya itu juga Berkata:

“Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata”. (QS Al-A’far [7] : 60)

Dan Nabi Nuh pun menjawab:

“Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS Al-A’raf [7] : 61)

Nabi Nuh dengan sabar berdakwah kepada kaumnya, selama 950 tahun mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah saja, dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Beliau juga mengingatkan kaumnya akan nikmat-nikmat Allah yang telah Dia anugerahkan kepada mereka. Namun tidak ada orang yang beriman kepadanya kecuali hanya sedikit saja. Kaumnya bahkan selalu menentangnya dan berkata:

“Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada

kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (QS Hud [11] : 32)

Karena sikap kaumnya yang selalu menentang, Nabi Nuh kemudian mengadukan mereka kepada Allah. Nabi Nuh berkata:

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (QS Nuh [71] : 6-7)

Begitulah kaum Nabi Nuh. Tidak sedikit pun mereka mau memindahkan nasihat dan ajakan beliau. Bahkan mereka saling memeperingatkan sesama kaumnya:

“Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr “. (QS Nuh [71] : 23)

Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr dulunya adalah orang-orang yang saleh diantara mereka. Setelah mereka semua meninggal, kaumnya sangat bersedih karena kehilangan orang-orang yang alim diantara mereka. Begitulah kaum Nabi Nuh. Tidak sedikit pun mereka mau memindahkan nasihat dan ajakan beliau. Bahkan mereka saling memperingatkan sesama kaumnya:

“Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr “. (QS Nuh [71] : 23)

Lalu setan pun membisikkan kepada kaum orang-orang saleh tersebut untuk membuatkan patung dan diberi nama dengan nama-nama mereka, dan disimpan di majelis-majelis mereka. Hingga kemudian, setelah orangorang yang berilmu diantara mereka mati, mereka mulai menjadikan patung-patung itu sebagai berhala yang disembah selain Allah. Lalu Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat bahtera. Allah berfirman:

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS Hud [11] : 37)

Lalu mulailah Nabi Nuh membuat bahtera itu. Dan setiap kali pemimpin kaumnya melewati Nabi Nuh, mereka mengejeknya. Nabi Nuh pun berkata kepada mereka:

“Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.” (QS Hud [11] : 38-39)

Demikianlah, Nabi Nuh dengan sabar membangun kapal tanpa memperdulikan ejekan kaumnya. Maka setelah tiba waktunya, dan kapal yang dibangun oleh Nabi Nuh selesai, Allah pun berfirman kepadanya:

“Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” (QS Hud [11] : 40)

Maka Nabi Nuh berseru kepada para pengikutnya:

“Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Di dalam ayat yang lain Allah mengisahkan kejadian itu:

“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).” (QS Al-Qamar [54] : 11-12)

Allah menurunkan hujan yang tiada henti-hentinya dan semua mata air di bumi memancarkan air, dan keduanya bertemu menimbulkan air bah yang sangat besar, banjir yang sangat tinggi dengan gelombang seolah mencapai puncak gunung, banjir yang paling besar dalam sejarah manusia. Pada saat itu Nabi Nuh memanggil anaknya yang berada di tempat jauh dan terpencil dan tidak ikut naik ke kapal.

“Hai anakku, naiklah kapal bersama kami, dan janganlah kamu bersama orang-orang yang kafir.”

Anaknya menjawab:

“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS Hud [11] : 42-43)

Anak Nabi Nuh tidak mau mengikuti seruan ayahnya, ia lebih memilih untuk bersama orang-orang kafir hingga akhirnya ia binasa dan tenggelam bersama mereka. Demikin pula isteri Nabi Nuh, ikut tenggelam bersama orang-orang kafir karena menolak ajakan suaminya untuk beribadah hanya kepada Allah saja. Allah menjadikannya sebagai contoh untuk diambil pelajaran di dalam Al-Qur’an:

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada

dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”. (QS At-Tahrim [66] : 10)

Setelah semua penduduk bumi telah binasa dan tidak tersisa kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah, maka Dia pun berfirman:

“Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi , dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.” (QS Hud [11] : 44)

Demikianlah teman-teman, akhirnya Nabi Nuh bersama orang-orang yang beriman yang berada di atas bahtera diselamatkan Allah dari azab yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir. Allah mengisahkannya di banyak tempat dalam Al-Qur’an, agar kita bisa menjadikannya sebagai pelajaran.

Allah berfirman:

QS. Al Qamar (15-17)

 “Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar [54] : 15-17)

Pelajaran dari kisah ini:

1. Nabi Nuh adalah Rasul pertama yang diutus kepada umat manusia.

2. Dakwah Nabi Nuh adalah sama dengan dakwah para Nabi dan Rasul, mengajak manusia untuk menyembah dan beribadah hanya kepada Allah saja, dan tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu

apapun.

3. Bersabar di dalam dakwah dan nasihat dalam kebaikan dan kebenaran. Lihatlah bagaimana Nabi Nuh sangat sabar dalam berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun lamanya.

4. Seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya yang mengajak kepada jalan kebenaran, dan tidak beriman kepada Allah, akan binasa bersama orang-orang yang kafir dan sesat, meskipun

ayahnya adalah seorang Nabi. Lihatlah contoh anak Nabi Nuh, yang menolak ajakan ayahnya dan akhirnya tenggelam bersama orang-orang kafir. Sangat jauh berbeda dengan Nabi Ismail yang begitu taat kepada ayahnya, Nabi Ibrahim dalam melaksanakan perintah Allah, beliau bahkan mendapat pujian dari Allah di dalam Al-Qur’an.

5. Allah akan selalu menolong orang-orang yang beriman dan membinasakan orang-orang yang kafir kepada-Nya.

 

Diringkas dan disusun kembali dengan beberapa penyesuaian dari Qishashul Anbiyaa

(Kisah Para Nabi) oleh Ibnu Katsir, hal. 79-112, Penerbit: Pustaka Azzam. Cet. 10, 2006.

http://www.raudhatulmuhibbin.org


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: