Posted by: mediasholeha | September 15, 2012

Bila Suami Ikut Beraksi

Seorang ibu hanyalah manusia biasa, yang punya batas kemampuan. Beban pekerjaan dan pikiran yang melebihi batas akan membuat mentalnya turut sakit pula. Sayangnya, masih banyak orang, baik laki-laki maupun wanita yang tak menyadari hal ini. Mereka msih beranggapan bahwa pekerjaan ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang remeh, ringan dan tak membuat para suami menuntut terlalu tinggi atau enggan mengulurkan tangan untuk membantu istrinya yang kerepotan.

Apalagi bagi yang memiliki banyak anak dengan jarak yang tidak manusiawi (ada yang dalam 4 tahun perkawinan punya 3 anak). Bukankah kondisi yang sudah terlanjur itu juga merupakan tanggung jawab suami? Maka sudah selayaknya jika akibatnya pun ditanggung bersama. Dengan kata lain, sama sekali tak layak jika suami lepas tangan sama sekali dari urusan-urusan rumah tangga yang memberatkan istri.Apakah suami berdalih bahwa urusan rumah tangga itu kewajiban mutlak istri? Apakah benar urusan teknis seperti itu merupakan kewajiban istri kepada suami dan keluarganya?

Banyak hadits yang menerangkan tentang kewajiban istri terhadap suaminya, antara lain kewajiban untuk taat, untuk melayani kebutuhan biologis, untuk menyenangkan hati suami, menjaga diri di pembelakangan suami, serta menjaga hartanya. Di samping itu semua ada satu kewajiban yang lebih utama yaitu mendidik anak. Kewajiban terakhir inilah yang paling sulit, menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran.

Manakala Allah telah berkenan memberikan amanah berupa anak kepada sebuah keluarga, maka kewajiban mendidik anak menjadi lebih utama dari urusan-urusan lain. Dan kita harus paham bahwa untuk serius dalam bidang ini, orang tua akan nyaris tak sempat mengerjakan yang lain.

Keadaan sudah jauh berubah. Karena masyarakat semakin pintar maka kejahiliyahan pun semakin canggih. Untuk menanggulanginya, diperlukan strategi pendidikan yang canggih pula. Ada televise, ada parabola, hingga internet. Jika orang tua tak banyak mengerti, bagaimana bisa ia mengantisipasi?

Begitu banyak yang harus diketahui oleh orang tua dalma kondisi masyarakat seperti ini, hingga untuk mengejar ilmunya saja habis waktu untuk mengikuti seminar-seminar, membaca buku-buku dan konsultasi dengan para ahli. Barulah anak-anak bisa diharapkan menjadi bibit yang unggul. Keadaan sudah seperti ini, jika ibu masih harus berkutat dengan cucian popok dan piring di dapur, kapan bisa berhasil? Mana lebih utama antara cuciam dam pendidikan?

Keadaan sedikit tertolong jika ada orang ketiga yang bisa meringankan pekerjaan. Mungkin ada si sulung yang sudah dewasa dan bisa membantu. Mungkin ada adik atau keponakan yang ikut tinggal bersama, selain pembantu. Jika tidak, mengapa tidak suami yang turun tangan?

Aksi sang suami

Pekerjaan rumah tangga sama sekali bukan pekerjaan afkiran. Nampaknya sepele, tetapi jika tidak ditangani bisa menyebabkan stress, karena menyangkut kebutuhan rutinitas. Mengapa harus malu jika sesekali suami memegang sapu saat istri masih harus menidurkan bayi?

Mengapa tidak berupaya menggoreng telur sendiri ketika di pagi hari istri sibuk memandikan anak-anak? Menjemurkan cucian, memasukkannya setelah kering, atau memasakkan air panas sekaligus mengisis termos adalah pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa dikerjakan oleh setiap laki-laki.

Jika enggan melakukan pekerjaan- pekerjaan teknis, suami bisa mengambil peran dalam menjaga dan mengajak anak bermain. Cukup sederhana dan mudah, tetapi memberikan bantuan sangat besar kepada istri yang segera bisa dengan cepat menyelesaikan banyak pekerjaan tanpa diganggu anak-anak.

Kerja sama seperti ini tidaklah sulit. Bahkan seringkali istri tak terlalu berharap untuk dibantu, melainkan sekedar butuh simpati dari suami. Bayangkan betapa jengkelnya hati istri manakala sedang sibuk memasak sup di dapur, te,pe belum lagi di goreng, teh belum lagi di seduh, piring belum ditata di meja, anak rebut minta dipakaikan baju seragam. Ada yang menangis karena susunya direbut kakak. Padahal waktu tinggal setengah jam lagi. Sementara suami asyik menikmati Koran pagi dengan sedikit komentar, “ Hei..sudah. Tidak boleh ebrebut! Tidak usah nangis!!” tanpa berbuat apa-apa.

Keadaan akan lain jika suami meletakkan Koran sebentar dan mendekati anak yang menangis sambil bertanya,”Adik kenapa saying? Susunya diminum kakak? Kakak kelupaan mungkin. Sudah. Ayah bikinkan lagi, ya?” Atau ayah datang ke dapur dan menyapa istrinya, “Sedang repot? Tak perlu the, air putih saja. Tak perlu tempe juga taka pa. Yang penting anak-anak dulu saja.”

Sunnguh hati istri akan segera menjadi dingin seperti tersiram air surga. Inilah yang dinamakan empati. Suami telah menunjukkan empati, dimana ia Nampak memahami kondisi istrinya. Tanpa turun tangan langsung pun, istri sudah merasa cukup terbantu. Bukankah Rasulullah mencontohkan dengan menjahit sendiri baju yang lubang?

Namun dalam beberapa keadaan, bantuan suami secara langsung benar-benar bisa diperlukan. Bukankah suami bisa mengambil alih pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa ia lakukan? Jika hal itu tetap tak memungkinkan, di mana suami tak memiliki kesempatan untuk meringankan pekerjaan istri, mengapa tidak mencari khadimat?

Keberadaan kahdimat akan sangat banyak menolong, karena ibu terbebas dari beban urusan teknis yang memberatkan, dan bisa memusatkan konsentrasi waktu, tenaga dan pikirannya kepada anak-anak dan mengembangkan dirinya sendiri. Toh kewajiban-kewajiban terakhir ini jauh lebih utama dari pada urusan teknis rumah tangga.

Namun jika ada istri yang ikhlas mengorbankan segalanya demi menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan teknis, akan mendapat pahala tambahan sebagai pengabdiannya kepada keluarga. Dengan catatan, ia tetap bisa menjaga kesehatan mentalnya agar tak sampai mengalami stress, bia juga mengatur waktu sehingga masih tetap memiliki waktu luang untuk mengembangkan diri. Namun yang kembali perlu diingat, penyelesaian urusan teknis rumah tangga adalah beban bersama suami-istri, bukan semata bagian istri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: