Posted by: mediasholeha | May 9, 2009

Aku Mencintaumu karena Allah

CINTA. Semakin cinta, semakin susah untuk didefinisikan. Rela melakukan apa saja untuk yang dicintainya. Yang semula lemah, bisa jadi menjadi kuat karena kekuatan cinta itu. Itulah Allah yang Maha Pemilik cinta. Yang menjadikan kita cinta kepada makhluk yang lain. Sudah semestinya kapasitas cinta kepada Allah lebih besar dibandingkan dengan makhlukNya. Bahkan cinta kepada Allah 100%. Karena cinta kepada Allah tak terbatas ruang dan waktu. Ialah cinta sejati. Cinta di atas cinta.

Sering aku menerima sms dari kakak atau teman-teman putri, ” luv u coz Allah” atau ”ana uhibbuki fillah”. Yup, bener banget kan…. Bahwa kita mencintai dan membenci sesuatu itu karena Allah. Mencintai ini tidak melulu berupa makhluk, tapi bisa juga keimanan, kebaikan, ayat-ayat Al Qur’an, dll. Sedangkan membenci di sini lebih pada perbuatan dosa dan ma’shiyat. Misalkan kita punya teman yang suka berbuat ma’shiyat. Yang seharusnya kita benci adalah pebuatan ma’shiyat itu, kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan, bukan orangnya. Dengan orangnya tetap baik, sembari mengingatkan dan menasehatinya bahwa perbuatan ma’shiyat itu akan membuatnya jauh dari Allah dan bisa membawanya ke neraka.

31. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Ali Imran : 31)

7. Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.
(QS. Al Hujurat : 7)
Cinta dan keimanan itu erat hubungannya dengan perasaan. Seperti yang disampaikan Ustad Anis Matta dalam bukunya yang berjudul Arsitek Peradaban : ”Perasaan adalah penghuni rumah hati kita. Tabiat kepenghuniannya seperti tabiat kepribadiankita. Kadang ia menjadi penghuni yang baik. Di lain waktu ia menjadi penghuni yang nakal. Kadang ia bergemuruh bagai gelombang. Kadang ia melambai-lambai bagai riak-riak kecil. ’Jangan sekali-kali meremehkan perasaan.’ Kata Syekh Ali At-Thanthawi. ’Sebab manusia menjadi manusia dengan perasaannya. Ia adalah tempat persinggahan dua hal yang tersuci di dunia ini : iman dan cinta.’”


Responses

  1. Semoga Allah menjadikan dalam hati kita kecintaan kepada keimanan dan orang-orang yang beriman. Amiyn. Sesungguhnya seseorang itu nantinya akan dibangkitkan bersama dengan orang yang dicintainya.

  2. Yang kupahami Cinta itu memberi tanpa pamrih. Butuh energi besar untuk bisa mencintai dan proses mencintai karena Allah adalah proses tersendiri tanpa henti sampai kita mati seperti halnya kita sedang mengenal Allah itu sendiri.

  3. wah menarik…ane copy di blog ana yah…syukron…

  4. silahkan.. =)

  5. SAMA.SAMA ALUMNI SMP N1 BOGOREJO MBAK

  6. he em… tapi siapa ya? =)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: