Posted by: mediasholeha | September 5, 2012

Merancang Masa Depan Keluarga

Tak beda dengan lembaga apapun juga, rumah tangga pun sangat penting untuk direncanakan dan ditentukan arahnya sejak awal. Sebab langkah yang sekedar mengikuti takdir ibarat air mengalir, kemungkinan besar akan mengundang penyesalan di akhirnya. Apa saja yang perlu direncanakan, atau setidaknya disepakati oleh pasangan suami istri. Berikut beberapa tahapan di antaranya.

NIAT. Menyamakan niat sangatlah penting, agar nantinya tidak terjadi benturan-benturan tujuan, sasaran serta nilai-nilai sepanjang perjalanan. Pasangan di mana salah satunya sangat religious dan yang lain begitu sekuler akan banyak menemukan kesulitan. Begitu pula jika salah satu tetap konservatif sementara pasangannya liberal. Model pasangan seperti ini akan sering menemukan perbedaan yang menyulut perselisihan hampir di setiap sudut rumah tangga mereka.            Yang terbaik adalah kesadaran dari masing-masing pihak untuk bisa memahami ide dasar yang diyakini pasangannya, kemudian berusaha menyesuaikan diri. Kalau tidak ada kesadaran dari keduanya, berarti salah satu harus ada yang mengalah, lebih banyak bertoleran terhadap ide dasar pasangannya. Jangan ragu-ragu untuk memusyawarahkan bersama perihal perbedaan ide dasar ini.

Islam mengajarkan, bahwa laki-laki adlah qawwam dalam sebuah keluarga. Itu sebabnya, jika perbedaan diantara keduanya tak bisa diselesaikan, yang lebih tepat adalah mengutamakan pendapat suami. Namun tetap diwajibkan suami menghormati pendapat istrinya.

PANDANGAN TENTANG HARTA. Penentuan visi ekonomi bukanlah menentukan pilihan kaya atau miskin, karena ini adalah urusan rezeki pemberian Allah. Tetapi bagaimana membangun mental anggota keluarga menyikapi berbagai kondisi ekonomi yang mugkin terjadi. Pola kehidupan harus memiliki standar baku, tidak terombang-ambing oleh materi.

Yang kaya mendidik diri agar hidup sederhana dan suka bersedekah, sementara yang miskin mengembangkan sikap qona’ah dan menghindarkan diri dari meminta-minta dan dikasihani. Sehingga kleuarga kaya yang tiba-tiba bangkrut tidak mengalami depresi mental. Sebaliknya bila yang miskin tiba-tiba mendapat rezeki nomplok juga bisa mengendalikan diri serta nafsunya.

Tentang harta, yang harus disepakati misalnya tentang penggunaan kelebihan rezeki setiap bulannya. Apakah ditabung saja untuk masa depan, apakah diinfaqkan ke kerabat, atau panti asihan dan lembaga-lembaga Islam, ataukah dibagi rata untuk anak, dsb. Kelebihan rezeki yang dibelanjakan tanpa perhitungan, sekadar menyenangkan hati sesaat, kelak akan disesalkan.

Begitupun bagi keluarga yang masih kekurangan, mengingat kebutuhan hidup di zaman sekarang meningkat amat pesat, juga perlu dibicarakan sumber-sumber pembiayaannya secara baik. Apakah dengan cara meminjam modal, atau mendidik anak-anak mencari pekerjaan, dsb. Tanpa perencanaan, tak menutup kemungkinan aka nada ketimpangan, misalnya pendidikan anak jadi terbengkalai, terjadi pelanggaran syariah, dan sebagainya, sekadar mengejar tertutupnya kebutuhan.

Tentang sumber itu, perlu dirembug halal dan haramnya, syubhat atau bukan, tidak asal jumlahnya banyak. Apakah sitri turut bekerja atau tidak, juga harus dirundingkan bersama, karena ini bisa mengubah wajah sebuah keluarga untuk seterusnya.

SOAL ANAK. Merencanakan memiliki banyak anak ataukah sedikit, adalah pilihan bebas tetapi terikat. Bebas menentukan rencana jumlahnya, tetapi terikat dengan beberapa syarat. Banyak factor yang mesti turut dipertimbangkan. Harus disesuaikan dengan kemampuan mengemban amanah pemeliharaan dan pendidikan anak-anak nantinya.

Secara umum, Islam menganjurkan ummatnya untuk banyak anak. Tetapi yang lebih penting, disyaratkan bahwa rentang jarak antar kelahiran harus setidaknya 2,5 tahun. Inipun masih harus ditinjau dari segi kesehatan dan ekonomi keluarga.

Ada ibu yang menurut pertimbangan kesehatan hanya boleh melahirkan tiga kali. Ada pula keluarga yang secara rasionil hanya mampu membiayai pemeliharaan dan pendidikan bagi dua anak saja. Kondisi khusus seperti ini harus menjadi pertimbangan pula. Anjuran memiliki banyak anak bisa berubah menjadi haram jika dikhawatirkan generasi yang terlahir justru terzhalimi karena tak terpenuhi kebutuhannya.

Perencanaan jarak kelahiran antar anak baik sekali jika dilakukan, kadangkala penundaan hingga 4 atau 5 tahun pun diperlukan jika ternyata potensi ibu sangat diperlukan dimasyarakat sehingga ia dituntut untuk lebih banyak mengabdi dimasyarakat, sementara belum ada yang bisa menggantikannya.

Mereka yang tak pernah berusaha merencanakan kelahiran anak-anaknya, asal mengikuti takdir saja, seringkali menyesal dibelakangan hari. Ini disebabkan karena hambatan yang mengacaukan keluarga belum Nampak di masa anak-anak bayi, tetapi akan semakin terasa seiring dengan peningkatan usia mereka. Orang tua baru menyadari ketidakmampuan mereka mengemban amanah banyaknya anak ketika anak-anak itu sudah berjumlah enam atau delapan. Betapa susahnya!

Perencanaan jumlah dan jarak kelahiran ini adalah praktek dari teori penghormatan terhadap jati diri muslimah dalam Islam. Dengan jumlah dan jarak anak yang terencana, ibu akan lebih sukses mendidik anak, terkurangi beban stresnya, dan tersedia kesempatan memenuhi hak pribadinya sebagai individu, antara lain untuk belajar ilmu pengetahuan dan berkarya dalam masyarakat.

TEMPAT TINGGAL. Bagi kebanyakan keluarga, tempat tinggal termasuk persoalan yang rumit dan berat. Sebab disana ada biaya cicilan, lokasi, lingkungan, suasana, dan banyak lagi. Selain disesuaikan dengan kemampuan, hendaklah tidak dilupakan factor religiusitas dan akses pendidikan masyarakatnya. Tentunya keluarga muslim tidak akan bisa mencapai kondisi ideal bila berada di tengah-tengah kampong penjudi. Bagaimana urusan ibadahnya nanti? Pendidikan anak-anaknya?

Ambil kesepakatan dulu, dan konsistenlah dengan kesepakatan itu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: