Posted by: mediasholeha | September 7, 2012

Beragam Karakter, Satu Tujuan

“Wanita penghuni surga paling mulia ada empat, yaitu Khadijah binti Khuwaylid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah istri Fir’aun, “kata Rasulullah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.

Ada banyak wanita utama di dunia ini, tapi mengapa Allah memilih empat pribadi ini? Apa keistimewaan mereka? Ternyata mereka mewakili keempat tipe wanita, termasuk wanita modern sekelas Hillary Clinton.

Khadijah, Wanita Tangguh

Tentang keutamaan Khadijah, memang tak lagi perlu diragukan. Ia adalah orang pertama yang mendukung kenabian Muhammad. Ia relakan seluruh hartanya yang berlimpah demi kemajuan Islam. Ia juga baktikan jiwa dan raganya, hingga Allah menakdirkan ia meninggal di tengah-tengah masa perjuangan tanpa sempat menikmati sinar-sinar kejayaan Islam.

Dari sela-sela kisah hidupnya yang amat mulia itu, kita menemukan satu karakter kepribadian khas yang umum dimiliki oleh kaum wanita utama lain.

  1. 1.      Tokoh Masyarakat

Ia disunting pertama kalinya oleh ‘Atiq bin ‘Abid. Begitu sang suami meninggal ia menikah dengan Abu Halah, tetapi harus menjanda kedua kali karena suaminya ini juga meninggal. Setelah itu banyak tokoh Quraisy melamar, namun semua ditolaknya secara halus.

Kedudukannya ditengah masyarakat Quraisy amat terhormat. Bukan karena ketururnan dan harta, melainkan karena kepribadian dan budi pekertinya yang luhur. Ia bahkan dijuluki at-Thahirah, yang berarti Si Wanita Suci.

  1. 2.      Aktif Bekerja

Masyarakat mengenal Khadijah sebagai pedagang yang sukses. Selain memiliki banyak budak laki-laki dan perempuan, Khadijah juga menyewa banyak orang untuk menjualkan barang-barangnya ke luar negeri.

Apakah kesuksesan itu ia peroleh dengan cara mudah? Tentu saja tidak. Tak jauh berbedalah dengan keadaan pedagang lain, yang harus banyak bepergian mencari barang-barang bermutu untuk diperjualbelikan. Selain jeli, pedagang juga harus pandai membangun kerjasama dengan rekanan maupun karyawan.

  1. 3.      Berani dan Percaya Diri

Sebagai istri, Khadijah memberikan dukungan penuh kepada Muhammad untuk menempuh jalan kebenaran, sekalipun tak lazim. Pilihan suaminya untuk mneyepi ke gua Hira’ misalnya, termasuk sangat aneh dan dinilai tak berguna. Bagaimana mungkin seseorang meninggalkan kehidupan nyaman bersama anak istri dengan harta berlimpah, kemudian mengasingkan diri ke sebuah gua di puncak bukit di tengah padang pasir tak berpenghuni selama berhari-hari.

Tapi tanpa khawatir omongan orang, Khadijah dengan setia mengurusi kebutuhan suaminya saat berkhalwat. Jika perbekalan habis, Khadijah akan mengantarkan tambahannya, dan ia harus mendaki tebing terjal yang kemiringannya nyaris 45 derajat. Kadang ia menyertai suaminya dengan mendirikan tenda tak jauh dari bukit dan tinggal di sana.

Khadijah melakukan semua itu hanya dengan satu tujuan; mencari kebenaran yang secara rasio mustahil dating ke tengah-tengah bangsa mereka yang jahiliyah itu. Sebuah tujuan yang tak bisa dipahami orang lain, namun Khadijah berani menentangnya!

  1. 4.      Pengayom

Usian dan pengalaman hidup Khadijah turut berperan menumbuhkan karakter pengayom dalam dirinya. Ketika menikah dengan Muhammad ia berusia 15 tahun lebih tua, dan telah menikah dua kali serta memiliki anak. Secara psikologis, kepribadiannya yang keibuan dan pengayom itu memberikan kasih sayang figure seorang ibu yang tidak diperoleh sempurna oleh Muhammad selama hidupnya.

Secara fisik dan psikologis Khadijah memang memiliki banyak kelebihan disbanding suaminya yang masih ‘hijau’ dalam kehidupan berumah tangga. Ini membuatnya memiliki kedudukan yang cukup dominan dalam rumah tangga, bahkan mampu mengambil peran sebagai pelindung suaminya. Kondisi ini tercermin saat Muhammad mengalami keguncangan karena datangnya wahyu, ia tidak terpengaruh, namun justru mengambil posisi sebagai penyelamat keadaan.

Hebatnya, dominasi yang ia miliki terhadap suaminya itu tetap ia batasi, sehingga tidak sampai merebut kepemimpinan rumah tangga dari tangan suaminya. Sebagai istri shalihah ia mengambil posisi sebagai bawahan yang taat pada keputusan-keputusan suaminya dalma urusan rumah tangga mereka.

Kepribadian Khadijah ini cukup mewakili karakter kaum muslimah secara umum yang aktif dan dinamis, serta memiliki kecenderungan untuk lebih dominan terhadap suaminya. Ternyata Allah memberikan pengakuan dan pembenaran terhadap keberadaan karakter jenis ini, sepanjang tetap berada dalam batas-batas etika Islami.

Bukankah ada muslimah yang aktif bekerja maupun bermasyarakat, ada pula yang memiliki kecenderungan lebih dominan disbanding laki-laki, bahkan mendapat legitimasi dari masyarakat mengenai peran yang ia lakukan sehingga membuat ia mendapat kedudukan terhormat di tengah mereka? Maka ini adalah salah satu jenis karakter kepribadian yang boleh jadi akan mengantar pemiliknya menuju surge, selama diarahkan di jalan Allah.

Tempaan kesengsaraan dan Qanaah Fatimah

Semenjak kecil, kehidupan Fatimah sudah diwarnai oleh duka. Ia lahir sekitar enam tahun masa kenabian ayahnya. Pada saat itu ayahnya sedang aktif berdakwah di tengah masyarakat Quraisy dan mengalami penindasan yang berat dari musuh-musuhnya. Maka keluarganya sibuk berjuang dan mengalami banyak kisah sedih. Fatimah kecil sering melihat ayahnya dihina dan dicerca orang. Bahkan dirinya sendiri pun merasakan langsung ketidaksukaan lingkungan terhadap keluarganya. Sudah begitu, ia harus tertimpa musibah lagi dengan meninggalnya sang ibu saat Fatimah masih kanak-kanak. Kemalangan demi kemalangan itu membuat ayahnya memberikan perhatian lebih banyak disbanding kepada kakak-kakaknya. Maka hubungan batin Fatimah dengan ayahnya sangat erat, hingga akhir hayatnya.

Tidak berhenti hingga di situ, ternyata garis kehidupan menakdirkan Fatimah berjodoh dengan Ali bin Abi Thalib, seorang laki-laki miskin harta. Kehidupan rumah tangganya diwarnai dengan kerja berat dan kekurangan financial. Derita ini harus ia hadapi selamanya, sampai ia meninggal dunia.

Keadaan juga memaksa Fatimah untuk bersabar menghadapi nasib keluarganya. Sekali ia pernah mencoba meminta diberi pembantu kepada ayahandanya, namun ditolak, dan Fatimah pun akhirnya ridha, kembali dengan keadaannya, dan tak lagi menuntut apapun.

Kisah sengsara kehidupan Fatimah binti Muhammad ini mewakili keberadaan segolongan muslimah, yang juga mengalami begitu banyak cobaan kehidupan. Ujian harus mereka terima silih berganti seakan tanpa henti, baik saat sebagai anak maupun istri dan ibu. Jika kemalangan hidup diterima dengan pikiran negatif, maka akan terbentuk kepribadian negatif pula, sehingga seorang wanita mungkin akan cenderung memilih cara haram untuk mempertahankan hidup. Mungkin pula menumbuhkan kepribadian negatif seperti iri, mudah tersinggung dan balas dendam.

Akan tetapi jika meneladani kehidupan Fatimah, maka para muslimah ini akan memiliki kepribadian utama seperti tangguh menghadapi stress, ulet, dan suka kerja keras. Inilah yang akan mengantar golongan wanita berkarakter melankolik ini menggapai surga. Sesekali muncul pemberontakan memang wajar, sebagaimana Fatimah saat meminta pembantu. Asalkan segera diarahkan kembali agar tidak keluar dari jalur kebenaran.

Maryam sang Wanita Suci

Karena keluarga Imran telah menadzarkan bayinya untuk Allah semata, maka semenjak kecil Maryam telah dipisahkan dari kehidupan masyarakat dna hidup semata untuk beribadah kepada Allah di dalam mihrab yang khusus dibangun untuknya.

Kondisi kehidupan seperti ini membuatnya tumbuh sebagai wanita suci yang mata dan telinganua tak pernah menyaksikan maksiat. Karena keutamaannya ini Allah menganugerahinya menjadi Ibu dari ‘Isa as, tanpa melalui proses pernikahan.

Karakter Maryam sangat tepat mewakili segolongan muslimah yang amat hati-hati memelihara kesucian diirnya. Yang sangat membatasi pergaulannya di tengah masyarakat, demi menjaga mata, lidah, telinga, serta seluruh anggota tubuhnya agar sesedikit mungkin menyaksikan kemaksiatan.

Sekilas, mereka Nampak seperti sosok yang enggan hidup bermasyarakat. Orang sering menganggap mereka eksklusif dan tertutup. Padahal, sebenarnya bukan mereka tak mau bermasyarakat, hanya kepribadian mereka yang lebih memilih untuk menyucikan diri itu yang membuat mereka memilih jalan hidup seperti itu. Memang belum semua masyarakat bisa menerima pola hidup wanita seperti ini, namun bagi kita yang menegrti, seyogyanya tak menyalahkan mereka. Bahkan seperti halnya Maryam, selayaknya kita sadari bahwa mereka ini memiliki kelebihan dalam bidang kesucian dan ibadah.

Asiyah, Bertahan dalam Badai

Terakhir, dialah Asiyah istri Fir’aun, yang tak seorangpun di masa Rasulullah mengenalnya, namun kepribadiannya begitu lekat menjadi teladan sepanjang zaman.

Kisahnya sebagai sitri dari suami penguasa yang lalim memang begitu memilukan. Dengan sabar dan teguh hati ia menghadapi suami yang ia cintai sebagai musuh utamanya. Bahkan ia hadapi maut dengan ikhlas hati di tangan orang yang semula ia cintai dan hormati itu.

Ini kasha tragedi rumah tangga yang hingga saat ini masih banyak terjadi, di mana seorang istri dengan posisinya yang lemah dalam keluarga harus menghadapi suami sebagai musuh aqidah maupun akhlaqnya.

Istri-istri mulia seperti Asiyah ini terbelenggu dibalik jeruji rumah tangganya sehingga mereka tak mampu berbuat apa-apa untuk Islam. Namun berkat kehebatan

Sabar dan tawakkalnya, mereka mampu bertahan dalam badai rumah tangganya tanpa melakukan hal-hal terlarang.

Istri-istri seperti ini hidup dalam kesengsaraan. Mereka tak lagi mengharapkan kebahagiaan hidup, selain sekadar berjuang mempertahankan kehidupan rumah tangganya itu demi Allah. Hingga tetes darah terakhir mereka perjuangkan demi menyelamatkan keluarganya.

Saling Melengkapi

Keempat karakter muslimah yang diwakili oleh empat wanita mulia dalam Islam, meluaskan wawasan berpikir kita bahwa perbedaan karakter manusia adalah satu hal yang wajar. Perebdaan karakter inilah yang selanjutnya menghasilkan banyak ijtihad dari satu nash yang sama. Itu sebabnya Allah tak menyalahkan orang yang berijtihad sesuai karakternya, dan tetap memberikan pahala kepada setiap ijtihad, walau ijtihad itu kurang tepat.

Sudah sepantasnya bagi kita muslimah untuk bersatu, saling menghilangkan kecurigaan dan permusuhan antara sesama. Antara yang aktif bekerja, berkarya, dan bermasyarakat, dengan yang memilih bercadar dan berdiam di rumah. Antara yang memiliki dominasi dengan yang tidak.

Justru perbedaan ini akan saling melengkapi tugas manusia sebagai khalifah di bumi. Ada yang berperan dalam social, politik, budaya, atau khusus mendekatkan diri kepada Allah. Keberagaman ini akan membangun struktur kehidupan masyarakat madani yang kokoh dan sejahtera. Aamiin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: