Posted by: mediasholeha | December 8, 2011

Masa kecilku dulu…

Masa lalu tidak selalu kelabu. Begitulah sekiranya jika mengingat masa kecilku dulu. Ada semangat mengharu biru. Semangat untuk menuntut ilmu. Penuh asa menggapai cita. Di desa yang jauh dari keramaian massa.

Ada rasa rindu untuk bisa hadir ke rumah guru (ngaji). Di lingkungan yang masih kental dengan nuansa NU. Tapi tak mengapa karena toh dulu saya belum mengerti masalah itu. Yang saya tahu adalah berangkat mengaji dan belajar. Belajar tentang sholat, akhlak, fiqh, Al-Qur’an, dll. Masih teringat jelas siapa guru yang mengajari sholat, siapa yang menghadiahi mukena saat pertama kali bisa sholat, siapa teman-teman ngaji, dan semua kenangan bersamanya…

Walaupun di luar sedang hujan, walaupun sedang tidak enak badan, tetap berangkat mengaji karena takut ketinggalan dengan teman-teman. Beramai bersama-sama berangkat mengaji. Satu sama lain saling menghampiri.

Pernah suatu ketika saya dan kakak tidak diizinkan berangkat mengaji. Hal itu karena bertepatan dengan ulangan umum catur wulan. Ibu dan ayah menyampaikan bahwa mengaji itu selamanya. Sedangkan ulangan umum cuma seminggu. Jadi ngajinya libur dulu. Kami tidak setuju karena nanti ketinggalan dengan teman-teman dan mengaji itu tidak mempengaruhi nilai. Orangtua kami memang orang awam, tapi cukup peduli dengan ilmu dunia dan ilmu agama. Akhirnya mereka memutuskan untuk membolehkan mengaji asal nilai tetap bagus. Alhasil nilai kakak memang tetap bagus, ranking satu. Kalau saya mah biasa-biasa aja. Dapat peringkat 3 besar itu sudah good. Hehehe…

Guru ngaji kelompok kakak (kelompok remaja) meninggal karena sakit. Dan guru ngaji saya (kelompok anak) menikah dan sudah pindah ke rumah baru. Akhirnya kelompok kakak mengaji di mushola selisih 3 rumah ke selatan, dan kelompok saya mengaji di mushola selisih 10 rumah ke utara. Kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa. Hanya saja beda gurunya.

Guru yang sedikit pun tak pernah menerima bayaran, apalagi meminta?. Benar-benar suka rela. Meskipun pada awalnya menjadi pembicaraan orang-orang karena celananya yang takut kebanjiran (congklang). Namun tentunya tidak menjadi penghalang baginya untuk terus menebar kebaikan. Dengan kesabaran itulah ia mampu tetap eksis hingga sekarang.

***Meneruskan PR cikgu Niefha dan cikgu Asih tentang zaman SMP

Zaman SMP saya sebenarnya sudah saya ceritakan pada postingan yang lalu dengan judul “Sahabat yang terlupa”. Masih ada yang kurang karena disana baru saya ceritakan tentang sahabat saja.

Kris dan Sam

Sedikit mengulang, waktu SMP saya mempunyai sahabat bernama Kris dan Sam. Kami sering berangkat dan pulang sekolah bersama. Bahkan ketika salah satu dari kami ada yang ban sepedanya kempes, maka kami akan menemaninya berjalan sampai ketemu bengkel dan menunggui sampai selesai ditambal. Maklum belum punya hp saat itu…

Pembawa alat masak

Karena rumah saya terhitung lebih dekat dengan sekolah dibandingkan teman-teman, maka jadilah saya yang sering ditugasi membawa alat-alat masak ketika jadwal tata boga. Masakan yang pernah kami buat antara lain: pastel, bakmi goreng, bolu kukus, nasi kuning, nastar, onde-onde kembang, klepon, dll. Rasanya tidak jauh beda dengan masa SD dulu. Pembawa alat masak juga. Biasaya setiap selesai ujian akhir catur wulan, kelas 4-6 lomba memasak. Bedanya waktu SD lebih ke sayur dan lauk. Sedangkan masa SMP lebih bervariasi dan hampir tiap 2 pekan sekali.

Kamu harus bisa

Pernah merasa ga enak ketika semua guru tahu kalau kakak-kakak saya pintar. Sedangkan saya… biasa aja. Paling bagus dapat ranking satu di kelas. Belum pernah seumur-umur dapat peringkat satu sesekolah. Karena itulah saya dituntut untuk bisa. “Lha mbakmu aja bisa kok, masa kamu ga bisa…”, kata pak guru. Ting tong ting tong… dalam hati saya, rasanya gemes. Sampai-sampai ibu saya tidak yakin kalau saya bisa masuk ke SMA yang katanya favorit. Akhirnya masuk juga. Hehe…

Suka menggambar

Waktu kelulusan sekolah, ada pentas seni dan pameran hasil karya anak-anak. Yang paling banyak adalah gambar yang saya buat. Ada pemandangan, bunga-bunga, kaligrafi, dll. Ternyata saya punya bakat yang terpendam saudara-saudara…. Hihihi…


Responses

  1. ok indah…bisa membayangkan…dua bersaudara mba mini and atik😀

    *jadi ingat zaman mengaji dimasa kecil…seru antara TPA dan madrasah rumah sendiri…diajari bapak langsung*

  2. iya mbak… betul… semoga kita tetap istiqamah saat ini hingga nanti…
    di akhir usia, husnul khatimah.. aamiin…^__^

  3. waaah.. adek kakak ternyata sama pinternya yak..
    seumur-umur mbak cuman ngerasain ada di ranking satu tuh waktu kelas 1 cawu I. habis tuh gak lagi.. hehe..
    *alhamdulillah lah yah, pernah dapet ranking satu. hohoho

    (jadi pengen ikut kuis ranking 1 di trans tv.. *loh?)

  4. ^__^
    alhamdulillah…
    hehe.. daftar aja mb. Nanti kita jd supporternya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: