Posted by: mediasholeha | September 9, 2012

Menangis bukan berarti cengeng

Ada sebuah tangis istimewa di kancah persiapan perang Tabuk. Perang menghadapi tentara kuat Romawi yang digelar saat musim panas ini memaksa setiap yang ikut untuk memiliki kendaraan. Berjalan kaki sungguh hampir mustahil, karena jauhnya lokasi, yaitu di Syam (Suriah). Di antara kaum miskin yang tak punya tunggangan itulah muncul tangisan sesal. Tujuh orang terpaksa kembali karena Rasulullah menyatakan tidak berhasil membantu member mereka tunggangan. Tangis mereka diabadikan Allah dalam Al-Qur’an :

“dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” [QS. At-Taubah : 92]Tangis ketujuh sahabat ini tentu bukan sembarang tangis. Mereka bukanlah orang-orang cengeng, yang bersedih hati karena kehilangan sesuatu yang dicintainya. Mereka menangis karena tidak bisa ikut berperang, suatu kesempatan emas untuk meraih cita-cita mulia, mati syahid di jalan-Nya. Bagi ummat Islam hanya ada dua pilihan, yaitu hidup di dunia secara mulia, atau mati saja secara syahid.

Tangis ini langka. Di tengah banyaknya orang minta ijin tidak ikut berperang dengan berbagai alas an, justru mereka bersedih karena tidak bisa bergabung dengan kafilah Islam. Saat banyak orang takut mati, mereka malah menyesal kehilangan kesempatan untuk mati. Bagi mereka, perang memang bukan momok yang menyeramkan, karena tebalnya iman.

Tangisan iman tentu berbeda dengan tangisan cengeng. Tangisan iman mempunyai nilai tinggi sehingga pelakunya akan mendapatkan perlakuan istimewa di sisi-Nya. Tangis iman itu terjadi ketika seorang hamba sangat merindukan Kekasih Yang Maha Kasih, yaitu Allah. Ia merindukan segera bertemu dengan-Nya. Salahs atu cara termudah untuk segera bertemu dengan-Nya adalah syahid di jalan-Nya.

Selain tangis karena rindu, ada juga tangis karena khusyu’nya hati dalam dzikir kepada Allah. Tangis seperti ini banyak dibahas dalam al-Qur’an maupun sunnah. Kedudukannya sama dnegan tangis di atas. Ketika mensifati orang-orang yang mendapatkan kenikmatan besar dan menjadi orang-orang yang terpilih, Allah menyebut mereka sebagai orang yang senantiasa bersujud dan menangis. Allah berfirman, “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis..” [QS. Maryam : 58]

Dalam ayat yang lain Allah berfirman,

Tangisan ini tentu saja tidak bisa dibuat-buat , karena lahir dari pikiran yang bersih dan hati yang bening. Hati yang tidak bersih, bisa menangis hanya ketika tertimpa kesedihan mendalam, baik karena kehilangan sesuatu atau karena mengharapkan sesuatu. Tangis yang terakhis bisa dilakukan oleh siapa saja, mukmin maupun kafir.

Orang yang banyak berbuat maksiat hatinya keras. Lebih keras dari batu. Ayat-ayat Allah yang bisa menghancurkan gunung saja tidak mempan menembus hati yang sudah membatu ini. Dari bebatuan yang keras seperti ini tidak bisa diharapkan tetesan air, sebagai symbol kehidupan.

Sebaliknya, mereka yang bersih hatinya, perasaannya menjadi halus, peka. Mudah disentuh, apalagi oleh ayat-ayat Allah. Demikianlah Allah mensifati orang-orang yang beriman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” [QS. Al-Anfal: 2]

Imam Bukhari dan Muslim mencatat dalam hadits shahihnya bahwa ada tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan di saat tiada perlindungan kecuali perlindungan dari Allah. Salah satu di antara tujuh golongan itu adalah mereka yang berdzikir kepada Allah di tempat yang hening dengan kekhusyu’annya hingga air matanya meleleh bercucuran.

Tentang hal ini Allah juga menegaskan dalam firman-Nya, “Mereka meletakkan wajahnya ke tanah untuk bersujud sambil menangis dan bertambah khusyu’.” [QS. Al-Israa: 109]

Orang yang paling bening hatinya adalah Rasulullah, karenanya beliaulah orang yang paling banyak menangis. Ketika putranya meninggal ia tak kuasa menahan air matanya, begitu juga ketika istri kesayangannya, Khadijah dan pamannya, Abu Thalib wafat. Akan tetapi tangisan Rasulullah lebih banyak lagi ketika sudah berkonsentrasi menghadap Allah. Ketika hari bertambah larut, di saat beliau sendirian, ketika mulai menghadapkan wajah, pikiran dan perasaannya kepada Allah, air matanya tak sanggup dibendung. Inilah saat air mata Rasulullah paling sering kali tertumpah.

Dikisahkan oleh ‘Aisyah, suatu malam Rasulullah suntuk menangis dalam keadaan beribadah kepada Allah. Begitu seriusnya tangis Rasulullah hingga seluruh wajahnya basah oleh air mata, demikian juga janggutnya yang tebal. Matanya terlihat sembab saking lamanya. ‘Aisyah yang merasa kasihan kepada suaminya, bertanya kepadanya. “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah mengampunis egala dosamu, baik yang lalu maupun yang akan dating?” Semua pertanyaan itu dijawab “Ya” oleh Rasulullah. “Jika demikian, kenapa engkau menangis suntuk seperti itu?” lanjut ‘Aisyah. Menjawab pertanyaan istri yang penuh perhatian ini beliau malah bertanya, “Tidak wajarkah jika aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?”

Begitulah cara Rasulullah bersyukur kepada Tuhannya. Beliau lebih suka memilih cara yang sangats ederhana, yaitu ruku’ dan sujud sambil meneteskan air mata. Itu memang cara yang paling tepat untuk mengungkapkan rasa syukur, yang mestinya kita tiru dan teladani. “Seseorang yang menangis karena takut kepada Allah tidak akan masuk ke dalam neraka, sampai susu bisa kembali ke teteknya, ataupun onta bisa masuk ke lubang jarum, ” kata Nabi.

Ketika mendapatkan keberuntungan, saat itu juga hendaknya kita bersujud kepada-Nya. Lebih afdhal  lagi jika diiringi oleh tangis kegembiraan. Kita gembira karena telah diberi nikmat Allah dari usaha kita yang sebenarnya tak seberapa. Kita segera ingat, alangkah banyaknya orang lain yang bekerja lebih keras, lebih lama, dan lebih banyak pula pengorbanannya tapi belum memperoleh nikmat seperti yang kita terima.

Tangis seperti di atas akan mengantarkan kita untuk memiliki kepribadian yang santun, tidak sombong, culas, dan egois. Semua kenikmatan yang kita peroleh kita kembalikan kepada Allah, kemudian kita pantulkan kepada hamba sesama.

Di sinilah terletak arti pentingnya menangis. Pertama berfungsi sebagai pembersih hati. Kedua sebagai pengasah kepekaan. Semakin mudah orang menangis, maka semakin peka perasaannya, semakin halus budinya, semakin bersih ahtinya. Sebaliknya, orang-orang yang sulit menangis biasanya keras hatinya, sekeras batu yang sulit ditembus oleh tetesan air, bahkan oleh air bah.


Responses

  1. […] Derita Rohingnya, Buah Nasionalisme dan Ketiadaan KhilafahCicip Ayam Lepas – Rasa Bintang Lima harga Kaki LimaMenangis bukan berarti cengeng […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: