Posted by: mediasholeha | February 27, 2012

Tarbiyatul Aulad

Mengenalkan Allah Kepada Anak

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar.’” (QS. Luqman : 13)

Landasan utama dalam pendidikan anak-anak adalah menanamkan nilai ubudiyah (peribadahan) kepada Allah dalam hati mereka, serta memelihara dan menjaganya dalam diri mereka. Diantara nikmat-nikmat Allah yang diberrikan kepada kita, adalah bahwa seorang anak dilahirkan di atas agama Islam, agama fithrah. Maka hal itu membutuhkan penjagaan dan pemeliharaan serta senantiasa membantu mereka agar tidak menyimpang dan tersesat.

Dari wasiat Luqman kepada anaknya tersebut dapat diambil pelajaran, bahwa adanya kewajiban untuk menanamkan tauhid kepada anak sejak dini. Bahwa Allah itu Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bahwa Dialah pencipta segala sesuatu, pencipta langit, bumi, manusia, hewan, pepohonan, tumbuh-tumbuhan, sungai dan lain sebagainya.Orang tua dapat memanfaatkan situasi tertentu untuk bertanya kepada anak. Misalnya, ketika berjalan-jalan di taman atau di mana pun berada, tentang siapakah pencipta air, sungai, bumi, pepohonan, dan lain-lainnya, untuk menggugah perhatiannya terhadap keagungan Allah.

Masa kanak-kanak bukan masa pemberian beban perintah dan larangan. Namun masa untuk menanam nilai, pelatihan, pengasahan, dan pendidikan agar suatu hari nanti ia sampai pada tahapan kesiapan untuk menerima beban perintah dan larangan pada usia baligh, sehingga ia tidak mendapatkan kesulitan dalam menjalankan kewajiban agama dan siap ketika menjalani kancah kehidupan dengan penuh keyakinan dan percaya diri serta keteguhan. Inilah fungsi yang sangat utama terhadap penanaman nilai kepada anak sejak dini, terutama masalah tauhid.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, dalam kitab Ahkam Al-Maulud, mengatakan, “Ketika anak-anak mulai dapat berbicara hendaklah diajari kalimat ‘Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah,’ agar yang eprtama kali terdengar oleh telinga mereka adalah ma’rifatullah (mengenal Allah) dan mentauhidkannya, dan bahwa Allah yang berada di atas Arsy-Nya senantiasa melihat mereka, mendengarkanperkataan-perkataan mereka, dan Dia senantiasa bersama mereka di mana pun mereka berada.

Bani Israil, dahulu sering sekali memperdengarkan kepada anak-anaknya kata Immanuel, yang berarti Tuhan bersama kita. Oleh karena itu, nama-nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Sekiranya kelak anak itu sudah paham dan mengerti, ia akan tahu bahwa ia adalah hamba Allah, dan bahwa Allahlah Rabbnya.

Abdurrazaq dalam kitabnya Mushannaf  (4/334) meriwayatkan dari Abdul Karim bin Abi Ummayah, ia berkata bahwa Rasulullah mengajarkan kepada anak kecil dari Bani Hasyim ketika ia telah dapat berbicara ayat yang artinya, “Katakanlah segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaanNya, dan Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al Israa’ : 101) sebanyak tujuh kali.

Ibnu Dzuffar Al-Makki mengetengahkan sebuah kisah menarik tentang kecintaan seorang anak dalam mengulang-ulang syahadatain, ia mengatakan, telah sampai kepadaku sebuah kisah bahwa Abu Sulaiman Dawud Bin Nushair Atta-i, ketika menginjak usia 5 tahun diserahkan oleh ayahnya kepada seorang pendidik. Sang guru mulai mendidiknya dengan mengajarkan Al-Qur’an.

Ketika sang anak telah mempelajari surat, Hal Ata Alal Insani (QS. Al-Insan : 1), serta menghafalkannya, maka pada suatu waktu di hari Jum’at sang ibu melihatnya sedang menatap ke tembok dengan merenung (tafakur) sambil menunjuk sesuatu dengan tangannya.

Sang ibu khawatir akan kesehatan mental anaknya, lalu memanggilnya, “Wahai Dawud, bangkit dan bermainlah bersama anak-anak yang lain!” Sang anak tidak menjawabnya. Maka akhirnya ibunya pun mendekati dan menariknya serta mengancamnya, kemudian sang anak berkata, “Ada apa dengan ibu ini? Adakah sesuatu yang tidak berkenan pada ibu? “Sang ibu balik bertanya, “ Ke mana pikiran kamu?” Ia menjawab, “Sedang bersama hamba-hamba Allah.” “ Dimana mereka?” “ Di surga,” jawabnya. “Sedang apa mereka?” Sang ibu kembali bertanya. Maka ia pun menjawab, “Di dalamnya mereka berteleka di atas dipan. Di dalamnya mereka tidak merasakan teriknya matahari dan tidak pula merasakan dingin yang menusuk.” (QS. Al Insan : 13). Dengan perenungan yang mendalam ia terus membaca ayat-ayat berikutnya hingga sampai pada firman Allah yang artinya, ”Dan perbuatanmu tentu akan sidyukuri (diberi balasan).” (QS. AL Insan :22)

Sesudah itu sanga nak melontarkan pertanyaan kepada ibunya, “Wahai bunda, apakah sebenarnya yang telah mereka perbuat?” Maka sang ibu pun tidak mampu menjawabnya. Dan sang anak berkata, “Tinggalkan sejenak diriku ini hingga aku selesai bertamasya mengunjungi mereka.” Setelah itu, ibunya bangkit kemudian membawanya kepada sang ayah untuk diberitahukan perihal anaknya. Sang ayah pun berkata kepada si anak, “Wahai Dawud, anakku, amal mereka dahulu adalah mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.’” Maka Dawud pun mengulang kalimat ini pada sebagian besar waktu yang ia punya.

Karena itu, wasiat Nabi kepada Muadz, sebagaimana tersebut dalam riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad bahwasannya Rasulullah bersabda, “Nafkahilah keluargamu sesuai dengan kemampuan yang engkau miliki, dan janganlah kamu angkat tongkatmu di hadapan mereka serta tanamkanlah pada mereka rasa takut kepada Allah.”

Sejak pertama kali mendapat risalah ini, Rasulullah tidak pernah menjauhkan anak-anak dari keimanan. Bahkan, beliau telah melampaui batasan yang sempit pada wilayah ruang dakwah golongan tertentu dan beliaupun bertolak menemui Ali Bin Abi Thalib saat itu ia belum mencapai umur 10 tahun untuk mengajaknya beriman, maka ia pun mengimaninya dan sennatiasa keluar menemani beliau dalam melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi di lembah Mekah, sampai-sampai tidak diketahui oleh keluarganya bahkan ayahnya sekalipun.

Ayah Ali, Abu Thalib, pernah mendapati keduanya sedang mengerjakan shalat, maka ia berkata pada Rasulullah, “Wahai anak saudaraku, agama apakah yang sedang kau anut ini?” Maka Rasulullah menjawab, “Wahai pamanku, ini adalah agama Allah, agama para malaikatNya, agama para RasulNya dan agama bapak kita Ibrahim. Allah telah mengutusku sebagai seorang Rasul kepada para hamba, dan engkaulah orang yang paling berhak untuk aku ajak kepada seruan ini serta membantuku dalam urusan agama ini.”

Adapun orang pertama yang masuk Islam dari kalangan budak yang dimerdekakan adalah Zain Bin Haritsah. Ia dibawa oleh paman Khadijah, yaitu Hakim bin Hizam, sebagai tawanan dari Syam. Lalu ia diambil oleh Khadijah sebagai pembantu dan Rasulullah memintanya dari Khadijah, lalu memerdekakannya serta mengangkatnya menjadi anak dan mendidiknya di tengah-tengah mereka.

Demikianlah Rasulullah memulai dakwah beliau yang baru dalam menegakkan masyarakat Islam, dan beliau memfokuskan perhatiannya terhadap anak-anak dengan cara memberikan bimbingan, dengan mendakwahinya, dan mendo’akannya. Sehingga terbukalah hati Ali Bin Abi Thalib sebagai tameng Rasulullah dengan tidur di rumah beliau pada malam peristiwa hijrah. Ini adalah tarbiyah nabawiyah kepada anak-anak yang sedang tumbuh agar mereka menjadi pemimpin di masa depan serta menjadi peletak dasar masyarakat Islam yang baru.

Setelah pengenalan terhadap tauhid, selanjutnya adalah cinta kepada Allah. Dengan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang dikaruniakan Allah untuknya dan untuk keluarganya. Misalnya, anak ditanya, “ Siapakah yang memberimu pendengaran, penglihatan, dan akal? Siapakah yang memberimu kekuatan dan kemampuan untuk bergerak? Siapakah yang memberi rizki dan makanan untukmu dan keluargamu?” Demikianlah, ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang nyata dan dianjurkan agar cinta dan syukur kepada Allah atas nikmat yang banyak ini.

Metode ini disebutkan dalam Al Qur’an, banyak ayat-ayat yang menggugah minat para hambaNya agar memperhatikan segala nikmat yang dikaruniakanNya, seperti firmanNya, yang artinya “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kepentinganmu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmatnya alahir dan bathin.” (QS. Luqman : 20)

“Hai manusia, ingatlah akan nikamt Allah kepadamu adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepadamu dari langit dan bumi.” (QS. Fathir : 3)

“Dan karena rahmatNya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karuniaNya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepadaNya.” (QS. Al Qashash) : 73

[sumber : SwaraQuran ]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: