Bahlul [1]

Namanya Bahlul ibn Rasyid Al Qairuwany. Engkau harus tahu, ia adalah seorang ahli ibadah yang zuhud dan wara’. Semua orang tahu itu. Tapi negerinya sungguh jauh. Di ujung barat benua Afrika. Tepatnya di sebuah kota bernama Qairuwan. Namun kisahnya sungguh mengagumkan.

Hari itu tiba sepucuk surat yang ditujukan kepada Bahlul ibn Rasyid. Surat daris eorang wanita. Namun bukan siapa-siapa. Bukan istri atau kerabat. Surat itu datang dari negeri yang sangat jauh. Samarkand Khurasan. Untuk kesana engkau harus melintasi Baghdad, menyebrangi sungai Eufrat hingga nyaris tiba di bumi Allah bernama Afganistan. Sungguh jauh…. Bayangkanlah berapa jarak waktu yang menghantarkan surat itu hingga tiba di hadapan Bahlul bin Rasyid. Pastilah demi sesuatu yang begitu penting.

Bahlul memandang surat itu sebentar. Lalu membukanya.

Dari seorang wanita di Tanah Samarkand Khurasan.

Tuan,

Aku pernah mengalami sebuah penyakit kejiwaan. Tidak seorang pun yang mengalaminya, kecuali aku. Namun aku kemudian bermohon kepada Allah agar disembuhkan dari penyakit ini. Dan akupun disembuhkan. Akupun beribadah dan tenggelam di dalamnya. Lalu aku pun bertanya kepada orang-orang tentang siapakah gerangan ahli ibadah yang masih tersisa di muka bumi ini. Padaku diberikan 4 nama. Dan salah satunya adalah Anda, Tuan Bahlul…

Karena itu aku menulis surat ini kepada Anda. Aku minta kepada Anda, demi Allah, berdoalah kepada-Nya agar ia melanggengkan nikmat beribadah ini padaku untuk selamanya….”

Tiba-tibsa saja, surat itu terlepas dan jatuh dari tangan Bahlul. Tangannya gemetar. Dan ia sendiri menyungkurkan wajahnya ke tanah. Dan menangis tersedu-sedu. Begitu tersedu-sedu, hingga membasahi surat yang telah terlebih dahulu jatuh….

Murid-murid dan sahabat-sahabatnya hanya diam terpaku, tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi.

“Duhai, Bahlul…, “tiba-tiba sang ‘abid yang zuhud itu berbicara pada dirinya sendiri. “Tidakkah engkau lihat, seorang wanita dari Samarkand Khurasan mengirim surat padamu??! Ia mengira engkau seorang hamba yang shaleh… Duhai, betapa celakanya engkau, jika saja Allah tidak menutupi semua aib-aibmu, sungguh betapa celakanya engakau….”

Ia terus mengulang-ulang kalimat itu, seraya menangisi dirinya sendiri.

Hmmm, jika engkau mencari seorang manusia yang cerdas dan berakal, maka seperti itulah sesungguhnya manusia yang berakal itu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers

%d bloggers like this: