Posted by: mediasholeha | September 19, 2012

Persamaan Manusia Tetap Relatif

“Perlakukan orang itu sesuai dengan kedudukannya.” [HR. Abu Dawud]

Sepintas hadits ini tidak sesuai dengan semangat Islam yang lebih mengedepankan persamaan kemanusiaan, dengan member peluang manusia berbuat diskriminatif. Seolah-olah manusia digolong-golongkan berdasarkan tingkat kedudukannya dalam masyarakat, alias membenarkan adanya kelas-kelas dalam masyarakat.

Rasulullah sangat konsisten dalam bersikap. Beliau tidak mungkin menyelisihi pernyataannya tentang persamaan, apalagi menyelisihi firman Allah. Pernyataan di atas sama sekali tidak bertentangan dengan ayat maupun hadits manapun juga, melainkan jsutru mengatur tatakrama pergaulan dalam sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi persamaan tersebut.Persamaan kemanusiaan tidak bisa diartikan secara sempit, yaitu memperlakukan semua manusia secara sama, tidak ada tinggi rendah, tidak ada yang terhormat dan yang tidak terhormat. Duduk sama rendah, berdiri dama tinggi. Dalam soal keadilan, dalam soal hukum, dan beberapa urusan lainnya prinsip ini harus ditegakkan. Akan tetapi dalam tatakrama pergaulan, ada yang disebut etika.

Dalamsebuah masyarakat, kita jumpai di sana ada orang tua, anak-anak, kerabat, tetangga, sahabat, guru, ulama, dan sebagainya. Masing-masing mempunyai keduudkan sendiri-sendiri, dan harus diperlakukan sesuai kedudukannya.

Orang tua mempunyai hak yang harus dijunjung tinggi. Dalam keadaan yang bagaimanapun juga mereka harus tetap dihormati. Jangan mentang-mentang berpendidikan Barat kemudian memperlakukan orang tua seenaknya. Duduk di depan orang tua sambil mengangkat dan menyilangkan kaki, atau berjingkrak di depan orang tua tanpa permisi.

Semangat demokrasi hendaknya tidak merusak tatanan ini. Di sekolah, murid harus tetap hormat pada gurunya. Jangan karena berprinsip bahwa murid dan guru sama-sama manusianya, kemudian memperlakukan seenaknya saja. Bersikap terhadap seorang guru tidak bisa disamakan dengan memperlakukan kawan sendiri. Inilah etika yang diajarkan oleh Nabi.

Orang-orang yang mempunyai hak khusus, seperti orang tua, guru, ulama, dan pemimpin, harus kita penuhi haknya. Hak orang tua adalah mendapatkan perlakuan yang baik dan kepatuhan dari anaknya. Memperoleh kehormatan dan kemuliaan dari anaknya melalui pengabdian yang setulus-tulusnya. Orang tua juga mempunyai hak untuk dikunjungi secara rutin, bahkan dirawat ketika mereka sudah tidak mampu lagi mengurus dirinya.

Guru, ulama, dan pemimpin juga mempunyai hak khusus. Penuhilah itu. Guru dan ulama sepantasnya dimuliakan, terhadapnya perlu berendah diri (tawadhu’), menunjukkan kefakiran kita terhadap ilmunya, banyak-banyak emndoakan, baik ketika mereka berada di depan kita maupun setelah mereka tidak ada.

Pemimpin mempunyai hak untuk dihormati dan ditaati. Oleh karenanya, mengritik pemimpin tetap harus berada dalam bingkai etika, tidak boleh seperti orang tua memarahi anaknya. Kritik seperti ini sudah tidak pada tempatnya. Control dan koreksi kepada pemimpin itu wajib, tapi menyampaikannya sesuai dengan cara yang tepat juga perlu.

Pejabat, penguasa, atau pemerintah juga mempunyai kedudukan khusus. Kepada mereka Islam mengajarkan agar kita memperlakukan sesuai kedudukannya. Misalnya untuk berkata-kata lembut ketika menyampaikan kritik. Sedangkan Fir’aun yang begitu terkenal kekafirannya, tetap harus dihadapi dengan kasih sayang. Allah berfirman kepada Musa as, “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [QS. Thaaha : 33-34]

Urusan memposisikan orang lain itu bukan persoalan sederhana, sama repotnya dengan menempatkan diri sendiri. Banyak orang yang mematut-matutkan dirinya sesuai dengan subyektivitasnya sendiri, sementara ia sama sekali belum memenuhi standard an kualifikasi yang disepakati secara umum.

Agar bisa memposisikan diri secara tepat hendaknya kita mengetahui sedang dimana kita berada. Di rumah, kita sebagai presiden, di kantor mungkin kita hanya pesuruh. Di kampus kita sebagai rector, di rumah sakit ketika periksa kesehatan maka kedudukan kita adalah pasien. Kedudukan kita sesungguhnya berubah-ubah sesuai dengan peran yang sedang kita jalankan. Karenanya, mestinya kita bisa berperilaku sesuai dengan perubahan kedudukan tersebut.

Terhadap orang lain kita juga harus menperlakukan hal yang sama. Hak-hak orang lain, apalagi yang langsung berkaitan dengan kita, harus kita penuhi, baik dalam keadaan berat maupun ringan, suka atau tidak suka. Jika tidak demikian, ikatan persaudaraan dan silaturahim akan hancur berantakan. Persoalan sepele saja jika kita salah dalam urusan memposisikan orang, akibatnya bisa fatal.

Itulah uniknya manusia. Mereka bukan mesin yang tidak berperasaan. Seringkali perasaan itu bisa mengalahkan pertimbangan rasio dan akal sehatnya. Karena itulah maka Rasulullah jauh-jauh sebelumnya berpesan agar kita bisa bersikap bijaksana. Kebijaksanaan atau hikmah itu adalah menempatkan sesuatu pada porsinya.

Akhirnya, jika kita ingin dikasihi orang maka pandai-pandailah menempatkan diri dan hati-hatilah dalam memposisikan orang lain.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: