Posted by: mediasholeha | March 17, 2012

Saat itu hanya menjadi pengamat

Tidak biasa. Dan memang tidak boleh dibiasakan. Perempuan makan di dipinggir jalan di tempat terbuka. Kurang good jika dilihat. Banyak orang berlalu lalang.

Brakkkk… terdengar suara tabrakan. Sambil makan kami tengok kanan kiri. Sepertinya tidak jauh dari tempat dimana kami makan. Pandangan saya dan kakak langsung tertuju pada trotoar. Benar saja, ada tabrakan. Terjadi sekitar pukul 14.45 WIB antara bapak penjual roti dengan abang tukang bakso. Perlu diketahui bahwa bapak penjual roti itu menggendong kotak berisi roti dan berjalan dengan menggunakan tongkat yang berfungsi untuk meraba jalan. Sedangkan abang tukang bakso mendorong gerobak yang bagian depannya penuh dengan bakso.

Sontak semua roti bapak penjual roti itu bertebaran, dan ia pun jatuh terduduk. Masih dalam keadaan gemetar. Dalam waktu yang cukup singkat sekelompok anak-anak SMA dan orang-orang di sekitar segera membantu memunguti roti. Kebetulan anak-anak SMA itu sedang menunggu dan mencari turis untuk diajak berbincang-bincang. Mungkin tugas dari sekolah karena mereka masih berseragam.Kemudian dituntunlah bapak penjual roti itu untuk duduk dulu. Diberinya minum agar tenang dulu. Abang tukang bakso pun mendekat dan segera meminta maaf. Ia menabrak karena tidak melihat ada orang tepat di depan gerobaknya. Sedangkan pandangannya tertutup oleh tumpukan bakso. Setelah dirasa sudah tenang, bapak penjual roti melanjutkan perjalanan menjajakan roti yang sebelumnya sudah diperbaiki kembali susunannya sehingga rapi.

Meski saat itu bapak penjual roti tertabrak dan terjatuh, ia terlihat tersenyum. Ia tidak bisa melihat seperti kita. Warna-warni alam dan semua ciptaan-Nya. Yang ada hanyalah gelap. Namun tidak begitu dengan hatinya. Ia punya semangat luar biasa yang tidak mau kalah dengan kita. Ingin berusaha dan enggan meminta-minta. Padahal bisa saja ada orang yang dengan mudah menipunya. Membeli roti dan tidak membayarkan uang semestinya. Atau bahkan mengambil roti satu bungkus dari kotak gendongannya. Tapi ia yakin bahwa meskipun ia tidak bisa melihat, Allah melihat semuanya..

Ia mendapat diskon saat hari itu tiba. Hari dimana semua anggota badan kita harus mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya. Yaitu diskon untuk sepasang mata. Karena kebanyakan dosa berawal dari mata.

Yuk, keep syukur… ^^


Responses

  1. merinding saya bacanya ukht😀

  2. 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: