Posted by: mediasholeha | December 2, 2012

kadang kita lupa untuk bersyukur

sawah

Tulisan ini sengaja kubuat untuk kakakku, mbak mini. Masa kecil kita itu sangat menyenangkan. Betul?

Rumah – sekolah – sawah – musholla

Sepertinya itu tempat favorit kita pada masa itu. Udara yang segar tanpa polusi. Pergi ke sekolah dengan jalan kaki. Hijaunya tanaman di sawah yang memukau. Damainya hati dengan mengaji. Wah..komplit.

Masih ingatkah kita?

Bagaimana cara menanam jagung

Bagaimana cara menanam padi

Bagaimana cara menanam bawang merah

Bagaimana cara menanam cabai

Bagaimana cara menanam kacang hijau

Bagaimana cara menanam singkong dan ubi

Bagaimana cara menanam tomat

Apalagi ya???

Termasuk merawat dan memanennya. Dan ternyata..banyak juga ya yang pernah kita lakukan dulu. Sejak balita dah diajak ke sawah. Kalau sudah ngantuk, tidurnya dengan berlindung di bawah payung supaya tidak kepanasan. Asyik makan gorengan tepat di depan pohon cabai rawit. Mantap jaya… hehehe…

Meskipun kadang dulu kita pernah sih sekali-kali mengeluh karena capek. Tapi semua itu harus dilakukan. Betul ? lha kita itu sudah ditakdirkan menjadi anak petani. Otomatis kita ikut berpartisipasi. Inget ndak kalau mb mini itu terkenal kalau nanam padinya rapi? Bahkan kita masih membantu orang tua dan saudara kita menanam padi di saat kita liburan kuliah.

Alhamdulillaah.. atas kehendak Allah semua itu terjadi. Dengan begitu kita jadi tahu, ketika menginginkan sesuatu kita harus berjuang terlebih dahulu. Mau beli sesuatu, nabung dulu dari hasil kerja keras kita menanam.

Lalu, kenapa kita sering lupa untuk bersyukur?

Bukankah dengan menanam padi kita belajar untuk bersabar. Bersabar menyiapkan benih padi, ditebar di suatu lahan, dan kemudian setelah siap tanam dicabut dan dipindah ke lahan yang sudah diolah. Tak berhenti sampai disitu. Ketika kita menanam padi, ada kalanya ular air atau ulat2 mati yang bertebaran mengapung di atas air lahan. Kulit jadi belang2 dan yang paling bikin gatel adalah penyakit kutu air.

Belajar pula dari ketika memanen kacang hijau. Butuh perjuangan yang ekstra melawan banyaknya ulet keket. Dari situ kita belajar keberanian. Keberanian untuk memanen dan menghilangkan rasa takut pada ulet keket. Apa jadinya jika takut ma ulet? Yang ada dimarahin ma orang tua. Masa segedhe gitu takut ma ulet. Hehe..

Begitu juga ketika memanen jagung. Yang ada pasti habis itu gatel2.

Panen yang paling enak tu tomat. Kalau ada yang merah langsung dilahap. Nyam..nyam…  Atau kadang-kadang ada tanaman yang tumbuh sendiri, misalnya buah yang seperti timun. Enak banget  pas kehausan siang2. Pernah juga ada semangka yang tumbuh sendiri. Mungkin kebawa di kotoran sapi yang dipakai untuk memupuk tanaman. Ketika semangka sudah besar, biasanya kita sembunyikan di dalam tanah supaya tidak diambil orang..^^

Sekarang… sudah berapa lama ya kita tidak ke sawah? Mengenang zaman dulu, kita harus banyak bersyukur. luruskan niat, tidak boros, tidak takabur, selalu sedekah, dan selalu ingat bahwa semua akan dipertanggungjawabkan.

Mottonya “Khairunnas anfa’uhum linnas” ^__^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: